Sukacita Paskah

Pagi-pagi sekitar Kebangkitan
Kita tidak tahu kapan (jam berapa) Yesus yang wafat beralih dari kubur memasuki kehidupan yang mulia. Yang kita tahu dari bacaan Minggu Paskah (Yoh.20:1-9) adalah bahwa peristiwa itu terjadi pada hari Minggu (ay 19 hari pertama “sesudah Sabat”). Saat “pagi-pagi benar ketika hari masih gelap”, Yesus sudah tidak ada dalam kubur. Maria Magdalena menghadapi kenyataan “batu telah diambil dari kubur” sehingga dia berpikir “Tuhan telah diambil orang”. Entah berapa jam/menit sebelumnya. Karena itu ia segera mendapati Petrus dan murid yang dikasihi Yesus. Ketika kedua murid Yesus ini datang ke kubur, mereka menemukan kenyataan lain “kain kafan tergeletak di tanah dan kain peluh tidak dalam posisi semula”.

Bagaimana suasana hati ketiga saksi pertama kebangkitan? Tampaknya Petrus belum mengerti (ay 9). Murid yang dikasihi Yesus/murid yang berlari lebih cepat (umum dimengerti sebagai Penginjil Yohanes), menjadi “percaya” (ay 8). Maria Magdalena “menangis” tidak ingin cepat beranjak dari tempat itu. Namun ketika namanya disebut oleh orang yang dia pikir sebagai “Tukang Taman” (ay 16), Maria Magdalena menyadari kehadiran Yesus dan segera mengabarkan kepada para murid, “Aku telah melihat Tuhan”.

Yesus di tengah Para Murid
Bacaan Minggu ini (Yoh.20-19-31), merupakan kisah lanjutan, terjadi pada hari yang sama, ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu (ayat 19). Petrus sudah melihat langsung sejumlah kenyataan baru di pagi hari. Murid yang dikasihi Yesus sudah “mulai percaya”. Para murid lainnya juga sudah mendapat berita dari Maria Magdalena. Namun di saat berkumpul di malam hari, kegelapan masih meliputi hati mereka. Mereka tidak beranjak dari ketakutan. Pintu rumah mereka “terkunci”. Hal ini menunjukkan bahwa kebangkitan Yesus belum banyak mempengaruhi semangat mereka. Di saat itulah, Yesus datang menguatkan mereka. Dia menunjukkan tangan dan lambung-Nya, sehingga mereka “bersukacita” (ay.20).

Yang menarik adalah pengalaman sukacita berjumpa dengan Yesus tidak serta merta membawa perubahan dalam hidup mereka. Sampai delapan hari setelah pengalaman istimewa itu (ay 26), mereka tetap dalam suasana ketakutan. Wajar kalau Tomas, teman mereka yang tidak hadir minggu sebelumnya berkata, “Sebelum aku melihat bekas paku pada
tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya”. Seandainya mereka tidak lagi dalam ketakutan, Tomas tentu akan lebih mudah percaya akan warta mereka, “Kami telah melihat Tuhan “ (ayat 25).

Yesus Maharahim
Bertolak belakang dengan sikap para murid yang lamban percaya, atau percaya namun cara hidupnya tidak juga berubah, Yesus tidak henti-henti mencoba menghidupkan ingatan mereka. Sambil menunjukkan bekas paku pada tangan-Nya serta lambung-Nya yang tertikam, Ia menyapa mereka dengan janji yang Ia ungkapkan sebelumnya (Yoh.14:7), “Damai sejahtera bagi kamu”. Hal itu Ia ungkapkan tiga kali, yakni dua kali dalam pertemuan minggu pertama (Yoh 20:19.21), dan disempurnakan dalam pertemuan kedua yang juga dihadiri oleh Tomas alias Didimus (Yoh 20:26).

Ucapan “Damai Sejahtera” sebanyak tiga kali ini kiranya mau menujukkan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti menerima umat-Nya. Dalam diri Yesus, sungguh nyata Kerahiman Allah. Yesus yang hadir saat ini adalah Yesus yang dulu bersama mereka, tetapi bukan “sekedar hidup kembali seperti Lazarus”. Sebaliknya, Yesus yang hadir saat ini adalah Yesus bangkit, yang tidak lagi terikat oleh ruang dan waktu. Ia mampu menembus dinding pintu yang terkunci. Para murid semestinya menyadari bahwa Ia adalah “Sabda yang menjadi daging” (Yoh.1:1-18).

Wajah Kristiani
Ketika saya mencoba menyimak bacaan hari ini, saya mendapat video homili Uskup Agung Makassar beberapa saat sebelum bom bunuh diri di Katedral Makassar. Salah satu bagian yang menarik perhatian saya dari homili beliau adalah kisah seorang Mahatma Gandhi. Gandhi senang dengan Yesus. Ia sering menyimak kotbah Yesus di atas bukit dalam Mat 5-7. Ia juga sempat berpikir menjadi orang Kristen.

Namun ia tidak jadi masuk Kristen dan menyatakan tidak suka dengan orang Kristen karena ketika ia mau memasuki sebuah gereja di Afrika Selatan, ia diusir dan tidak diperkenankan
masuk gereja oleh orang kulit putih. Wajah orang Kristen yang ia temui tidak mencerminkan wajah Kristus.

Dalam “Credo” kita percaya Kristus sudah bangkit. Kita bersama-sama sudah menyampaikan selamat Paska satu sama lain. Namun sisi yang terpenting yang selalu menggelitik adalah “sejauh mana sukacita Paska menjiwai hidup saya?”

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments