Satu Bumi, Satu Saudara

Tema ekologis, “Satu Bumi, Satu Saudara” menguak tanya maupun ekspektasi seputarnya. Dengan kata lain, tema ini muncul antara kenyataan dan harapan terkait kehidupan ekologis antara ‘bumi’ dan ‘penghuni’ yang ada. Apa yang menjadi kenyataaanny? Apa yang menjadi kegembiraan dan kebanggaan kita pada bumi dan penghuni maupun habitat yang ada? Apa keprihatinan dan kegelisahan terhadap bumi dan habitat yang ada? Manakah keprihatinan yang harus menjadi kegelisahan bersama? Apakah masih ada harapan untuk membuat hari esok yang lebih untuk ‘bumi dan penghuninya’? Refleksi berikut kiranya membantu kita sebagai langkah awal untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas.

“Bumi rumah kita bersama”
Kiranya bukanlah sebuah khayalan lagi, bahwa seantero penduduk dunia mendiami permukaan bumi yang satu. Percobaan lama dan panjang untuk mencari alternatif tempat huni yang lain, seperti di bulan bagi manusia dan habitat bumi yang ada belum juga berbuah harapan. Orang dan penduduk  sejagat harus mengatakan bahwa di bumi inilah kita berpijak dan menjalani hidup. Inilah ‘bumi’, satu-satunya dari planet-planet di tata surya ini yang memberi ruang bagi semua yang ada, termasuk manusia dan makhluk hidup serta realitas semuanya. Populasi dunia di akhir tahun 2022 akan mencapai 8 miliar manusia, dan akan berkembang terus di tahun-tahun mendatang seperti dirilis Divisi Populasi PBB beberapa waktu yang lalu (www.suara.com/2022). Pelbagai harapan untuk memajukan kehidupan manusia tentu saja karena segala yang ada ataupun dihasilkan oleh bumi ini, seperti tanah, air, udara, hewan dan tetumbuhan yang ada, bahkan keanekaragaman hayati yang melingkupi tanah dan bumi ini. Maka ‘Bumi, rumah kita bersama’, tentu harus menjadi pengakuan dan kebanggan kita bersama. “Terpujilah Engkau Tuhan-ku karena Saudari kami, Ibu Pertiwi yang menopang dan mengasuh kami, dan menumbuhkan berbagai buah-buahan, beserta bunga warna-warni dan rerumputan” (Nyanyian Saudara Matahari atau Gita Sang Surya, dalam Karya-karya Fransiskus Asisi, Yogyakarta, Kanisius, 2000, 324-326).

Praktik eksploitatif dan konsumtif di tengah kemajuan teknologi
“Apa yang terjadi dengan rumah kita”,demikian pertanyaan refleksif yang dilontarkan oleh Paus Fransiskus dalam Ensiklik Laudato Si (2015). Ada perkembangan dan percepatan perubahan-perubahan dalam irama hidup kontemporer dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Inilah jaman dimana manusia bisa menjadi kagum dan ‘puas’ dengan segala macam perkembangan sebagai hasil daya cipta manusia sendiri. Kehidupan kontemporer diwarnai perkembangan era digitalisasi yang menembus segala batas, mendekatkan bahkan menghadirkan yang jauh, serta memperkenalkan adanya ‘kecerdasan artifisial’ yang lazim dikenal dengan sebutan ‘artificial intelligence’ (AI). Era ini dibentuk dengan dunia maya atau cyberspace dengan aplikasi komunikasi satu arah maupun timbal balik dalam jaringan atau online.

Sisi lain wajah bumi ini memperlihatkan keprihatinan dan kegelisahan akibat ulah manusia itu sendiri. Ada praktik eksploitasi atau pengusahaan, pendayagunaan serta pemanfaatan untuk keuntungan sendiri terhadap alam bahkan terhadap  hidup manusia itu sendiri. Beberapa contoh, seperti perubahan iklim ekstrim hari-hari ini dengan curah hujan yang lebat mengakibatkan banjir dimana-mana karena areal hutan yang semakin habis, adanya eksploitasi dan kekerasan terhadap anak, perdagangan wanita dan anak seperti disampaikan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), Bintang Puspayoga di Medan beberapa waktu yang lalu. Perang Rusia – Ukraina yang belum juga selesai, tindakan mutilasi ataupun pembunuhan berencana atas nyawa orang lain masih menjadi tajuk berita di media yang ada. Tidak ada jaman seperti jaman ini dimana manusia menjadi cemas dan gelisah atas temuannya sendiri, di tengah kegelisahan atas resesi ekonomi global yang akan melanda dunia.

Perkembangan dan perubahan yang diharapkan ternyata menciptakan ketakutan dan kecemasan baru karena kerugian serta mengikis peradaban. Praktik pembangunan yang terlalu menekankan infrastruktur fisik-material sampai mengorbankan pembangunan infrastruktur peradaban manusiawi. Budaya hidup konsumtif, hedonistis, materialistis serta praktik rekayasa-bioteknologi hidup manusia, semuanya mengorbankan martabat diri dan hidup manusia itu sendiri.

Panggilan kepada ‘saudara ciptaan dan saudara sesama’ ‘Satu Bumi, Satu saudara’ harus menjadi sebuah panggilan nurani (inner voice) untuk kembali membaharui semangat hidup ‘saudara ciptaan’ dan ‘saudara sesama’. Santo Fransiskus dari Azisi menerima dalam diri dan
kehidupannya sebuah martabat kesetaraan sebagai ciptaan semua makhluk hidup dan setiap entitas yang ada, “saudara matahari, saudara bulan dan bintang, saudara burung, saudara angin, saudara air, dlsb.” (Paus Fransiskus, 2015). Relasi yang memperlakukan yang lain (manusia dan entitas lain) sebagai obyek (
I – It), konsumtif-destruktif, harus diganti dengan praktik relasional yang kontributif-konstruktif karena mengakui entitas lainnya dalam keberadaannya sebagai subyek (I – Thou) baik horizontal dengan sesama dan entitas lainnya, maupun sebagai representasi ataupun pemenuhan relasi vertikal dengan Subyek Yang Ilahi sendiri, I – Thou, atau ‘Aku – Engkau’ Sejati.

Penulis : Bruno Rumyaru - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments