Tinggal dalam Tuhan dan Menghasilkan Buah Berlimpah

Injil Yoh 15:1-8 menceritakan pernyataan diri Yesus sebagai pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya. Kita hanya bisa berbuah kalau tinggal dalam Dia dan tidak terpisah dari Dia. Dalam tradisi teologi Katolik, Tuhan Yesus dipahami sebagai sakramen pokok dan sakramen-sakramen lain mengambil bagian dalam sakramen Pokok tersebut. Hal ini bisa dibandingkan dengan gelar Yesus sebagai Anak Allah (huruf besar) dan kita sebagai anak-anak Allah (dengan huruf kecil). Jati diri kita sebagai anak-anak Allah tidak bisa dilepaskan dari Sang Pokok Anggur Tuhan Yesus sendiri. Oleh penebusan dalam pembaptisan, kita dianggkat menjadi anak-anak Allah. Kita sebagai anak-anak Allah itu seperti ranting-ranting yang harus selalu tinggal dan bersatu dengan Yesus Sang Pokok Anggur.

Dengan bersatu dan tinggal dalam Yesus, anak-anak Allah akan menghasilkan buah-buah berlimpah: persatuan, persaudaraan, doa- doa dan perdamaian. Tokoh Paulus dan Barnabas dalam Gereja perdana (Kis 9: 26-31) memberikan teladan bagaimana sebagai anak-anak Allah dan murid-murid menghasilkan buah persatuan dan perdamaian di tengah berkembangnya anggota-anggota Gereja perdana dengan perbedaan latar belakang suku, adat, tradisi dan budaya. Paulus dan Barnabas menemui para rasul dan para penatua Yerusalem sehingga menghasilkan buah persatuan Gereja perdana. Dari buah-buah kebaikan yang dihasilkan, kita juga akan dikenal sebagai murid-murid Tuhan dan anak-anak Allah yang selalu memancarkan buah-buah positif dalam kehidupan.

Kita umat beriman dewasa ini baru akan dikenal sebagai anak-anak Allah apabila dalam kesatuannya dengan Tuhan menghasilkan banyak buah-buah positif yang berlimpah. Dari ranting-ranting yang berbuah banyak tersebut kita juga akan dikenal sebagai murid-murid Yesus Sang Pokok Anggur. Di situlah Allah Bapa dipermuliakan dan kamu adalah murid-murid-Ku (Bdk Yoh 15:8). Di tengah masyarakat yang masih harus bergulat dengan dampak pandemi, buah-buah solidaritas, usaha-usaha ekonomi untuk bertahan hidup dan tetap berpartisipasi menjaga kesehatan menjadi tugas mulia sebagai anak-anak Allah dan murid-murid Tuhan. Sehati sepenangungan dengan masyarakat yang kurang beruntung serta berbagi melalui kepedulian dan kebersamaan dengan yang lain menjadi perpanjangan tangan karya penyelamatan Tuhan bagi semua orang. Oleh karena itu kita perlu selalu memohon kepada Tuhan agar tetap senantiasa tinggal dalam Tuhan. Karena dengan tinggal dalam Tuhan, kita menghasilkan banyak buah-buah karya positif sehingga Bapa dipermuliakan dan kita sebagai anak-anak Allah dan murid-murid Tuhan dikenal serta semakin dicintai oleh tetangga ataupun masyarakat sekitarnya.

Penulis : Andreas Yumarma

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments