Pribadi Kosmis dalam Hidup Beriman

Pusat iman umat Katolik adalah Tuhan Yesus melalui sabda dan karya-Nya, sebagaimana dalam Kitab Suci dan diteruskan penerapannya dalam tradisi Gereja yang menyediakan bejana kekayaan rohani luar biasa bagi pengembangan iman. Dalam kalender liturgi Gereja, puncak yang menjadi penutup tahun liturgi adalah perayaan Kristus Raja semesta alam, kemudian dimulailah tahun baru liturgi Gereja dengan masa adven. Gelar Kristus Raja semesta alam menjadi puncak perjalanan liturgi yang menginspirasi pengembangan hidup beriman sebagai pribadi kosmis. Artinya, karya penyelamatan dan penebusan kristus melalui kebangkitan bukan hanya bersifat antropologis hanya untuk manusia saja; tetapi karya penyelamatan juga tertuju bagi seluruh alam semesta dan semua ciptaan.

Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Kolose (Kol.1: 15-20) mengatakan: ”Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, mau  pun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia. Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.” Panggilan keselamatan dalam Yeus Kristus adalah panggilan perdamaian dan rekonsiliasi terus menerus dengan diri, hubungannya dengan Tuhan, sesama, Gereja (Umat Beriman) dan seluruh alam ciptaan.

Oleh karena itu, pertumbuhan menuju pribadi kosmis dalam hidup beriman semakin menjadi relevan. Umat beriman tidak hanya sibuk dengan liturgi dan pelayanan pada sesamanya tetapi juga berpartisipasi aktif dalam pelestarian alam dan kepedulian terhadap lingkungan. Liturgi dan pelayanan Gereja tetap sangat diperlukan karena menjadi lingkungan iman yang meneguhkan pertumbuhan rohani. Ensiklik Laudato Si (Paus Fransiskus 2015) menggugah kesadaran baru umat beriman untuk merawat dan menjaga lingkungan. Partisipasi merawat dan menjaga lingkungan dihayati sebagai suatu perjalanan iman menuju kesatuan batin dengan Kristus sebagai Raja semesta alam. Surat Santo Paulus kepada Jemaat di Roma 12: 18 mengatakan: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!". Kutipan tersebut memberikan dorongan setiap orang untuk memperlakukan orang lain dan lingkungan dengan keramahan, kebaikan dan hormat untuk membangun perdamaian dan harmoni. Dengan demikian perilaku ramah lingkungan menjadi bagian tidak terpisahkan dari hidup beriman dan pengembangan pendewasaan rohani.

Pengembangan pribadi kosmis dalam hidup beriman meningkatkan kesadaran terhadap getaran suara jeritan alam yang sedang menderita akibat perilaku tidak ramah manusia terhadap lingkungan dan melakukan eksploitasi alam secara berlebihan. Buahbuah iman dari pribadi kosmis dalam hidup beriman dalam keseharian dapat dilihat dalam bentuk tindakan nyata seperti perilaku tidak membuang sampah sembarangan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, menjaga pikiran dan hati tidak terkontaminasi informasi hal-hal negatif atau hoax tidak bertanggung jawab.

Pribadi kosmis membuat iman menjadi lebih aktual dalam hidup keseharian.  Industri dan bisnis kreatif yang ramah lingkungan sepertinya semakin diminati dalam kehidupan. Hotel ramah hewan piaraan, mobil/kendaraan listrik ramah lingkungan, tempat wisata yang menawarkan kesejukan, pendidikan luar rumah yang menyediakan ruang terbuka bagi pertumbuhan memperkokoh pertumbuhan pribadi kosmis dalam ruang nyata kehidupan. Seorang Novelist Steinbeck yang memperoleh nobel prize di bidang sastra tahun 1962 bahkan melukiskan bahwa bumi tempat kita hidup adalah seperti ibu yang menyediakan apa yang diperlukan untuk kehidupan. Ungkapan “ibu pertiwi” atau “tanah tumpah darah Indonesia” juga mengandung gagasan pribadi kosmis sehingga semangat stewardship yaitu pengelola dan perawat yang melaksanakan kewenangannya dengan kecintaan, hormat, kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan dan kehidupan yang dipercayakan.

Banyak pesan-pesan kehidupan sedang menyapa umat manusia melalui aneka peristiwa dan gejala-gejala alam. Anak-anak, keluarga dan umat beriman sekarang sedang berada pada gerbang perubahan eko-sistem kehidupan ke arah ekologi digital, virtual dan kecerdasan buatan(AI). Melalui pengembangan pribadi kosmis dalam hidup beriman, setiap orang beriman tidak berhenti terbelenggu oleh ekosistem, algoritme dan mekanisasi lingkungan kecerdasan buatan; tetapi tetap terbuka melampauinya menuju pengalaman transendental perjumpaan dengan Tuhan. Di situ intuisi iman, kreativitas pelayanan, imaginasi hati yang jernih dan pemikiran kritis hidup beriman masih tetap bisa terjaga, dan tidak tergerus oleh ekologi virtual kecerdasan buatan. Iman harapan dan kasih tetap berfungsi sebagai pedoman keutamaan melaksanakan pengembangan pribadi kosmis dalam hidup beriman.

Pribadi kosmis dalam hidup beriman kemudian menjadi rahmat bagi umat beriman sehingga semakin mudah menangkap pesan-pesan Tuhan yang sedang diwahyukan lewat peristiwaperistiwa alam dan perubahan-perubahan lingkungan kehidupan. Pribadi kosmis menjadi landasan keterbukaan kesadaran untuk peningkatan kepekaan serta kepedulian akan pesan-pesan Tuhan yang dinyatakan lewat alam sekitar, melalui arah dasar Gereja, dinamika eko-sosial masyarakat, karya pelayanan Paroki, lingkungan sehari-hari umat beriman serta kegiatan-kegiatan pelayanan ataupun perubahan-perubahan kondisi hidup orang-orang beriman di masing-masing lingkungan.

Penulis : Andreas Yumarma - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments