Mencintai Devosi kepada Hati Kudus Yesus

Kata “hati” kerap kali digunakan sebagai simbol pusat hidup manusia – emosi, cinta, hasrat, dan kehendak. Ketika harus bekerja keras demi keluarga, mungkin kita pernah berkata, “Aku ingin melakukannya dengan sepenuh hati”. Di dalam Kitab Suci, kita dapat menemukan makna “hati” sebagai tanggapan terdalam diri manusia terhadap panggilan dan kasih Allah.

Pada hari Jumat setelah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Gereja merayakan Hari Raya Hati Kudus Yesus. Di samping perayaan liturgis, Gereja mempunyai bentuk devosi kepada Hati Kudus Yesus yang telah berkembang di tengah umat sejak Abad Pertengahan. Dalam Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, istilah “Hati Kudus Yesus” menunjuk pada seluruh misteri Kristus yang mencakup kasih Ilahi-insani yang tidak terbatas kepada Bapa dan saudara-saudari-Nya (Direktorium No. 166). Hati Kudus Yesus pun digambarkan dengan indah dan penuh kehangatan – Yesus menunjukkan Hati-Nya yang tertikam dan dimahkotai duri bersama salib di atasnya serta cahaya yang melingkupi.

Dalam Injil, kita dapat menemukan kisah tentang ketergerakan hati Yesus kepada orang banyak (Mat 9:36) maupun pernyataan diri-Nya sebagai “yang lemah lembut dan rendah hati” (Mat 11:29). Sesudah menghembuskan nafas-Nya yang terakhir, seorang prajurit menikam lambung-Nya, dan dari sana mengalir darah serta air (Yoh 19:34). Inilah pendasaran biblis yang digali oleh para Paus mengenai devosi kepada Hati Kudus Yesus (Direktorium No. 167). Di dalam Hati-Nya, kita mengalami kerahiman Allah dan kehendak-Nya yang tak terbatas untuk menjalin relasi dengan umat manusia.

Menurut sejarah, devosi kepada Hati Kudus Yesus mulai berkembang sejak abad ke-12 dan didorong oleh banyak orang kudus, seperti St. Bernardus, St. Bonaventura, St. Mathilda dari Margburg, dan Getturd dari Pertapaan Helfta. Sekitar abad ke-16 dan ke-17, Gereja menghadapi gerakan Yansenisme yang menekankan keadilan Allah yang keras, ketidaklayakan dan ketakutan manusia di hadapan Allah. Pada masa itu, devosi kepada Hati Kudus Yesus mampu memberikan gambaran spiritual yang seimbang dan membangkitkan dalam diri kaum beriman tentang kasih dan kerahiman Allah melalui Hati-Nya. Hal itu juga disampaikan St. Fransiskus dari Sales dalam kerasulan dan homilinya.

Secara istimewa, St. Margareta Maria Alacoque, seorang suster di Prancis, menerima penampakan dari Hati Kudus Yesus pada Tahun 1673 sampai 1675. Kepada St. Margareta Maria, Yesus menganjurkan kebaktian khusus kepada Hati Kudus-Nya pada hari Jumat Pertama dan memberikan 12 janji kepada mereka yang setia berdevosi kepada Hati-Nya. Melalui bantuan St. Klaudius de la Colombiere, bapa rohaninya, St. Margareta Maria mempromosikan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Pada tahun 1856, Paus Pius IX menetapkan Pesta Hati Kudus Yesus bagi Gereja universal. Lalu, pada tahun 1899, Paus Leo XIII mengangkattingkatan liturgi menjadi Hari Raya. Bentuk devosi kepada Hati Kudus Yesus yang dianjurkan Gereja adalah konsekrasi pribadi kepada Hati Kudus, litani, doa pemulihan, dan devosi Jumat Pertama (Direktorium No. 171).

Akhirnya, devosi kepada Hati Kudus Yesus menuntun kita pada kasih, syukur dan pertobatan yang dilimpahkan-Nya. Anugerah tersebut kita alami dalam Sakramen Ekaristi dan Rekonsiliasi. Devosi kepada Hati Kudus Yesus memiliki relasi yang erat dengan sakramen-sakramen Gereja. Lantas, berkat teladan kemurahan Hati-Nya, kita diharapkan semakin bertumbuh dalam kesabaran, kerendahan hati, dan kemurahan hati. Ada sebuah doa sederhana dan indah yang dapat kita doakan dalam hati, “Yesus yang lembut dan murah hati, jadikanlah hatiku seperti Hati-Mu”.

Penulis : Fr. Carolus Budhi P

Sumber :
-. Bishop Donald J. Hying, “Understanding the Devotion to the Sacred Heart of Jesus and What it Means” dalam Simply Catholic:
-. https://www.simplycatholic.com/why-thesacred-heart/;
-. Jean Bainvel, “Devotion to the Sacred Heart of Jesus” dalam The Catholic Encyclopedia Vol. 7 (1910) dari New Advent: http://www.newadvent.org/cathen/07163a.htm;
-. Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi: Asas-asas dan Pedoman, diterjemahkan Komisi Liturgi KWI (Jakarta: Obor, 2011)

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments