Perilaku hidup “Carpe diem” dan “Kreatif-Eskatologis”

Perumpamaan tentang “Gadis bijaksana dan gadis bodoh” (Mat. 25:1-13) dipakai oleh Yesus untuk mengajarkan dua gaya hidup menyongsong atau mempersiapkan kedatangan Kerajaan Alllah. Katekese berikut kiranya memperkaya kita untuk menghayati lebih pesan dan nasehat Yesus bagi hidup kita sehari-hari.

Perilaku ‘carpe diem’ sempit
‘Carpe diem quam minimum credula postero’ dengan terjemahan bebas, ‘raihlah hari ini, percaya sesedikit mungkin tentang hari esok’. Quintus Horatius Flaccus (65 B.C. - 8 B.C.) seorang penyair Romawi dalam bukunya yang terkenal, ”Odes”, menggunakan kata-kata itu untuk menggambarkan semangat yang lebih mengusahakan kepentingan hidup hari ini atau masa kini, tanpa menghiraukan hari esok.

“Gadis-gadis yang bodoh membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak” (Mat. 25:3), kiranya tepat untuk menggmbarkan gaya hidup atau perilaku ‘carpe diem’ sempit dan tertutup hanya untuk hari ini, tanpa peduli tentang waktu yang akan datang. Gaya hidup untuk mencari ‘kepuasan’ saat ini tanpa ada orientasi untuk hidup selanjutnya. Inilah gaya hidup sekularistis, yang menganggap bahwa tujuan hidup duniawi adalah ‘memiliki’ segala sesuatu yang dapat memberikan kepuasan hidup tanpa harus peduli dengan hari esok.

Kelompok ini menganggap bahwa ‘hidup (di dunia) hanyalah sekali saja’ dan cepat atau lambat akan berakhir dengan kematian, sehingga sedapat mungkin bisa berupaya maksimal untuk ‘memiliki atribut’ kehidupan ini seperti harta, kuasa, dan kenikmatan yang menghasilkan segala perbuatan daging (bdk.Gal. 5:19-21).

Kreativitas dan inovasi kristiani yang terbuka
Iman kristiani mengajarkan bahwa kehidupan ini ibarat suatu peziarahan yang sedang berlangsung di dunia ini menuju kepenuhannya di dunia akhirat. Tujuan hidup bukan di dunia ini, sebaliknya kehidupan duniawi harus mempersiapkan kehidupan abadi di surga. Maka kehidupan kristiani tidak mencari kesenangan sendiri, tetapi harus menjadi upaya kreatif dan inovatif untuk membangun relasi baik dengan sesame manusia dalam kehidupan sosialnya.

Orang beriman kristiani memanfaatkan kekayaan alam ciptaan Tuhan untuk mengusahakan hajat hidup orang banyak, serta merayakan kedekatannya dengan Tuhan secara seremonial maupun dalam praksis hidup seperti, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri (bdk. Gal. 5:22). Orang beriman kristiani harus hidup sebagai “garam dan terang dunia” (Mat. 5:13-16).

Hidup orientatif-eskatologis
Hidup yang kreatif dan inovatif bukan tanpa tujuan. Kita mengusahakan kehidupan yang membahagiakan diri kita dalam hubungan horizontal dengan sesama dan alam semesta maupun secara vertikal dengan Tuhan sebagai persiapan menyongsong kedatangan Kerajaan Allah. “Sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam
buli-buli mereka” (Mat 25:4). Gaya hidup yang orientatif, memahami dengan benar apa yang harus dibuat untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi tetap antisipatif untuk memikirkan dan mempersiapkan hari esok. Sikap hidup yang orientatif dan terbuka digambarkan oleh Yesus dalam Injil Matius sebagai sikap mawas diri, bersiap-siap, “berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu akan hari maupun saatnya” (Mat. 25:13). Yesus menghendaki supaya para murid-Nya hidup dalam kesiap-siagaan, mengoptimalkan segala potensi yang ada untuk mengusahakan hidup yang layak sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada sesama dan Tuhan di dunia ini menuju hidup abadi. Dengan kata lain, hidup eskatologis itu sudah dirayakan dan dipersiapkan mulai sekarang dan disini, hic et nunc menuju kepenuhannya.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments