Rahasia di Balik Sisa yang Berlimpah

Kata “sisa”, mengandung makna “apa yang tertinggal” sesudah sebagiannya diambil atau dimakan. Dalam akuntansi dikenal istilah “nilai residu” (salvage value) yang biasanya dihubungkan dengan perkiraan nilai aset tetap yang akan masuk ke dalam kas jika aset tersebut dijual atau dihentikan penggunaannya. Aset tetap yang telah digunakan (kecuali tanah) mengalami penurunan nilai, sehingga bisa dipastikan bahwa “nilai sisa” jauh lebih kecil dari perolehannya.

Hari ini kita mendengar bacaan Injil tentang “sisa roti” yang dikumpulkan setelah dimakan oleh “lima ribu orang laki-laki”, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Sumbernya hanya ada lima roti dan ikan, tetapi “sisanya” jauh lebih banyak “dua belas bakul roti”, belum termasuk jumlah ikan yang sisa. Tidak biasa, aneh, ajaib, mukjizat.

Berbeda dengan mukjizat lain seperti penyembuhan seorang tuli (Mrk. 7:31-37), atau penyembuhan seorang lumpuh di kolam Betesda (Yoh. 5:1-18), yang hanya diceriterakan oleh satu penginjil, kisah lima roti dan dua ikan untuk lima ribu orang diceritakan oleh keempat penginjil (Mat. 14:13-21; Mrk. 6:32-44; Luk. 9:10-17 dan Yoh. 6:1-15). Hal ini menunjukkan bahwa kisah ini sangat bermakna, menyentuh hati keempat penginjil.

Dalam arti itu, “derajat” kisah ini “tinggi”, sama dengan pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan Kisah Sengsara-Kebangkitan Yesus yang juga diceritakan oleh keempat penginjil. Kita tahu bahwa bahkan kisah sekitar “kelahiran Yesus” hanya diceritakan oleh dua penginjil saja, yakni Matius dan Lukas.

Dalam Injil Sinoptik, kisah “pergandaan roti” terjadi justru ketika Yesus dan para murid ingin “menghindar” dari orang banyak untuk menyepi. Dua hal yang menjadi pemicu yakni pembunuhan Yohanes Pembaptis dan kembalinya 12 rasul dari tempat perutusan mereka. Mungkin mereka kelelahan bercampur cemas sehingga Yesus ingin mengajak mereka merenungkan karya mereka di tengah “terbunuhnya Yohanes Pembaptis”, apalagi ternyata kadang-kadang makan pun mereka tidak sempat (Mrk. 6:31).

Tetapi yang terjadi justru sebaliknya Banyak orang yang mengetahui maksud mereka, sehingga datang “berbondong-bondong” (Yoh. 6:2; Mat. 14:13). Ketika menjelang malam (Luk. 9:12), timbul niat para rasul supaya orang banyak ini pergi. Alasan utama karena mereka tidak mempunyai cukup makanan di tempat yang sunyi itu. Filipus yang merupakan penduduk setempat-dari Betsaida (Yoh. 1:43-44), juga tidak tahu dimana harus mendapatkan makanan.

Untunglah ada 5 roti dan 2 ikan. Darimana datangnya rezeki itu? Injil Sinoptik menampilkan jawaban para murid: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan” (Mat. 14:17; bdk Mrk. 6:38; Luk. 9:13), tanpa menjelaskan milik siapa kelima roti dan dua ikan. Namun dalam Injil Yohanes, dijelaskan bahwa 5 roti dan 2 ikan itu berasal dari seorang anak kecil: “Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan…” (Yoh. 6:8). Tampaknya Andreas berhasil menemukannya setelah Yesus meminta para murid “memeriksa” persediaan
makanan (Mrk. 6:38), tidak boleh menyerah sebelum mencari atau berusaha.

Awalnya, bagi para murid, penemuan lima roti dan dua ikan sama dengan “nothing” untuk orang sedemikian banyak (Yoh. 6:8). Untungnya, relasi pribadi mereka dengan Yesus cukup kokoh sehingga mereka tetap menjalankan perintah Yesus untuk mengatur orang banyak duduk di rumput. Kemudian mereka menyaksikan Yesus mengambil 5 roti dan 2 ikan, menengadah ke langit, mengucap doa syukur/berkat (Yoh. 6:11; Mat. 14:19). Dan … terjadilah. Dari 5 roti dan 2 ikan, lima ribu orang makan kenyang, bahkan masih tersisa 12 bakul roti.

Dua belas bakul kiranya merupakan angka simbolik bagi Yesus. Dengan angka 12 kita diingatkan akan keseluruhan bangsa Israel yang merupakan kesatuan dari 12 suku. Hanya dengan 5 roti dan 2 ikan, lima ribu orang kenyang, dan sisanya masih cukup untuk satu bangsa, Israel yang baru.

Tentu ada rahasianya. Pertama, ada belas kasih atau niat untuk menolong sesama. Kedua, harus berani memulai atau mencari. Ketiga, mulai dari hal yang kecil dan memberdayakan potensi sekecil apa pun, termasuk dari anak kecil. Kita ingat bagaimana Bunda Maria menggunakan anak kecil atau orang miskin dalam penampakannya (Guadalupe, Lourdes, Fatima dll). Keempat, dalam semua itu, adalah Tuhan yang mampu melipatgandakan apa yang kita miliki. Hal itu semua berawal dari “perasaan syukur” dalam hati.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments