Menjadi Pribadi Diskresif – Penabur Benih Baik atau Jahat

Hidup Rohani
Hidup rohani kita tidak hanya menyangkut kegiatan peribadatan, baca Kitab Suci dan melakukan aneka latihan rohani (spiritual exercises). Lebih dari itu, kehidupan rohani menunjuk pada keseharian seseorang mulai dari bangun pagi sampai istirahat malam, keseharian hidup individual atau dalam kebersamaan dengan siapapun, langsung atau tidak langsung, dekat atau jauh, resmi atau tidak resmi, kapan dan dimanapun seseorang berada. Maka hidup rohani dihayati sebagai keberadaan hidup kita di hadapan Tuhan dalam praktik keseharian di tengah dunia dengan segala gejolaknya. Dengan kata lain, kita menghayati hubungan kita dengan Tuhan dalam dan melalui aktifitas keseharian, itulah kehidupan rohani kita, “sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom.12:2).

Pribadi Diskresif
Dalam konteks hidup rohani, maka pribadi diskresif adalah pribadi atau seseorang yang mampu melakukan pembedaan atau penentuan dan dapat memilih mana yang baik dan jahat. Prinsip kebaikan-kejahatan merupakan dua realitas yang mendorong atau mempengaruhi seseorang.

Prinsip kebaikan bersifat terbuka, menyangkut banyak orang karena bernilai bagi semua orang, dan sesuai dengan kehendak Tuhan sendiri. Prinsip kejahatan bersifat terbatas, relatif, sempit, bersifat sepihak, karena itu belum tentu sesuai kehendak Tuhan.

Prinsip kebaikan pada umumnya merupakan gerakan ‘sentrifugal’, lepas dari kepentingan sepihak dan menyangkut atau mengusahakan nilai hidup banyak orang. Sebaliknya realitas kejahatan merupakan gerakan yang berpusat pada diri sendiri, dan menarik kepentingan dan kebaikan banyak orang kepada kepenuhan atau pemenuhan kebutuhan dan kepentingan diri sendiri (sentripetal). Keduanya tumbuh dan ada bersamaan.

Injil hari ini mencatat, “Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku." (Mat 13:30). 

Singkatnya hidup diskresif adalah hidup yang mampu membedakan Roh Baik dan Roh Jahat dan lebih memilih untuk melakukan yang benar dan baik di hadapan Tuhan. Maka hidup kita dikelilingi oleh dorongan untuk melakukan yang baik dan benar atau kita dikelilingi oleh dunia kejahatan yang setiap saat menunggu waktu yang tepat untuk menguasai kita. Injil Yohanes mencatat doa Yesus, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari pada yang jahat;…kuduskanlah mereka dalam kebenaran” (17:15,17).

Praktik dan Kebiasaan Diskresif
Setiap hari kita menghayati dan memelihara hidup rohani kita melalui kebiasaan diskresif berikut:
1. HADIR - Dekat dengan Tuhan dan mendengarkan bisikan-Nya. Alkitab menceritakan dua sikap hidup yang dipresentasikan oleh Marta dan Maria, saudara Lazarus. Yesus menegur Marta, “.. engkau menyusahkan diri dengan banyak perkara (baca: pekerjaan) tetapi hanya satu yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya” (Luk.10:41-42).
2. MENDENGARKAN – mengetahui dengan benar dan menerima dalam hati apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam situasi konkrit hidup kita sendiri pun dalam hubungan dengan orang lain seperti Bunda Maria sendiri (bdk. Luk.2:51).
3. MELAKSANAKAN – Setelah hadir dan mendengarkan segala sesuatu yang dikehendaki Tuhan maka tahap selanjutnya adalah berani melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Yesus berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah, dan memeliharanya” dalam praktik hidup konkrit dan dapat dinikmati orang banyak.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments