Pentingnya Menggunakan Nama Baptis

Dalam pembaptisan, imam akan memanggil seseorang dengan nama baptisnya, “..., aku membaptis kamu dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”. Melalui nama baptis, kita diingatkan bahwa kita telah bergabung dengan Yesus Kristus dan dipanggil sebagai anak-anak Allah. Memang nama baptis tidak termasuk syarat demi sahnya baptisan, tetapi penggunaan nama baptis merupakan tradisi Gereja yang baik dan pantas dilanjutkan.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian, “Di dalam Pembaptisan, nama Tuhan menguduskan manusia dan seorang Kristen mendapat namanya di dalam Gereja. Nama itu boleh dari orang kudus, artinya seorang murid Yesus yang telah hidup dalam kesetiaan kepada Tuhannya... Nama baptis dapat juga menyatakan satu misteri Kristen atau satu kebajikan Kristen” (art. 2156). Tradisi penggunaan nama orang kudus sebagai nama baptis sudah ada sejak abad-abad pertama di Gereja Timur. Pada abad ke-4, nama orang kudus digunakan seseorang setelah menerima baptisan. Dalam homilinya, St. Yohanes Krisostomus menganjurkan kepada orang tua agar memilihkan nama orang kudus yang memiliki keutamaan hidup Kristiani bagi anak-anaknya. Melalui nama baptis, seseorang diharapkan meneladani hidup orang kudus tersebut dalam mengikuti Tuhan.

Mulai abad ke-13, tradisi ini menyebar di Gereja Barat. Pada abad ke-16 sebagai tanggapan atas kelompok reformasi yang menentang penghormatan kepada orang-orang kudus, Gereja Katolik semakin menekankan penggunaan nama orang kudus sebagai nama baptis. Penegasan penggunaan nama orang kudus sebagai nama baptis tertuang dalam Cathecismus Romanus (1566) dan Rituale Romanum (1614).

Penggunaan nama orang kudus sebagai nama baptis memiliki empat makna. Pertama, seseorang diharapkan memancarkan keutamaan, kesucian, dan keteladanan orang kudus tersebut. Kedua, kita mengimani bahwa orang kudus menjadi perantara dan membantu seseorang untuk hidup pantas di hadapan Allah. Ketiga, nama baptis merupakan simbol hidup baru yang diterima melalui baptisan. Akhirnya, penggunaan nama orang kudus mengungkapkan makna persekutuan para kudus, yaitu persekutuan Gereja dengan Allah Trinitas dan dengan semua umat beriman yang masih hidup, yang sudah meninggal, dan yang sudah mulia di surga, yakni para kudus. Persekutuan ini mengungkapkan relasi kasih dan keselamatan yang tidak pernah terputus (lih. Martasudjita, 2003: 243).

Dalam Audiensi Umum pada tanggal 18 April 2018, Paus Fransiskus mengingatkan pentingnya nama baptis, “Allah memanggil tiap orang dengan nama, mencintai kita secara personal, dalam kenyataan sejarah kita...Allah terus memanggil nama kita sepanjang tahun dan dengan berbagai cara menggemakan panggilan untuk menjadi serupa dengan Putra-Nya Yesus”. Nama baptis dipandang penting oleh Bapa Suci karena memberikan identitas Kristiani yang senantiasa terikat pada Allah.

Penulis : Fr. Carolus Budhi P

Sumber:
-. E. Martasudjita, Sakramen-sakramen Gereja: Tinjauan Teologis, Liturgis, dan Pastoral
(Yogyakarta: Kanisius, 2003),243-244;
-. H. Thurston, “Christian Names” dalam The Catholic Encyclopedia Vol. 10 (1911) dari New
Advent: http://www.newadvent.org/cathen/10673c.htm;
-. Katekismus Gereja Katolik;
-. Paus Fransiskus, Audiensi Umum 18 April 2018: http://www.vatican.va/content/francesco/
en/audiences/2018/documents/papafrancesco_20180418_udienza-generale.html

Foto : Tim KomSos PC GIT


Post Terkait

Comments