Kedatangan Yesus yang Kedua & Kehadiran Religius

Time flies like an arrow, alias waktu berlalu seperti sebuah panah, merupakan sebuah ungkapan lama yang tetap relevan dan mengisahkan realitas hari ini. Waktu Panjang, lingkaran liturgi gereja tahun 2021 telah membawa kita sampai di penghujungnya.

Liturgi hari ini, di hari Minggu Pekan XXXIV, tanggal 21 November 2021, sekaligus merupakan Hari Raya Tuhan kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Betapa tidak! Kita wajib bersyukur atas segala penyelenggaraan Tuhan dan penyertaan-Nya bagi kita sepanjang tahun liturgi ini. Situasi kontekstual sosial, bahkan global yang diterpa pandemi belum berujung ini, tentu saja harus menjadi dasar dan alasan ucapan syukur dan terima kasih kita semua atas perlindungan Tuhan yang turut terlibat dalam sakit dan susah kita akibat pandemi COVID-19.

Hanya campur tangan Tuhan sajalah yang telah membawa kita keluar dari segala susah itu. Kehidupan kita menjadi kehidupan yang sarat makna, bahwa “Tuhan telah datang, Tuhan tengah datang, dan Tuhan akan datang untuk kedua kalinya”. Itulah makna kehidupan kristiani yang kita
hayati, yakni sebuah “Kehadiran Religius”. Berikut beberapa
apologia iman yang bisa dikemukakan seputar tema hari ini.

Kehadiran Religius sebagai keterarahan seluruh hidup Iman kristiani dihayati sebagai suatu kehidupan bersama Tuhan. Kehidupan adalah suatu kehadiran atau gerakaktif yang melibatkan seluruh diri dan hidup rohaniah. Hidup dalam Tuhan mulai dari hidup konkrit di dunia ini, melalui segala jatuh-bangun, susahsenang, menuju kepenuhannya dalam Kerajaan Tuhan.

Injil hari ini (Yoh.18:36) mencatat, "Jawab Yesus, Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika Kerajaan-Ku dari dunia ini, pasti hamba-hamba-Ku telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.". Hidup dalam Tuhan adalah hidup di jalan kebenaran yang Tuhan kehendaki. Injil mencatat lagi, “Maka kata Pilatus kepada-Nya, ”Jadi Engkau Raja?” Jawab Yesus: “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; (Yoh. 18:37)

Kebenaran Tuhan memerdekakan kita. Yang dimaksudkan adalah bahwa manusia hidup secara bebas sebagai pengikut Tuhan. Manusia dapat menentukan pilihannya yang terbaik untuk hidup sebagai pengikut Kristus. Atas cara lain, kebenaran kristiani ini dapat dirumuskan sebagai berikut. Tatanan kehidupan kristiani mengisyaratkan bahwa dorongan biologis, hasrat dan keinginan emosional serta prinsip keyakinan sebagai pengikut Kristus berbentuk keutamaan diri dan hidup terpuji akan mengatasi kedua hasrat dan dorongan pertama.

Keutamaan diri dan hidup kristiani mengarahkan kehidupan ini pada  keyakinan bahwa kita berasal dari Tuhan, sedang mendengarkan SabdaNya, di jalan menuju kembali kepada sumbernya, karena “setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku” (Yoh.18:37c), demikian Sabda Yesus sendiri.

Kehadiran religius menjadikan kehidupan kristiani suatu ‘kehidupan transformatif’, suatu pelampauan diri menuju “aku sejati” dalam relasi “anak – Bapa” mulai dari dunia ini sampai pada kepenuhannya. Kehadiran religius memampukan setiap orang pengikut Kristus menghayati ‘jalan-tembus’, dan menghayati kehidupan ini sebagai pengkinian Kerajaan Allah di dunia ini.

Kehadiran religius tidak pernah membuat suatu kehidupan ‘bukan tanpa masalah dan pergumulan’! Sebaliknya, kehadiran religius memotivasi dan menginspirasi setiap pengikut Kristus untuk ‘tembus-pandang’ atau ‘jalantembus’ melihat kehadiran Tuhan di tengah situasi konkrit sekarang dan disini (hic et nunc) ataupun dalam praktik relasional dengan alam, sesama yang ditemui setiap hari.

Maka kehadiran religius ini menjadi suatu bentuk pelampauan diri setiap  pengikut Kristus, berpegang kepada-Nya sebagai ‘Sumber Hidup’, berpegang kepada-Nya sampai pada tujuan kehidupan ini. Kitab Wahyu mencatat, “Aku adalah Alfa dan Omega, firman Tuhan Allah, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Why.1:8)

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments