Menjadi Saudara bagi Alam dan Semua Mahluk Ciptaan

Penghayatan iman secara mendalam akan mengubah orientasi hidup tidak hanya terarah pada diri sendiri. Anugerah keselamatan dan iman yang sudah kita terima dari Tuhan menjadi landasan untuk bersyukur dan menaruh kepedulian pada yang lain, terutama alam sekitar, mahluk-mahluk hidup ciptaan Tuhan dan sesama kita. Oleh karena itu, wujud iman idealnya selalu bersifat ekologis: ramah pada lingkungan termasuk tumbuhan, hewan, manusia dan kondisi lingkungan di sekitar kita.

Dalam sejarah gereja pada abad pertengahan, kita memiliki contoh seorang tokoh Santo bernama Fransiskus Asisi, yang sangat peduli terhadap lingkungan serta memperlakukan alam ciptaan sebagai saudara-saudaranya. Teladan kepeduliannya terhadap lingkungan dan orang-orang miskin terabadikan di kota Asisi. Tahun 1979,

Paus Yohanes Paulus II secara resmi menyebut Fransiskus Asisi sebagai Santo Pelindung Ekologi. Kedalaman iman dan kesatuannya dengan Tuhan dan alam semesta diekspresikan dalam kepeduliannya terhadap lingkungan hidup. Beliau menyapa matahari, angin dan ciptaan lainnya sebagai saudaranya. Beliau mendapat anugerah khusus mampu berkomunikasi dan  berkotbah kepada alam dan hewan seperti anjing, kucing, ikan burung dan sekaligus sangat peduli kepada orangorang miskin.

Semangat ekologis dengan sangat kuat diungkapkan oleh Paus Fransiskus dalam surat Apostolik Laudato Si (Terpujilah Engkau). Apabila umat beriman peka terhadap lingkungan akan membuat kita lebih peka terhadap penderitaan, kerinduan dan harapan orang-orang di sekitar. Kodrat alam memberikan pelajaran bahwa keberadaan kita adalah untuk yang lain. Oleh karena itu perhatian dan kepedulian pada yang memberikan landasan menaruh hormat pada setiap mahluk lingkungan dan alam semesta.

Berikut adalah konsekuensi cara hidup beriman dan perwujudannya pada lingkungan hidup kita.
1. Kepedulian pada lingkungan hidup merupakan wujud iman. Lingkungan terdekat seperti diri sendiri, keluarga, kebersihan udara sekitar, pembuangan sampah pada tempatnya dan lain sebagainya merupakan arena kedalaman iman itu diwujudkan.
2. Memperlakukan alam dan mahluk ciptaan sebagai saudara berarti selalu menyapa, menjaga dan menciptakan atmosfir yang mendukung perkembangan hidup dan kelestariannya. Mensyukuri bumi sebagai ibu pertiwi dan mendoakan melestarikan semua mahkluk agar berbahagia membuat iman kita hidup dan lebih bermakna.
3. Damai dengan diri sendiri, dengan Tuhan dan seluruh alam ciptaan mengalirkan energi kedamaian dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Itulah shaloom, damai sejahtera di mana perdamaian dengan alam, segala mahluk ciptaan dan dengan Tuhan nyata menjadi pengalaman doa, syukur dan aneka usaha melestarikan dalam pelukan kesucian dan persaudaraan semesta.

Melalui persaudaraan ekologis umat beriman menghayati alam semesta dan ciptaan sebagai saudara-saudarinya. Dengan demikian hidup manusia juga menjadi semakin peka akan kondisi lingkungan dan ciptaan Tuhan. Alam semesta dan seluruh ciptaan menjadi jejak-jejak ilahi dan tuntunan jalan menuju perjumpaan Tuhan yang hidup dan terus berkarya melindungi-menyapa-mengingatkan serta menyadarkan kita umat manusia.

Penulis : Andreas Yumarma - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi prbadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments