Takut akan Tuhan - Keutamaan Hidup Kristiani

Kolom katekese edisi minggu ini mengusung tema “Takut akan Tuhan” yang terinspirasi dari Injil Matius (10:26-33) mengawali masa Biasa dalam lingkaran Tahun Liturgi Gereja di tahun 2020 ini. Warna istimewa yang menciri khaskan masa ini adalah ‘hijau’ sebagai simbol kehidupan yang dinamis, mewaktu dan kontekstual. Pertumbuhan dan perkembangan di satu
pihak, dan pergumulan mengatasi aneka kesulitan dan tantangan. Keberadaan Kristiani menjadi suatu perjalanan hidup, penuh keberanian mengarungi samudera kehidupan yang bergelombang karena kekuatan dan keutamaan hidup yang dimiliki.

Dinamika kehidupan kiranya mengingatkan kita bahwa peziarahan ini merupakan jalan rohani sebagai murid-murid Tuhan, alias sebagai orang beriman kristiani. Maka menjadi jelas, dimanakah dasar pijak keberadaan kita, tumpuan kekuatan di sepanjang perjalanan ini, serta kemana arah dan tujuan akhir peziarahan ini. “Mengenal dan mencintai Allah” ditempatkan sebagai Bagian I dari keseluruhan isi Katekismus Gereja Katolik (KGK). Dasar dari kehidupan manusia adalah kehendak bebas dari Tuhan untuk menyatakan diri-Nya melalui ciptaan-Nya termasuk manusia. Bahkan Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri (Kej. 1:26-27) dan Tuhan menghendaki supaya manusia sejak semula mengalami kebahagiaan dalam kasih-Nya. Maka kehidupan dalam Tuhan mulai dari hidup di dunia ini sampai pada kepenuhannya dalam hidup abadi melulu adalah penyelenggaraan dan panggilan Tuhan kepada manusia.

Penyelenggaraan Tuhan dalam kasih-Nya kepada manusia diajarkan oleh Gereja sebagai keutamaan atau kebajikan hidup bagi setiap orang beriman kristiani. Inilah 3 keutamaan teologal yang kita yakini berasal dari Tuhan, yaitu iman, harapan dan kasih (KGK, 385).

Keutamaan Iman (KGK, 386) merupakan keutamaan teologal, melaluinya setiap kita percaya bahwa kita berasal dari Tuhan, dan sekaligus mempercayai penyelenggaraan Tuhan dalam hidup kita. Manusia percaya kepada Tuhan yang mengatasi segala sesuatu (transendensi Tuhan), tetapi sekaligus percaya bahwa Tuhan selalu hadir dekat dengan kita (imanensi Tuhan). “Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus, ….dengan darah Kristus…” (1Ptr. 1:16). Tuhan adalah gembala kita sehingga takkan kekurangan hidup kita (bdk. Mzm 23:1-6). Dengan iman, manusia selalu mau mendekatkan dirinya kepada Tuhan dalam segala situasi, baik untung maupun malang, sehat maupun sakit, dan selalu berusaha mencari kehendak-Nya.

Keutamaan Harapan (KGK, 387), melaluinya kita berada dalam kerinduan untuk kemuliaan hidup bersama Bapa dan para kudus di surga; dengannya kita tidak pernah cepat menyerah, melainkan memiliki keberanian hidup karena berada dalam ‘takut akan Tuhan’, bersandar pada rahmat dan kekuatan ilahi dalam Roh-Nya (Luk. 12:22; Luk. 12:29; Mat. 10:19; Flp. 4:6).

Keutamaan Kasih (KGK, 388) menjadi buah dari kedua keutamaan sebelumnya, karena ketiganya tidak dapat dipisahkan. Hidup yang takut akan Tuhan akan mengarahkan kasih kita
kepada Tuhan sebagai Bapa kita dan memancarkannya dalam sikap dan perilaku baik kepada sesama maupun segenap ciptaan Tuhan. “Cinta kasih adalah pengikat kesempurnaan” (Kol.3:14). Tanpa cinta kasih, “sama dengan gong yang berkumandang dan canang gemerincing” dan “aku sama sekali tidak berguna” (1 Kor. 13:1-3). “Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih” (1Kor 13:13).

Akhirnya, Hidup ‘takut akan Tuhan’ dalam bingkai keutamaan teologal akan melahirkan keberadaan hidup yang utuh dan mulia, jasmani dan rohani, terbuka kepada Tuhan dan sesama melalui aneka keutamaan hidup yang membahagiakan diri dan orang lain, maupun lingkungan hidup di bumi, ‘rumah kita bersama’.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments