Perarakan Masuk, Bolehkah Ditiadakan

Selamat merayakan Hari Minggu Palma, memasuki Pekan Suci 2024 sesuai Liturgi dalam Gereja kita. Masa retret agung di masa prapaskah tahun ini telah menghantar kita bersama dalam pangkuan Bunda Gereja Sejagat ‘menapaki tapak suci’ kesengsaraan Tuhan kita Yesus Kristus di jalan salibNya. Bunda Gereja secara intens selama 5 pekan Pra-Paskah mengajak segenap umatnya untuk semakin dekat menghayati dan mengalami misteri kasih Tuhan sambil mengkontekstualisasikannya dalam kehidupan konkrit. “Memperkuat Solidaritas dan Subsidiaritas untuk Mewujudkan kesejahteraan bersama” demikian Bapak Uskup KAJ merilis Surat Gembala masa Pra-Paskah kepada segenap umat yang tersebar seantero wilayah gerejawi KAJ. Lingkaran kehidupan kita di tengah masyarakat konkrit DIANTAR MASUK & DIRAYAKAN secara Liturgis dalam Gereja. Maka liturgI menjadi puncak seluruh kehidupan ini; sekaligus liturgi menjadi “sumber” bagi pelaksanaan-penghayatan hidup konkrit di tengah masyarakat. Itulah sebabnya, liturgi harus dipahami lebih dari sakadar ritualitas dan seremonialitas belaka. Katekismus Gereja Katolik menjabarkan tentang liturgi sebagai karya Allah dengan mengutip surat Rasul Paulus, demikian, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang  dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.” (Efesus, 1:3-6) ((Lihat KGK 1077)). Konsili Vatikan II menyatakan, "Upacara liturgi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan seluruh gereja sebagai sakramen kesatuan, yaitu umat kudus yang berhimpun bersama Uskup” (SC, no.26).

Kita menghayati-mengalami (secara liturgis) perjumpaan dengan Tuhan yang menyelamatkan dalam kasihNya; dan di pengujung perayaan liturgi kita menerima perutusan Tuhan bagi kita untuk mewartakan kasih Tuhan yang sama itu di tengah kehidupan konkrit, dalam keluarga maupun kepada orang banyak di tengha masyarakat. Perayaan Liturgi menjadi ‘puncak’ dan ‘sumber’ dinamika kehidupan kita di dunia ini menuju “Liturgi Mulia – persatuan dengan Tuhan” dalam kebahagiaan hidup abadi di Surga. “Perarakan masuk” (dalam Liturgi) bolehkah ditiadakan”? Demikian tema rubrik katekese minggu ini.

Sakristi dan Ekaristi
Ruangan kecil di belakang – samping gedung gereja atau tempat ibadah hari minggu, ruangan itu mungkin saja kurang menjadi perhatian segenap umat. Lasim disebut ruangan “Sakristi”. Sakristi adalah sebuah ruang untuk menyimpan vestimentum (pakaian liturgis) seperti alba, stola dan kasula. Sakristi juga dipergunakan untuk menyimpan perabotan gereja lainnya termasuk barang-barang suci dan catatan paroki. Di beberapa negara, ruangan ini dikenal sebagai "vestry". Umumnya ruang sakristi dikhususkan bagi para petugas liturgi (tidak sembarangan orang lalu-lalang di dalam sakristi). Ruang sakristi juga berfungsi untuk mempermudah akomodasi dan pergerakan sebagai persiapan dan kontrol fisik antar para petugas dan koster, atau ruang untuk menyimpan segala peralatan dan perlengkapan peribadatan. Dalam ruangan Sakristi, Romo dan para petugas liturgi akan mempersiapkan diri, mulai dari berganti pakaian, mengenakan busana liturgi gereja.

Procedamus in pace (Latin), procediamo nella pace (Italia), mari kita melangkah maju dalam damai (terj. bebas Indonesia”), atau rumus doa lain oleh Romo dan para petugas liturgi sebelum berarak maju mengawali ritus  Pembukaan dalam liturgi gereja katolik. Maka Sakristi tidak dapat dipisahkan dari liturgi ekaristi. Sakristi mempersiapkan pelaksanaan perayaan liturgi. Ruang sakristi menjadi awal ‘berganti hati’ dari pemimpin liturgi bersama para petugas liturgi seputar panti imam untuk melayani Tuhan dalam gereja-Nya. Di Pintu keluar sakristi tergantung/disediakan sebuah lonceng kecil sebagai penanda liturgi gerejawi telah dimulai.

Perarakan Masuk – Ritus Pembuka Liturgi
Segenap umat spontan berdiri, dan mata serta perhatian umat semua akan tertuju kepada pemimpin liturgi bersama rombongan berarak masuk diiringi lagu pembuka mengantar pemimpin liturgi dan para petugas liturgi menuju ke tempat masing-masing. Semua aktivitas ini bukan tanpa arti! Perarakan atau prosesi masuk menjadi permulaan Ritus Pembuka dari Liturgi. Prosesi masuk meliputi pembawa salib, pembawa lilin, daikon atau pembawa Kitab Suci – Lectionarium untuk nanti dibacakan oleh pemimpin liturgi. Prosesi masuk ini sekaligus mempersiapkan segenap umat untuk ambil bagian secara aktif dalam perjumpaan dengan Tuhan. Umat mengikuti langkah pasti pemimpin liturgi bersama para pelayan liturgi yang ada, ikut memberi hormat dan bersiap untuk mengikuti rangkaian liturgi yang ada.

Prosesi atau perarakan masuk pada ritus pembuka dengan sendirinya menjadi normatif karena telah menjadi bagian dari Ritus Pembuka. Perarakan masuk bahkan menjadi pembuka rangkaian upacara di rituas pembukaan itu sendiri. Ritual pembukaan Prosesi masuk ini menjadi variatif pelaksanaannya mengikuti perayaan liturgi yang dirayakan. Perarakan masuk, dilanjutkan dengan tanda salib, salam pengantar, tobat, kyrie atau Tuhan kasihanilah kami, Gloria atau kemuliaan dan doa pembukaan, semuanya menjadi bagian dari Ritus Pembuka dalam liturg gereja katolik. Dalam masa liturgi khusus seperti masa Advent dan masa Pra-paskah maka Gloria atau kemuliaan ditiadakan dalam ritus pembuka ini. Prosesi masuk ini menjadi variatif tergantung perayaan liturgi yang dilaksanakan. Pada perayaan liturgi mingguan maka  prosesi masuk dari pemimpin liturgi bersama para pelayannya berarak dari ruang sakristi langsung menuju ke areal panti imam. Pada perayaan besar gerejani mengikuti tahun liturgi gereja ataupun perayaan-perayaan besar lainnya yang menghadirkan banyak umat maka prosesi masuk ini tidak langsung menuju ke depan panti imam tetapi akan melewati rute tertentu sesuai pengaturan atau kebijakan seksi liturginya. Umat yang hadirpun akan menyesuaikan diri menghadap ke arah pemimpin liturgi bersama rombongannya berarak masuk menuju ke panti imam.

Perarakan masuk dalam ritus pembuka mengapa normatif? Mengapa pakaian liturgi yang dikenakan oleh pemimpin liturgi tidak langsung disiapkan di atas meja altar demi alasan praktis dan penghematan waktu? Prosesi masuk dalam ritus pembuka tentu saja jauh dari praktik atau rekayasa perayaan liturgis gereja. Pesan dogmatis-teologis dari Gereja menjadii dasarnya. Kita tetap berpegang pada pesan Konsili Vatikan II yang menegaskan bahwa Liturgi Ekaristi merupakan ‘puncak dan sumber’ kehidupan Gereja (SC, 9,10, LG.11, PO.5). Tidak berlebihanlah bah- wa ekspresi dan penghayatan kita bersama segenap umat bahwa kita ‘berarak’ membawa segenap peng- alaman suka-duka kehidupan ke hadapan Tuhan. Kita tidak hanya membawa pengalaman hidup eksklusif kita kepada Tuhan. Perayaan Ekaristi tidak hanya merupakan ungkapan persekutuan persaudaraan jemaat kristiani, melainkan sekaligus juga suatu proyek solidritas dengan semua umat manusia (Yohanes Paulus II, Surat Apostolik, MND, art 27). Demikian gereja membawa serta ke hadapan Tuhan segenap pergumulan dan dinamika hidup di tengah masyarakat konkrit. Maka kontekstualisasi pesan ini sangat jelas, bahwa dinamika kehidupan gereja di tengah masyarakat konkrit adalah variatif juga. Pemaknaannya pun jelas, menyebabkan bahwa setiap Gereja lokal mempunyai ujud liturgis dan pesan pastoral tersendiri di samping tetap setia mengikuti ujud liturgis dan pesan pastoral gereja sejagat.

-------------------------

Catatan singkatan :

SC : Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium
LG: Konstitusi Dogmatis tentang Gereja, Lumen Gentium
PO: Presbyterorum ordinis atau dekret tentang pelayanan dan kehidupan para imam
MND: Mane Nobiscum Domine, surat apostolic Paus Yohanes Paulus II kepada para uskup, imam dan umat beriman pada saat Tahun Ekaristi
KGK: Katekismus Gereja Katolik

Penulis : Bruno Rumyaru - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments