Kitab Suci, Wahyu dan Ilham

Semua agama di dunia ini memiliki Kitab Suci. Disebut Kitab Suci bukan karena kata-kata atau perumusannya, tetapi karena karya Allah yang tetap aktual sepanjang segala jaman. Maka tidak terkecuali Agama Katolik pun mempunyai Kitab Suci, yang disebut Alkitab, yang berarti Kumpulan kitab-kitab yang mengungkapkan/ memberi kesaksian iman umat beriman yang diwakili umat Israel dan terutama iman Gereja perdana sepanjang sejarah keselamatan umat manusia dalam bentuk tulisan.

Kesaksian iman ini diawali dengan tindakan Allah yang mewahyukan diri-Nya sebagai Pencipta alam semesta saat menciptakan dunia ini seisinya kemudian mulai mewahyukan kehendak-Nya untuk menyelamatkan dunia sejak memanggil Abraham. Puncaknya ketika Allah mewahyukan diri-Nya melalui dan dalam diri Yesus Kristus yang adalah Sang Sabda itu sendiri yang telah menjadi manusia untuk memperkenalkan diri-Nya dan menyatakan kehendak-Nya.

Sesungguhnya Alkitab itu ditulis oleh Allah sendiri melalui para nabi, para penulis suci, para rasul (tidak semua) dan asisten-asisten mereka yang diilhami atau memperoleh inspirasi atau rahmat khusus dari Roh Kudus. Santo Bernardus dari Clairvaux mengajarkan : ”Iman Kristen bukanlah ”agama Kitab”, tetapi agama Sabda Allah – ” bukan kata-kata yang tertulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” yang bermakna bahwa iman Kristen yang sejati bukanlah “Agama Kitab”, melainkan agama dari Sabda Allah yang menjadi manusia dan hidup.

Maksudnya adalah bahwa Kekristenan sejati tidak mendasarkan ajaran imannya semata-mata hanya dari Kitab Suci saja. Sumber ajaran iman dan kebenaran Kekristenan adalah Sang
Sabda Allah, Kristus sendiri. Sang Kristus mewariskan ajaran-ajaran-Nya tidak hanya melalui Kitab Suci saja, tetapi juga melalui Tradisi dan Magisterium (Kuasa Mengajar) Gereja. ( Bdk KKGK 18)

Oleh sebab itu Gereja Katolik tidak menganut paham “ Sola Scriptura “ (Kitab Suci Saja) tetapi menjadikan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja sebagai Sumber Iman atau Tiga Pilar Pokok Iman Katolik. Memang pada awal mula Wahyu Allah yang dipercayai oleh Gereja, dihayati dalam kehidupan , didoakan dalam ibadat, ada rumusan – rumusan iman tetapi tidak ditulis dalam bentuk tulisan itulah yang disebut Tradisi Suci. Tradisi Suci yang dituliskan dalam bentuk tulisan itulah yang disebut Kitab Suci, yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang merupakanungkapan dan rumusan Tradisi sebagai pertemuan dan kesatuan antara Allah dan manusia. Maka seluruh Kitab Suci, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, adalah sabda Allah yang ditanggapi manusia dalam iman.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Perjanjian Lama (PL), merupakan tulisan tentang hubungan Tuhan dengan Israel, “bangsa pilihan”,ditulis antara tahun 900 SM hingga 160 SM. Terdiri dari 46 kitab. Ke-46 kitab dalam Perjanjian Lama dapat dibagi dalam empat bagian: 5 Kitab Pentateukh, 16 Kitab Sejarah, 7 Kitab Puitis dan Hikmat, serta 18 Kitab Para Nabi

Sedangkan Perjanjian Baru (PB) yang mana Yesus Kristus; pribadi-Nya, ajaranNya baik melalui perkataan maupun perbuatan-Nya, pesan-Nya, sengsara-Nya, wafat serta kebangkitan-Nya, identitas-Nya sebagai Mesias yang dijanjikan dan hubungan-Nya dengan manusia sebagai Tuhan dan saudara, yang menjadi tema pokok didalamnya yang terdiri dari 27 kitab yaitu 4 kitab Injil (turunan kata Arab) yang berasal dari kata 'euaggelion' (Y); atau 'evangelium' (L) yang berarti Kabar Baik atau Kabar Gembira yaitu Injil : Matius, Markus dan Lukas (Injil Sinoptik) serta Injil Yohanes , 1 Kisah Para Rasul, 21 Epistula (14 Surat Rasul Paulus dan 7 Surat Apostolik) dan  Kitab Wahyu,yang ditulis tahun 50 – tahun 140 yang kemudian di lakukan Kanonisasi Alkitab baru pada tahun 382 jaman Paus Damasus kemudian
Konsili Hippo 393, Konsili Kartago 397, Paus Innocentus 405 dan pada tahun 419 pada Konsili Cartago diumumkan daftar 27 Kitab Perjanjian Baru , dengan demikian jumlah Kitab Alkitab ada 73 Kitab . Namun, karena Konsili Trente (tahun 1545-1563) menghitung Kitab Ratapan sebagai bagian dari Kitab nabi Yeremia, maka jumlah kitab menjadi 72 saja.

Karena Alkitab itu Wahyu Allah yang diilhamkan Roh Kudus kepada para Nabi, Penulis Suci, Para Rasul dan asisten-asistennya yang mana mereka itu masing masing hidup pada jaman yang berbeda, latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda, gaya sastra yang berbeda maka untuk membaca dan menafsirkan makna yang terkandung didalamnya harus dalam terang Roh Kudus, di dalam bimbingan Magisterium Gereja menurut kriteria :
1) harus dibaca dengan memperhatikan isi dan kesatuan dari keseluruhan Kitab Suci,
2) harus dibaca dalam Tradisi yang hidup dalam Gereja,
3) harus dibaca dengan memperhatikan analogi iman, yaitu harmoni batin yang ada di antara kebenaran- kebenaran iman itu sendiri.

Oleh sebab itu untuk menafsirkan Perjanjian Lama harus dalam terang Perjanjian Baru, dan untuk menasirkan Perjanjian Baru harus dalam terang Tradisi Suci dan juga mesti memperhatikan jenis sastranya.

Alkitab itu sangat penting bagi Gereja, karena Gereja harus mengenal Kristus , untuk mengenal Kristus harus mengenal Alkitab sebagaimana dikatakan St Hieronimus : “IGNORATIO SCRIPTURARUM IGNORATIO CHRISTI EST … “ Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!” dan 2 Tim 3:16 “ Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran: 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

Salam & Berkah Dalem

Penulis : Aloysius Haryanto

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments