Kitab Suci, Tradisi, Magisterium - Sebuah Narasi Ilustrasi Kehidupan

Pandemi yang berkepanjangan dengan praktik pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ternyata semakin memungkinkan orang untuk kebanyakan beraktivitas online dan virtual. Kondisi ini telah merekatkan kembali yang dekat, tetapi membuat aneka praktik virtual menjadi kenyataan, di samping banyaknya jumlah korban yang meninggal akibat pandemicini.

Srengenge Purwo, Tan Hoa Sui, Purnama Batubara, Pinkan Kawengian, Firmus Tulukaman dan Anieta Serui adalah orang-orang muda yang sudah saling kenal melalui komunikasi online.

“Hallo teman-teman… tahukah kalian bahwa “Ada Kebun Raya Katolisitas...”? Siapa Pemilikya?” tanya Srengenge Purwo. Purwo, demikian panggilannya, mulai berceritera kepada teman-temannya. Disebut ‘Kebun Raya” karena dari sanalah sumber kehidupan bagi yang menggunakannya. Disebut “Katolisitas” karena menunjukkan karakteristik sebagai katolik, dan para ’penggarap’ dan ‘penuai’ adalah semua orang yang kepadanya Tuhan berkenan (bdk. Mat. 11:25-27; Mzm. 22:8; 1Kor. 14:30). Bagaimana Tan Hoa Sui, orang Jakarta?

Kebun raya katolisitas memiliki tanaman unggulan, “Pohon Kitab Suci” yang merupakan “Firman” yakni Tuhan sendiri (bdk.Yoh. 1:1), yang telah menjadi manusia (Yoh. 1:14), Dia yang
selalu mengingatkan kita, “Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada Bapa kalua tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6). Ingat, lho… teman-teman… kita sedang berada di bulan Kitab Suci. Inilah tema kami umat KAJ. Bagimana dengan kamu, hai Purnama Batubara...?

Mendalami Kitab Suci dengan pelbagai bentuk tradisi tahunan membantu kita semua untuk tetap berpegang pada Tradisi Gereja Perdana yakni beriman kepada Tuhan dan menghayati hidup sosial-karitatif kepada orang lain khususnya yang menderita akibat pandemik ini. Hai, teman-teman… katanya pandemik itu sudah merambat sampai ke daerah-daerah? Bagaimana Pingkan di Manado, Apakah Firmus bisa mengatakan sesuatu tentang Sulawesi dan maluku, sebelum teman Anieta dari Papua ?

Betul sekali, bahwa virus korona itu juga telah melanda daerah kami; ada banyak yang sudah menjadi korban. Memang harus diakui juga bahwa tidak sedikit orang yang tidak peduli kepada arahan dan petunjuk pemerintah. Para pemimpin Gereja, Bapa Uskup, para imam dan pemimpin umat tetap memberi himbauan terus menerus agar segenap umat dapat menjaga protokol kesehatan. Gereja-gereja kamipun membuka posko-posko dan satuan tugas untuk pelayanan vaksinasi kepada segenap anggota gereja dan masyarakat luas.

Ayo, mari kita menjadi role model untuk merawat ‘kebun raya katolisitas”, menghidupkan kembali budaya membaca Kitab Suci sebagai roti kehidupan kita, berpegang teguh pada Tradisi Gereja dan setia menjalankan ajaran-ajaran Tuhan melalui Gereja-Nya untuk menangkal setiap pandemi, baik jasmani maupun rohani.

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments