Mengenal Hukum Normatif dari Yesus

Hukum itu normatif, artinya mengikat semua pihak yang mengakuinya, dan karena itu wajib ditaati dan dilaksanakan dalam hidup oleh setiap penganutnya. Demikian juga bagi para pengikut-Nya, Yesus menyampaikan Hukum Normatif itu. Mari kita mengenal lebih hukum normatif dari Yesus.

1. “Hukum yang terutama dan pertama, dan hukum yang kedua”
Perikop Injil Matius (22:34-40) menulis tentang seorang ahli Taurat yang bertanya sekadar untuk mencobai Yesus (ayat 35) perihal hukum yang terutama dalam hukum Taurat (ay.36). Yesus menyampaikan dengan tegas, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (ay.37). “Itulah hukum yang terutama dan pertama” (ay.38) “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay.39).

Totalitas Kasih vertikal dan horizontal. Yesus menghendaki para murid-Nya hidup dalam ‘kasih’ dengan Tuhan. Menjadi murid Yesus berarti ‘hadir – ada bersama’ dengan Tuhan, sebuah penyerahan diri sepenuhnya (totalitas) kepada Tuhan dalam diri Kristus. Pengikut Kristus menghayati hidup yang “Kristus-iani” (kristiani), menjadi “Alter Christi” (Kristus yang lain), “Imitatio Jesu” (potret Yesus) kepada sesama maupun kepada ciptaan Tuhan seluruhnya. Kata Yesus, “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh.15:5-6). Pengikut Kristus atas caranya menjadi “In Persona Christi” yang “rajawi” melalui Sakramen Baptis, Ekaristi dan Krisma (Sakramen Inisiasi) yang kita terima untuk menjadi “garam dan terang dalam dunia (Mat.5:13-16) maupun “profesional” melalui tahbisan (hirarki) dalam Gereja. Maka hakekat keberadaan hidup kristiani adalah keterarahan hidup dalam kasih sepenuhnya baik kepada Tuhan (vertikal), maupun keterarahan hidup dalam kasih yang sama kepada sesama (horizontal). Rasul Paulus mencatat, “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada Allah: itulah adalah ibadahmu yang sejati” (Rom.12:1).

2. Sumber dari segala sumber hukum gerejawi
Akhir dari bacaan Injil di hari Minggu ke-30 ini mencatat kata-kata Yesus, “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi"(22:40). Pengikut Kristus dan segala keberadaan hidupnya terikat pada kata-kata Yesus. Totalitas cinta kepada Tuhan dan sesama mendasari setiap kebijakan dan aturan yang berlaku dalam gereja. Hidup dan karya gerejawi bersumber pada hukum normatif Kristus. Maka karya gereja adalah karya kegembalaan Tuhan sendiri yang sedang membimbing kawanan umat-Nya. Penginjil Yohanes bersaksi, “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (3:30). Rasul Paulus menulis, “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal.2:20).

Magisterium Gereja. Kita mengenal dalam gereja Katolik, adanya “Magisterium Gereja”, yakni jabatan pengajaran resmi Gereja, termasuk Paus dan para Uskup. Kata ‘magisterium (Latin: magister = guru) dikenakan para Uskup dalam persatuannya dengan penerus Petrus, Uskup Roma (KGK 85) yang memiliki otoritas (bukan pusat birokratis) guru dan kewibawaannya dilaksanakan atas nama Yesus Kristus untuk menafsirkan Kitab Suci dan membuat penilaian mengenai “tradisi” dalam gereja, serta menyatakan otentisitas tradisi-tradisi itu. Maka Gereja, yakni segenap umat beriman kristiani percaya (baca: menyerahkan diri) kepada Tuhan yang sedang memimpin peziarahan hidup di dunia ini. Paulus mencatat, “Karena kami tahu, bahwa jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia” (2 Kor.5:1).

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments