Jika Anda Menilai Orang, Anda Tidak Punya Waktu Mencintai Mereka

Baru saja Tere sekeluarga duduk di depan TV ketika handphone Ibu tiba-tiba berdering. 

“Tidak sama sekali, kita lagi santai bareng sekeluarga di depan TV. Ini lagi menyimak ulasan kunjungan Pak Jokowi ke Ukraina dan Rusia. Hebat ya Presiden kita, dua jempol untuk beliau membawa misi perdamaian dunia”, kata Ibu menimpali kekhawatiran penelpon kalau Ibu sedang sibuk. “Saya hanya mau info kalau teman-teman jadi ngumpul minggu depan ya, sehabis Misa”, kata suara dari seberang sana. “Siap. Cerita apa lagi yang menarik, Bu”, kata Ibu menimpali.

"Oh kalau Ibu lagi nyantai boleh juga dong sharing dikit lewat telepon. Nyambung dengan kehebatan Presiden Jokowi, saya dengar dari seorang romo kalau kita mempunyai tokoh  yang tidak kalah hebat. Namanya Fransiskus Asisi. Katanya, delapan ratus tahun yang lalu ketika perang salib sedang berkecamuk dengan sengit, beliau merelakan diri mendatangi Sultan Malik yang saat itu di dunia barat dipandang sebagai Sultan yang kejam yang harus ditaklukkan. Biarawan yang dalam kesehariannya berpakaian compang-camping tanpa alas kaki ini, tidak patah semangat memulai misi perdamaian. Ketika datang, ia memang lalu ditawan, tetapi ketika bertemu dengan Sultan Malik, ia menemukan Sultan yang berbeda dari
yang ia dengar, mereka menjadi sahabat. Walaupun perang tidak dapat dihentikan, biarawan hina dina ini didengarkan dan mendapat tempat dalam hati Sang Sultan”, kata penelepon dengan semangat.

“Ibarat pepatah ‘Tak kenal maka tak sayang’ ya Bu”, kata ibu menambahkan. “Betul sekali Mami Santo. Hal ini mengingatkan saya akan kata-kata Bunda Teresa: Jika Anda menilai orang, Anda tidak punya waktu untuk mencintai mereka”, kata suara di balik telepon dengan mantap.

“Tidak salah saya berkawan sama Ibu. Oh iya, minggu lalu katanya pergi jalan-jalan ya Bu?” kata Ibu kembali bertanya.

“Oh, itu… saya ikut ziarah Lingkungan Kristoforus ke Gua Maria Bukit Kanada, Rangkasbitung, Lebak. Satu bis hampir penuh dipimpin ketua lingkungan Ibu Dewi”.

“Pasti menarik ya Bu?” tanya Ibu lagi.

“Ya, pasti. Rasanya lega bisa menikmati kembali suasana sebelum pandemi. Bercanda dalam bis selain hadir mengikuti jalan salib. Eh… dalam bis ada satu anak SMA. Yang menarik dari anak ini adalah bahwa walaupun dia Katolik satu-satunya dalam keluarga, ia berinisiatif untuk ikut. Ia juga ikut arisan yang disisihkan dari uang jajan. Menurut cerita ketua lingkungan, dia rajin bertanya tentang iman Katolik. Kalau tidak salah namanya Andika. Gitu sih Bu... makanya datang minggu depan ya biar kita bisa cerita banyak”.

“Sekali lagi siap, Bu. Saya dapat banyak nih, terima kasih”, kata Ibu menutup pembicaraan yang didengarkan oleh Santo, Tere dan ayah karena sejak awal percakapan, Ibu menggunakan ‘speaker’.

Setelah Ibu meletakkan handphone,  Tere ikut bersuara, “Percakapan Ibu tadi mengingatkan Tere tentang seorang gadis yang bernama Amanda Rae Hedges. Sebulan yang lalu Tere dapat video tentang dia dalam sebuah grup Whatsapp. Luarbiasa, di usia belia sekitar 17 tahun, dia datang ke Indonesia di sebuah panti asuhan yang sangat asing baginya. Ia menguburkan mimpinya untuk kuliah dan menjadi seorang pelari terkenal demi sebuah panggilan jiwa menjadi ‘ibu bagi anak-anak panti’. Sulit untuk dinalar, tetapi itu yang terjadi. Sebelum meninggalkan Amerika, rupanya dia mempunyai pergumulan yang panjang yang akhirnya membuat dia mengambil keputusan ‘Okelah, Tuhan. Aku menyerah… Saya akan tinggalkan semuanya untuk Engkau… orang tua, abang, keponakan, teman, kuliah, cita-cita… dan saya akan mengikuti Engkau ke Indonesia’ *). Luar biasa”, kata Tere.

“Saya juga dengarkan videonya”, kata Santo ikut berkomentar. “Video itu mengingatkan Santo akan upaya Paus Fransiskus menghadirkan ‘sinode’ Gereja sejak tahun lalu. Memang perlu ada kesadaran ‘berjalan bersama’ dalam diri umat beriman. Praktisnya, Santo pikir, kita upayakan penghapusan identifikasi sempit dengan label seperti mayoritas-minoritas, radikal-PKI, Jawa-Luar Jawa, kaya-miskin”.

“Betul sekali. Dalam bacaan Injil Minggu ini, Yesus meminta kita untuk mencintai sesama seperti diri kita sendiri. Tuhan Yesus menempatkan ‘Orang Samaria (yang sering dicap ‘kafir’) sebagai teladan sepanjang masa” kata ayah tidak mau ketinggalan.

“Mari kita awali dengan membiasakan senyum seperti ajakan Bunda Teresa. Nah itu wajah Pak Jokowi yang penuh senyum”, kata Ibu sambil menunjuk gambar Pak Jokowi dalam TV.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa

*) https://kasihtakberbatas.id/pengurus-yayasan/amanda-rae-hedges/


Post Terkait

Comments