Maria Bunda Segala Suku dan Budaya

Kita sudah memasuki bulan Rosario. Dalam Doa Rosario, minimal dalam Litani St. Perawan Maria (yang mulai digunakan sejak tahun 1558), kita akan bertemu dengan gelar-gelar seperti: Bunda Gereja, Cermin Kekudusan, Benteng Gading, Bunda Allah dan lain-lain (https://id.wikipedia.org/wiki/Litani_Santa_Perawan_Maria).

Dalam Kitab Suci kita mengenal Maria sebagai perempuan yang bersahaja, yang lebih banyak “menyimpan perkara dalam hatinya” (Luk. 2:19). Tak tampak kesan ia ingin menjadi orang terkenal. Ia justru mendapat tugas berat: mengandung dengan cara yang tidak biasa, menyaksikan derita Putera-Nya. Namun, ia tetap konsekuen dengan janji dan harapannya : “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk. 1:38).

Kita lihat bahwa justru kepasrahannya kepada Tuhan membuatnya mendapat tempat di hati umat beriman. Elizabeth menyebutnya “Ibu Tuhanku” (Luk. 1:43). Bapa-Bapa Gereja memberinya gelar Theotokos (Bunda Allah) pada konsili Efesus (431) mengingat Yesus, Putera yang dilahirkan adalah Allah yang menjadi manusia.

Gereja juga lambat laun meyakini sapaan Malaikat Gabriel kepadanya “yang dikaruniai” atau “penuh rahmat” (Luk.1:28) sebagai tanda bahwa sesungguhnya Maria “dikandung tanpa noda”. Gereja merayakannya setiap tanggal 8 Desember (paling lambat sejak tahun 1476), yang kemudian dinyatakan sebagai dogma oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854.

Gelar ini (dikandung tanpa dosa = Immaculate conception) ternyata menjadi nama yang dipakai Bunda Maria memperkenalkan diri kepada Santa Bernadet di Lourdes 4 tahun sesudahnya (1858).

Ada juga gelar yang dihubungkan dengan tempat penampakan Maria, seperti: Bunda Karmel, Stella Maris (Bintang Laut). Gelar yang terakhir mengingatkan kita akan seorang pedagang yang dalam pelayaran dari Kreta ke Roma. Saat kapal oleng dihantam badai, sang pedagang mengeluarkan lukisan “Maria Pelindung Abadi” yang dia bawa dan mengajak penumpang kapal berlutut dan berdoa. Seketika awan gelap berganti cerah.

Gelar-gelar Bunda Maria tidak terjadi seketika, sangat dinamis, tumbuh dan hidup seiring relasi kaum beriman dengan Bunda Maria. Tidak mustahil bahwa gelar-gelar yang baru akan
muncul di kalangan umat beriman.

Pada tahun 2015 yang lalu, pernah diadakan lomba sayembara hasil karya seni anak bangsa, baik lukis maupun patung dan fotografi dengan mengusung “Maria Bunda Segala Suku” sebagai tema lomba. (https://www.sesawi.net/maria-berwajah-khas-indonesiadi- museum-maria-bunda-segala-sukumci-3/).

Rupanya lomba berangkat dari upaya untuk membaktikan diri kepada Bunda Maria serta keinginan memiliki kreasi seni sosok Bunda Maria “bercita rasa multi etnis Indonesia” mengingat sejumlah bangsa di dunia memiliki sosok Bunda Maria versi masing-masing bangsa, sebagaimana bisa disaksikan di lorong dan bagian dalam Gereja “The Church of Annunciation” of Nazareth.

Pemenang lomba seharusnya ditentukan tanggal 30 Mei 2016 (setahun setelah lomba dimulai 30 Mei 2015). Namun sejumlah kendala membuat pemenang baru diumumkan tanggal 22 Mei 2017. Ketika itu, Indonesia mengalami polarisasi sebagai dampak Pilkada DKI, sehingga Mgr. Suharyo pada saat pemberian hadiah pemenang memaknainya sebagai sesuatu yang bukan kebetulan (https://www.beritasatu.com/archive/495035/kisah-di-balik-devosi-kebangsaan-mariabunda-segala-suku).

Iya, momentum “Maria Bunda Segala Suku” akhirnya menjadi bagian dari upaya merajut kebersamaan sesama anak bangsa. Di awal sosialisasi Ardas KAJ 2016-2021, kita juga diperkenalkan dengan “Rosario Merah Putih”, supaya kita terus berdoa dan memperjuangkan kesatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Iman Katolik selain bersifat satu, kudus, dan apostolik, juga berciri katolik. Katolik artinya universal, yang dalam LG 13 berarti “memajukan dan menampung segala kemampuan, kekayaan dan adat-istiadat bangsa-bangsa sejauh itu baik; tetapi dengan menampungnya juga memurnikan, menguatkan serta mengangkatnya”.

Dengan demikian kalau kita mengakui Bunda Maria sebagai Bunda Gereja, adalah tepat kalau kita menempatkan “semua suku dan budaya” di Indonesia dalam doa dan perlindungan Sang Bunda. LG 13 sekali menegaskan bahwa “dalam persekutuan gereja selayaknya pula terdapat Gereja-gereja khusus yang memiliki tradisi mereka sendiri”. Selamat berdoa Rosario sambil belajar beriman di tengah budaya Indonesia.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments