Takut akan Tuhan

Saudari/a yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus,  pada Minggu pekan biasa ke XII ini, kita kembali mau mendengarkan dan merenungkan sabda Tuhan lewat bacaan injil Matius 10:26-33.

Bacaan yang kita renungkan hari ini, Yesus memberikan penguatan kepada para murid-Nya untuk tidak takut atas ancaman, penganiayaan dan bahaya yang akan mereka alami dalam perutusan. Para murid diperintahkan Yesus untuk tidak takut (ayat 26,28,31). Kita pun dipanggil dan diutus menjadi nabi dan saksi Kristus. Pertanyaannya : mungkinkah murid Tuhan menjalani panggilan memberitakan kerajaan surga tanpa masalah dan rasa takut?

Sebagai manusia yang lemah dan tidak sempurna, rasa takut selalu ada dalam diri kita dalam berbagai bentuk. Salah satunya dalam rangka memerangi virus COVID-19 kita diminta untuk jaga jarak, hindari kerumunan, tetap dirumah, sering mencuci tangan dan sebagainya, yang tentunya membuat kita merasa tidak nyaman dan ketakutan sentiasa merasuki kita. Sebagai pribadi yang diutus kita juga diminta tidak takut. Mengapa? Karena Tuhan berkuasa atas diri kita (10:28) sebab Tuhan memandang kita berharga (10:31) dan Tuhan bangga dengan kita (10:32).

Paus Fransiskus juga tidak takut mati ditembak karena mewartakan kerahiman Tuhan. Ketika berkunjung ke negara lain, Paus malah menolak memakai mobil anti peluru. Manusia tinggal di dunia yang diperbudak oleh rasa takut. Disini Yesus mau membebaskan kita dari segala ketakutan dunia dan memberi kita pengertian rasa takut untuk membebaskan kita dari ketakutan dunia. "... dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa : takutlah kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh dalam neraka". (Mat 10:28)

Yesus bukan mencampuradukkan “Takutlah’ dengan “Jangan takut”. Karena dalam kasih tidak ada ketakutan. Yesus mau supaya kita benar-benar tahu apa yang seharusnya kita takuti, kalau kita takut akan penganiayaan dan kematian. Tapi ada yang lebih menakutkan yaitu Bapa yang berkuasa. Namun perlu kita paham TAKUT AKAN TUHAN harus dipandang dalam perspektif yang benar.

Takut akan Tuhan berbeda dengan takut terhadap orang jahat atau takut terhadap situasi, benda, kejadian atau ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu. Tapi takut akan Tuhan adalah takut yang penuh ketakjuban atas kuasa dan kemahaan Tuhan dalam hidup orang yang percaya, sehingga timbul keinginan untuk taat dan tunduk hormat kepada-Nya.

Bapa akan selalu di pihak kita bila kita berserah kepada-Nya. Dia yang peduli pada burung pipit sudah pasti peduli pada kita. Semakin kita dekat dengan Allah, semakin baiklah kita. Hal tersebut mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik sebab ketika Tuhan mengatakan bahwa kita harus takut pada Allah, Dia juga mengatakan bahwa Dia “seorang” Bapa yang sangat mengashi kita anak-anak-Nya.

Dengan demikian kita menyeimbangkan yang baik antara rasa takut dan cintakasih yang membuat kita tidak takut berkata jujur, bertindak jujur dengan pribadi yang kita kasihi dan mengarah kepada rasa takut bila kita menyakiti perasaan orang sekitar kita, takut menjadi egois atau tidak jujur dan tidak setia. Cinta kasih yang sejati mengandung suatu rasa takut yang membawa kita kepada hidup sesuai kehendak Bapa.

Penulis : Sr. Loren, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments