Iman dan Akal Budi

Pada tahun 1998, Paus Yohanes Paulus II menulis sebuah ensiklik dengan judul Fides et Ratio (Iman dan Akal Budi). Melalui tulisan tersebut, Bapa Suci hendak menjembatani hubungan antara iman dan akal budi dari sudut pandang Gereja Katolik. Dalam ensiklik tersebut, Bapa Suci hendak mempertahankan Filsafat Kristiani di tengah perkembangan pemikiran manusia yang seakan-akan memisahkan peran iman dan akal budi di dalam diri manusia. Bapa Suci meyakini bahwa iman dan akal budi secara bersamaan dapat membantu manusia untuk semakin mengenal dan mengasihi Allah di dalam hidupnya.

Dalam sejarah yang panjang, pemikiran manusia terus berkembang dari zaman ke zaman. Dalam perkembangan tersebut, salah satu kebenaran yang senantiasa dipegang teguh adalah realitas tentang kematian dan kehidupan. Di satu sisi, semua orang meyakini bahwa kehidupan manusia adalah fakta yang tidak dapat disangkal. Di sisi lain, semua orang juga meyakini bahwa kehidupan manusia di dunia pada waktunya akan berakhir melalui kenyataan akan kematian.

Pemikiran tentang kematian dan kehidupan mendorong manusia untuk senantiasa merenungkan keberadaan dan tujuan mereka di dunia. Dalam pencarian tersebut, Gereja Katolik turut memberikan makna di tengah pendalaman akan keberadaan dan tujuan hidup manusia di dunia. Makna tersebut tertuang secara jelas dan nyata di dalam diri Yesus Kristus yang diimani sebagai kebenaran tertinggi melalui kehadiran-Nya yang seutuhnya hadir sebagai Allah dan manusia.

Dalam tulisannya, Paus Yohanes Paulus II menekankan pentingnya pewahyuan Allah bagi Gereja Kudus dalam mencari kebenaran di tengah dunia. Posisi iman di hadapan pewahyuan Allah menjadi satu hal yang sangat diperlukan dan tidak dapat ditinggalkan begitu saja. Di dalam iman, pencarian akan kebenaran disempurnakan melalui pewahyuan Allah bagi manusia yang hadir dalam diri Yesus Kristus. Tanpa iman, pencarian manusia yang hanya mengandalkan akal budi tidak akan cukup kuat di hadapan godaan dosa untuk kemudian mengabaikan kehadiran Allah. Kehadiran akal budi saja akan menjadi sangat rentan di hadapan kekuatan dan godaan dosa.

Pada mulanya, Kristianitas tidak begitu saja memperhitungkan perkembangan pemikiran manusia di dalam kehidupan. Akan tetapi, melalui jasa Santo Yustinus dan Santo Agustinus, Gereja mulai turut serta di dalam perkembangan pemikiran manusia dengan memperkenalkan nilai-nilai Kristiani di dalamnya. Seiring berjalannya waktu, Santo Thomas Aquinas menyadari bahwa “melalui alam ciptaan dan pemikiran manusia yang tepat, kita dibantu untuk dapat semakin memahami Wahyu Ilahi (FR, 43).” Santo Thomas Aquinas menekankan bahwa di dalam iman, manusia dapat membangun dan menyempurnakan akal budi yang telah dianugerahkan kepadanya.

Dalam kesempurnaannya bersama iman, akal budi sangat dibutuhkan oleh manusia untuk menemukan kebenaran di dalam hidupnya. Di dalam kebenaran itu, manusia bertemu dengan Tuhan yang memberikan terang di tengah keberadaan dan tujuan manusia di dunia. Di tengah tantangan rasionalisme, dunia berpikir bahwa iman dan akal budi perlu dipisahkan satu sama lain. Akan tetapi, pemisahan kedua hal itu menyebabkan bencana bagi peningkatan kualitas hidup manusia. Manusia tidak dapat hanya hidup  dengan iman saja, demikian pula manusia tidak dapat hanya hidup dengan akal budi saja.

Di tengah dunia pendidikan formal, teologi telah berkembang melalui diskusi dengan lsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Secara terpisah, lsafat terus berkembang untuk mencari makna kehidupan dalam pengaruh kenyataan spiritual di dalam hidup manusia. Di sisi lain, teologi juga terus melakukan pewartaan Kabar Gembira di tengah dunia.

Teologi dan lsafat akan tetap menjadi dua pendekatan ilmu yang berjalan sendiri-sendiri. Akan tetapi, Bapa Suci percaya makna kehidupan dan kehadiran Allah adalah kebenaran yang sama yang dibutuhkan manusia di tengah dunia. Dengan kata lain, iman dan akal budi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan dari hidup manusia. Melalui keduanya, manusia berjumpa dengan Allah sebagai kebenaran tertinggi yang memberikan makna bagi kehidupan di dunia.

Penulis : Dkn. Albertus Bondika Widyaputra, Pr.

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments