Seputar Minggu Palma dan Minggu Sengsara

Saudari dan saudara yang terkasih, kita sudah masuk dalam perayaan misteri keselamatan Tuhan di dalam Pekan Suci. Hari Raya Minggu Palma menjadi pintu gerbang bagi kita untuk menghayati cinta Allah melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus. Akan tetapi, tahukah kita, bahwa Hari Raya Minggu Palma disebut juga dengan istilah Minggu Sengsara?

Hari Raya Minggu Palma tidak hanya memperingati satu peristiwa dalam hidup Kristus, melainkan dua peristiwa penting di dalam hidup-Nya. Untuk itu, marilah kita bersama-sama mengenal sembilan (9) hal menarik yang perlu kita ketahui seputar Hari Raya Minggu Palma.

1. Mengapa Hari Raya Minggu Palma yang juga disebut sebagai Minggu Sengsara?
Sebutan “Hari Raya Minggu Palma” berasal dari peringatan akan peristiwa kedatangan Yesus yang meriah ke dalam kota Yerusalem. Pada saat itu, kita tahu bahwa orang-orang mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong kedatangan Yesus sambil berseru-seru, "Hosana! Terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!" (Yoh 12:13).

Sementara itu, sebutan “Minggu Sengsara” muncul karena pembacaan Kisah Sengsara pada hari Minggu tersebut. Hari Raya Minggu Palma menjadi satu-satunya kesempatan pembacaan Kisah Sengsara di hari Minggu. Pada tahun 1988, Kongregasi Ibadah Ilahi dan Tata-tertib Sakramen menulis sebuah surat edaran berjudul Perayaan Paskah dan Persiapannya. Di situ dikatakan, “Pekan Suci dimulai pada Minggu Palma, yang menghubungkan perayaan kemenangan Kristus Raja dengan pewartaan penderitaan-Nya. Pengaitan kedua aspek misteri Paskah ini harus menjadi jelas dalam perayaan dan katekese. (No. 28)

2. Mengapa kita perlu melakukan perarakan sebelum Misa pada kesempatan Hari Raya Minggu Palma?
Perayaan Paskah dan Persiapannya menuliskan, “Sejak dahulu kala masuknya Kristus ke Yerusalem diperingati dalam prosesi meriah. Dengan ini kaum kristiani menjalani peristiwa ini dan menyertai Tuhan, seperti anak-anak Ibrani yang menyongsong-Nya dan menyerukan ‘Hosana’.

Dalam setiap gereja hanya boleh diadakan satu kali prosesi, sebelum Misa, yang dihadiri kebanyakan kaum beriman; boleh juga Misa sore, Sabtu atau Minggu. Kaum beriman berkumpul dalam gereja samping atau di tempat lain yang pantas di luar gereja, yang menjadi tujuan prosesi.

Ranting-ranting itu diberkati untuk dibawa dalam prosesi. Kaum beriman dapat menyimpan ranting-ranting itu di rumah; mereka diingatkan akan kemenangan Kristus yang mereka rayakan dalam prosesi Palma.” (No. 29)

3. Apakah kita hanya boleh menggunakan daun palma?
Tidak ada keharusan penggunaan daun palma dalam perarakan Hari Raya Minggu Palma. Kita dapat pula menggunakan tanaman-tanaman hijau lainnya untuk mengenang peristiwa kedatangan Yesus yang meriah ke kota Yerusalem. Menurut buku Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, “Perarakan yang mengenang kedatangan Mesianik Kristus ke Yerusalem, bersifat penuh sukacita dan melibatkan banyak orang. Umat beriman biasanya menyimpan daun-daun palma, pohon zaitun, atau tanaman-tanaman hijau lain yang telah diberkati pada Hari Raya Minggu Palma di rumah atau di tempat kerja mereka.” (No. 139)

4. Adakah hal khusus yang perlu kita ketahui tentang Perarakan Daun Palma?
Menurut buku Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, “Umat beriman, hendaknya, perlu dikenalkan tentang pemaknaan perayaan perarakan daun palma sehingga mereka bisa memahami maknanya.

Secara tepat, umat beriman perlu diingatkan akan pentingnya partisipasi di dalam perarakan daun palma dan tidak hanya terpusat untuk mendapatkan daun-daun palma yang terlah diberkati. Daun-daun palma yang telah diberkati juga tidak boleh disimpan sebagai jimat, atau untuk alasan-alasan sihir demi mengusir roh-roh jahat dan demi menghindarkan dari hal-hal buruk yang semuanya itu dianggap sebagai bentuk-bentuk takhayul. Daun-daun palma yang telah diberkati hendaknya disimpan di rumah sebagai tanda iman kita kepada Yesus Kristus, sang Mesias yang bangkit secara jaya.” (No. 139)

5. Apa yang dilakukan Yesus melalui kedatangan-Nya ke Yerusalem?
Paus Emeritus, Benediktus XVI dalam bukunya Jesus of Nazareth mengatakan, “Yesus menyatakan dirinya atas hak raja yang pada zaman itu dikenal sejak dahulu kala, yaitu melalui tunggangan yang dipilih-Nya. Penggunaan hewan tunggangan yang belum pernah diduduki oleh siapapun, merupakan petunjuk yang jelas akan hak dari seorang raja.

Peristiwan ini semakin ditegaskan melalui kutipan Perjanjian Lama yang mengatakan, ‘Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.’ (Za 9:9)

Melalui kutipan itu, kita menyadari bahwa Yesus tidak membangun Kerajaan-Nya di atas kekerasan, Yesus tidak hendak memicu pemberontakan atas kekuatan militer Bangsa Roma saat itu. Kekuasaan Yesus nampak melalui kemiskinan dan damai sejahtera Allah yang
menjadi satu-satunya kekuatan penebusan.”

6. Reaksi apakah yang ditunjukkan orang banyak pada saat itu?
Orang-orang mengenali Yesus sebagai sang Raja Mesianik yang telah dinanti-nantikan sejak lama. Benediktus XVI mencatat, “Di dalam tradisi Kerajaan Israel terdapat suatu kebiasaan di mana orang banyak mengambil pakaiannya dan membentangkannya di hadapan kakinya (lih. 2Raj 9:13). Dalam peristiwa Yesus, para murid melakukan tanda penobatan raja dalam tradisi Kerajaan Daud yang sekaligus mengingatkan orang banyak akan harapan Mesianik yang tumbuh dari tradisi yang sama.

Para peziarah yang datang bersama dengan Yesus turut ikut serta dalam antusiasme para murid Yesus. Mereka turut membentangkan pakaian mereka di jalan-jalan yang dilalui oleh Yesus. Orang banyak memetik ranting-ranting pohon dan menyerukan pujian Mazmur 118 sebagai doa peziarahan Bangsa Israel yang menjadi seruan Mesianik,‘"Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!”’ (Mrk 11:9-10)

7. Apakah arti dari seruan “Hosanna”?
Benediktus XVI menjelaskan, “Pada mulanya, seruan itu merupakan sebuah desakan permohonan yang berarti, ‘Datanglah untuk membantu kami!’ Para imam bangsa Yahudi akan mengulangi seruan itu dengan nada yang sama pada hari ketujuh Hari Raya Pondok Daun sembari memutari altar persembahan sebanyak tujuh kali sebagai kebiasaan doa untuk memohonkan turunnya hujan. Akan tetapi, kebiasaan Hari Raya Pondok Daun dalam tradisi Bangsa Israel perlahan-lahan berubah menjadi suatu bentuk pujian yang menggembirakan.

Pada zaman Yesus, seruan itu lebih memiliki nuansa mesianik. Di balik seruan Hosana, kita dapat menemukan beragam emosi orang-orang yang menyertai perjalan Yesus dan para murid-Nya. Di sana terdapat pujian sukacita akan kedatangan Allah, pujian harapan bahwa waktu Tuhan telah tiba, dan pujian permohonan akan kemunculan dinasti Daud sehingga kerajaan Allah atas Israel dapat ditegakkan kembali.”

8. Apakah orang banyak ini sama dengan orang-orang yang kemudian menuntut penyaliban Yesus?
Benediktus XVI berpendapat bahwa mereka adalah kelompok orang yang berbeda. “Keempat Injil menekankan bahwa kedatangan mesianik Yesus terjadi ketika Yesus masuk ke kota Yerusalem bersama dengan orang-orang yang menyertai perjalanan-Nya, bukan dengan para penduduk Yerusalem.

Matius lebih menekankan hal ini melalui peristiwa yang terjadi setelah Yesus masuk ke kota Yerusalem ‘Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?" 21:11 Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea.’ (Mat 21.10-11). Orang banyak telah mendengar banyak hal tentang kehadiran seorang nabi dari Nazaret. Akan tetapi kedatangan Yesus tampaknya tidak terlalu penting bagi Yerusalem dan orang-orang di sana tidak mengenal-Nya. Dengan demikian, orang-orang
yang memberi penghormatan atas kedatangan Yesus di gerbang kota Yerusalem, bukanlah orang-orang yang kemudian menuntut penyaliban Yesus.”

9. Pada akhirnya, bagaimana cara kita menghayati pembacaan kisah sengsara dalam Perayaan Ekaristi Hari Raya Minggu Palma?
Perayaan Paskah dan Persiapannya menuliskan, “Kisah sengsara Tuhan dibawakan dengan meriah. Dianjurkan untuk membacakan atau menyanyikannya secara tradisional oleh tiga orang, yang mengambil alih peran Kristus, Penginjil dan umat. Harus dibawakan oleh para Diakon atau imam, atau, bila tidak ada, oleh lektor; dalam hal ini peran Kristus dikhususkan bagi imam.

Pada pewartaan kisah sengsara ini tidak dinyalakan lilin; dupa, salam bagi umat dan penandaan buku tidak diadakan; hanya para diakon sebelumnya mohon berkat imam, seperti pada Injil. Karena manfaat rohani kaum beriman, kisah sengsara dibawakan seutuhnya dan bacaan-bacaan sebelumnya tak boleh dilewati.

 

Disadur dari https: //www.ncregister.com/blog/9-thingsyou-need-to-know-about-palmpassion- sunday

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments