Lewat Jalan Lain

Tahun baru membuat keluarga Tere menikmati kebersamaan di rumah. Beberapa teman dan keluarga datang mengucapkan “Selamat Natal dan Tahun Baru”. Sungguh suasana baru, banyak perjumpaan dengan lemparan senyum dan canda tawa. Beberapa tetangga non-Kristen juga ikut datang berkunjung ke rumah. Salah satu dari mereka adalah keluarga yang tinggal ratusan meter dari rumah, yang Santo dan Tere biasa panggil sebagai Bu Le. Saat disodori minum oleh Tere, Bu Le angkat bicara, “Kandang natal kecil buatan siapa ini? Santo atau Tere, atau bersama-sama? Bagus, rapih sekali. Oh ini ada tulisan. Lalu pulanglah mereka ke negerinya menempuh jalan lain. Maksudnya apa tu Ter”.

Tere senang bahwa kandang Natal rancangannya mendapat perhatian. Mendapat pertanyaan dan tatapan wajah dari Bu Le, Tere angkat bicara, “Ah itu bikinnya banyak trial and error Bu Le. Awalnya dekorasi ini di sana, patung gembala ini di situ tetapi lalu dipindah Mas Santo ke ujung. Ternak ini ditaruh Ibu di dekat bayi Yesus katanya  untuk menggambarkan bahwa domba-domba pun ikut gembira. Lalu kartu yang Bu Le tadi baca itu sebetulnya merupakan tema pilihan Natal tahun ini. Ibu gantung di depan biar selalu diingat katanya. Di baliknya ada cerita tentang ketiga orang bijak ini”, kata Tere sambil menunjuk tiga patung di antara patung lainnya. “Berdasarkan cerita Alkitab, ketika sudah berjumpa dengan bayi Yesus, mereka mendapat pesan dalam mimpi supaya tidak kembali menghadap Raja Herodes, karena Herodes justru iri dan ingin membunuh bayi Yesus. Begitulah, maka dalam cerita, ketiga orang majus ini pulang ke negeri mereka masing-masing melewati jalan lain” kata Tere menyelesaikan penjelasannya.

“Wao keren Ter. Bu Le baru tahu ada ceritera seperti itu. Tetapi kalau Bu Le pulang, tidak perlu menempuh jalan lain khan? Paling nanti ada yang bawa kue!” komentar Bu Le setelah mendengar keterangan Tere.

“Hahaha… adik ini bisa saja” kata Ibu dari samping kandang natal. “Siapalah kami ini sehingga orang ingin berbuat jahat pada kami” kata Ayah ikut bercanda.

“Nah… Bapak jadi kepancing omongan saya khan? Tetapi mau serius dikit nih. Kalau digantung di depan berarti ada maksud atau maknanya. Kira-kira pesannya apa?” Bu Le kembali bertanya.

“Karena Ibu yang gantung, saya tafsirkan bahwa itu pertanda Ibu berniat akan mencari jalan lain dalam memasak, sehingga bahan makanan sederhana terasa lesat” potong Ayah. Mendengar namanya disebut, Ibu angkat bicara, “Ini penafsiran atau usul atau perintah Pa? Apa tidak tahu ya... kalau selama ini setiap kali masak, Ibu sudah tambahkan menu senyum. Juga ditambah menu doa supaya semua yang makan sehat-sehat”

“Buat Santo dan Tere, sebagai anak muda. Apa tulisan itu punya pesan khusus? Bukan pertanyaan ujian lho” kata Bu Le.

“Jujur Bu Le, dari kemarin Santo mencari pesannya tetapi belum ketemu. Tetapi candaan Ayah ke Ibu tadi mengingatkan perbincangan kami bersama dosen dalam perkuliahan beberapa waktu yang lalu. Mungkin Bu Le tahu Tata Motor Limited, salah satu produsen mobil terkenal di India. Di saat penjualan mereka mengalami kendala, mereka sungguh mencari jalan lain.

Dari visi-misinya, kelihatan bahwa perusahaan ini punya komitmen tinggi menjadi salah satu dari 25 merek mobil yang paling dikagumi dan berharga di dunia, melalui peningkatan kualitas hidup. Mereka ingin unggul dalam hal ESG (Enviromental, Social and Governance). Tidak hanya bicara tetapi mereka menyusun target. Anak perusahaan mereka Jaguar dan Landrover yang diakuisisi dari Ford Motor Company tahun 2014, ditargetkan mencapai nol emisi karbon tahun 2039. Lalu tahun berikutnya 2040 mereka targetkan nol emisi karbon buat kendaraan penumpang, diikuti kendaraan komersial seperti truk tahun 2045” kata Santo sangat antusias.

“Kak Santo, Tere pernah baca tentang Tata Motor. Katanya untuk penggunaan listriknya, mereka sudah menggunakan energi terbarukan, kurang lebih hampir 20% dari total kebutuhan listrik mereka. Lalu untuk penggunaan air, perusahaan juga menghemat hampir 20% air melalui limbah daur ulang yang mereka kelola. Andai saja perusahaan di Indonesia juga mulai berlomba ke arah sana”, kata Tere.

“Wao… Ayah dan Ibu pasti bangga punya anak seperti kalian. Bu Le juga sepulang dari rumah ini, senantiasa

mau mencari jalan lain. Jalan lain gambarannya pasti lebih sulit, karena bukan jalan yang biasa. Tetapi itu mungkin pesan tahun baru untuk kita semua. Mari mencari jalan lain”, kata Bu Le sambil pamit kepada Ayah-Ibu serta Tere dan Santo.

Penulis : Salvinus Mellese - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments