Memelihara Hidup Baru dalam Roh

Ritual doa novena dengan ujud khusus memohonkan karunia-karunia dan buah-buah Roh, berpuncak di Hari Raya Pentakosta. Kita merayakan Pesta Roh Kudus turun atas para Rasul, sebagai kepenuhan atas janji Yesus kepada para murid-Nya,”….Aku akan mengutus Dia (Penghibur) kepadamu” (Yoh.16:7), “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh. 16:13).

Kita percaya bahwa Yesus yang bangkit dan telah kembali kepada Bapa di Surga, dalam ritual di Hari Raya Pentakosta ini mengingatkan kita bahwa secara Mulia Yesus hidup dan menyertai kita dengan ke-tujuh karunia-Nya, yakni hikmat, pengertian, nasehat, keperkasaan, pengenalan akan Allah, kesalehan dan Roh takut akan Allah. Anugerah dan karunia Roh Kudus memperlengkapi diri-hidup kita, serta membuat disposisi diri kita siap untuk mendengar ilham Roh Kudus yang ada dalam diri kita.

Panggilan hidup kita adalah mengusahakan kondisi tetap sebagai pengikut-pengikut Kristus yang sejati, menjadi pendengar dan sekaligus pelaksana firman-Nya. Atas cara ini maka kita dapat menghasilkan buah-buah yang sesuai kehendak-Nya. Katekismus Gereja Katoik (KGK) nomor 390, menulis, “Buah-buah Roh Kudus adalah kesempurnaan yang dibentuk di dalam diri kita sebagai buah-buah pertama kemuliaan abadi. Tradisi Gereja membuat daftar dua belas buah Roh: kasih sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kebaikan hati, kebajikan, kemurahan hati, kelemah lembutan, kesetiaan, kesederhanaan, penguasaan diri dan kemurnian (Gal. 5:22-23)”.

Merayakan Pesta Pantekosta, berarti merayakan status hidup baru kita, yakni Hidup Baru dalam Roh Kudus.

Kita memiliki disposisi hidup baru dalam Tuhan di tengah situasi konkrit kita, di tengah pandemik yang masih melanda dunia, di tengah segala kesibukan hidup dan karya kita dalam rumah tangga maupun di tengah masyarakat sesuai profesi dan tugas kita masing-masing. Berikut adalah metode yang dapat membantu kita memelihara disposisi diri “Hidup Baru dalam Roh”.

“Hadir”
Disposisi diri yang pertama adalah ‘ke-hadir-an’. Kita bawa seluruh diri kita, segenap perhatian dan hidup kita kepada Tuhan. “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalua ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku” (Yoh. 15:4).

“Mendengarkan”
Disposisi diri yang kedua adalah mendengarkan dan bisa membedakan suara yang berasal dari Tuhan dan bukan Tuhan. Beberapa contoh dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, di antaranya, Abraham mendengarkan Sabda Tuhan yang memanggilnya, (Kej. 12:1-3), dan menjadi Bapa segala bangsa, Samuel yang mendengarkan panggilan Tuhan (1Sam. 3:1); dalam
Perjanjian Baru, Maria yang berkenan di hadapan Tuhan mendengarkan Sabda Tuhan dan menjadi Bunda Tuhan (Luk. 1:26-28), Yoseph yang tulus hati ‘mendengarkan’ Sabda Tuhan yang disampaikan kepadanya (bdk. Mat. 2:13); sabda Yesus sendiri, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan memeliharanya” (Luk. 11:28).

“Mengikuti”
Disposisi diri yang ketiga untuk melengkapi kedua yang lain adalah meingikutinya dalam hidup. “Jadilah pelaku (baca: pengikut, penurut) firman dan bukan hanya pendengar; jika tidak, kamu menipu diri sendiri” (Yak. 1:22). Kita juga bisa belajar dari tokoh-tokoh Kitab Suci di atas, Abraham, Samuel, Maria dan Yosep, serta contoh-contoh dalam Kitab Suci, mereka semua setia melaksanakan firman Tuhan yang disampaikan kepada mereka. Bunda Maria memberi jawaban atas Sabda Tuhan yang diterimanya, katanya, “Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38).

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments