Menjadi Anak Sulung di Antara Semua Ciptaan

Judul di atas adalah bagian dari kutipan bacaan kedua (Yak. 1:17-27) yang kita dengarkan hari ini. Mungkin ada yang bertanya, “Bukankah manusia adalah ciptaan yang paling bungsu, diciptakan pada hari terakhir dari enam hari penciptaan?”.

Untuk mendekati pertanyaan kritis ini baiklah kita melihat bagaimana Gereja memaknai Kitab Suci. Kita rumuskan dalam bentuk pertanyaan: apakah Kitab Suci ditulis langsung oleh Allah atau diterima oleh manusia dalam bentuk yang sudah jadi? Adakah Kitab Suci “didiktekan oleh Allah” kepada orang pilihannya? Atas pertanyaan itu, Gereja menyatakan bahwa kendati Kitab Suci mempunyai Allah sebagai pengarangnya, dalam penulisan Kitab Suci, Allah memilih orang-orang yang digunakan-Nya memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri. Dengan begitu, penulis Kitab Suci juga adalah pengarang dalam arti yang sesungguhnya (DV 11). Oleh karena itu, untuk menangkap apa yang oleh Allah mau disampaikan, penafsir/pembaca Kitab Suci harus menyelidiki dengan cermat apa yang sebenarnya mau disampaikan oleh para penulis suci, dan apa yang mau ditampakkan oleh Allah dengan kata-kata mereka (DV 12). Dengan kata lain, di balik yang “tersurat/ tertulis” kita harus menangkap apa “yang tersirat”.

Kita tahu, bahwa saat penciptaan, manusia belum ada. Jadi kisah penciptaan bukan laporan sejarah, sehingga kita perlu menyimak yang tersirat di balik tulisan. Malahan, kalau kita membaca pasal 2 khususnya ayat 4-7, kita akan mendapatkan gambaran lain yang dapat memudahkan kita memahami teks dari Yak. 1:18. Di situ, manusia diciptakan saat “belum ada semak apapun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apapun di padang” (Kej. 2:5). Manusia makhluk yang pertama diciptakan. Lagi, dia diciptakan Allah tidak dengan “berfirman”, melainkan lewat perlakuan khusus Allah yakni “menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya” (Kej. 2:7).

Selanjutnya, manusia sebagai ciptaan pertama dan paling istimewa, ditempatkan dalam “taman bahagia” (bukan penjara atau rumah) yang disebut Eden (yang kemudian diterjemahkan “Firdaus”). Manusia yang dengan keistimewaan luar biasa itu, pada ayat 15 ternyata mendapat tugas yang istimewa pula: “mengusahakan dan memelihara taman itu”. Itulah justru tugas “anak sulung” yang sesungguhnya.

“Konsep anak sulung” cukup banyak ditemui dalam Kitab Suci. Anak Sulung memiliki keistimewaan. Dia memiliki warisan dari ayahnya dua kali banyaknya (Ul. 21:17) walaupun bukan lahir dari isteri yang paling dicintai suami. Ada keharusan untuk menebus “anak sulung” (Kel. 13:14; 34:20). Anak sulung juga dianggap mewarisi kegagahan ayahnya (Kej. 49:3), dan harus ditaati saudara-saudaranya (Kej. 27:29), serta punya hak menjadi raja menggantikan ayahnya (2Taw 21:1-3). Dalam keistimewaan itu, dia diminta untuk tidak menyalahgunakannya atau meremehkannya karena hak kesulungan bisa hilang atau sia-sia (Kej. 4:1-16; 25:19- 34).

Yesus sendiri, di antara banyak gelar yang disematkan kepada-Nya, juga disebut sebagai Anak Sulung (Kol. 1:15.18; Rom 9:29; Ibr 1:6.23; Why 1:5; I Kor 15:21-23). Dalam konteks kitab suci yang kita warisi, selain dimaknai sebagai “yang pertama dan lebih utama”, ternyata “kesulungan Yesus” juga berarti “yang daripadanya tergantung yang lain”. Kebangkitan orang mati “bergantung pada kebangkitan Yesus” (I Kor 15:21; Kol 1:18). Kebangkitan-Nya memberi harapan untuk semua manusia (bdk Flp. 2:6-11).

Kalau kepada kita disematkan gelar “anak sulung”, maka dalam diri kita digantungkan harapan dari “semua ciptaan lain”. Sejauh mana kita sudah “mengusahakan dan memelihara” ciptaan yang lain? Jangan sampai kita menyia-nyiakan hak kesulungan yang dititipkan Sang Pencipta Kehidupan kepada kita.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments