Iman akan Kuasa Daya Ilahi

Dalam dua minggu terakhir, kutipan Injil Markus yang kita dengarkan berbicara tentang “mukjizat” (KBBI : kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia). Minggu lalu, 20 Juni 2021 kita mendengarkan bagaimana topan yang dahsyat menjadi teduh hanya dengan satu ucapan dari Yesus, “Diam! Tenanglah!” (Mrk. 4:39). Hari ini kita berhadapan dengan penyembuhan wanita yang sudah dua belas tahun mengalami pendarahan “bergandengan” dengan dihidupkannya kembali seorang gadis berusia dua belas tahun (Mrk.5:21-43). Sebetulnya ada satu lagi mukjizat di antara keduanya yakni “pengusiran
roh jahat” dari orang Geraza (Mrk. 5:1-18).

Pada hari Minggu sebelumnya, perikop Injil dikutip persis dari teks yang mendahului ketiga mukjizat, yakni dari Mrk.4: 26-34. Gagasan pokok bacaan Injil pada minggu itu (13 Juni 2021)
kiranya terkait dengan “rahasia Kerajaan Allah” (Mrk.4:11), yakni bahwa “Daya Ilahi” bekerja tanpa kita sadari. Mungkin banyak orang ragu bagaimana hal itu terjadi, tetapi yang pasti hasil atau buahnya nyata, tidak perlu diragukan.

Bagai benih, setelah ditabur, tumbuh dan bertunas dengan sendirinya tanpa disadari manusia, bahkan makin tinggi walaupun manusia yang menanam “tidur”, begitulah juga Kerajaan Allah. Rahasia Kerajaan Allah ibarat biji sesawi, pada awalnnya kelihatan sangat kecil, tetapi perlahan tumbuh menjadi besar bahkan menjadi tempat berlindung makhluk lain. Apa hubungan rahasia Kerajaan Allah dengan ketiga mukjizat ini? Kalau kita perhatikan, mukjizat pertama berhubungan dengan “daya alam”. Mukjizat kedua menyangkut “roh jahat”; dan yang ketiga terkait “penyakit” bahkan “kematian” yang menjadi momok bagi semua yang hidup. Kalau Yesus mampu “mengatasi” ketiga hal ini, maka hendaknya manusia sadar siapakah Yesus sesungguhnya. Kekuatan alam, roh jahat, penyakit dan kematian “tunduk” pada Yesus. Bukankah hal ini membuktikan bahwa Allah sekarang sedang berkarya dalam diri Yesus?

Minggu depan, 4 Juli 2021 kita akan mendengarkan dari Mrk. 6: 1-6 bahwa sekalipun Yesus jelas-jelas telah mengerjakan banyak “keajaiban”, tetap saja banyak yang menolak Dia. Nah, berbeda dengan kebanyakan orang yang menolak Yesus, Yairus dan perempuan yang mengalami pendarahan selama 12 tahun PERCAYA akan “Daya Ilahi Kerajaan Allah dalam diri Yesus”.

Yairus dan Perempuan yang mengalami pendarahan berbeda dalam banyak hal. Yairus seorang terpandang karena dia adalah kepala rumah ibadat, sementara sang perempuan “najis” karena mengalami pendarahan, apalagi sudah 12 tahun (angka 12 boleh jadi dipersepsikan orang sebagai kutukan karena ketidaktaatan – bdk Ul. 27). Yairus datang kepada Yesus dengan kata-kata permohonan yang jelas, “Anakku perempuan sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya supaya ia selamat dan tetap hidup”.

Sementara Sang Perempuan, hanya menyatakan kepercayaannya “dalam hati”, tanpa kata keluar dari mulutnya. Malahan ia datang “dari belakang” (mungkin karena merasa berdosa) tetapi percaya “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh” (Mrk. 5:28). Yesus tidak “mempermasalahkan” bagaimana iman “diungkapkan” entah dengan seruan yang jelas atau tersimpan di relung hati yang paling dalam. Sang Perempuan sempat “ditantang” oleh Yesus, “Siapa yang menjamah jubahku?”. Yairus pun sempat “digoda” berita dari keluarganya, “Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusahkan Guru?” (Mrk. 5:35).

Godaan untuk tidak percaya datang menantang, namun iman mereka berdua tidak goyah. Sang Perempuan “tersungkur” menyembah Yesus (Mrk. 5:33). Bersama isterinya dan sejumlah orang lain, Yairus ikut Yesus ke dalam kamar anaknya (Mrk. 5:40). Pada akhirnya, rahasia “Daya Ilahi Kerajaan Allah” menjadi nyata dalam kuatnya iman dan pengharapan mereka. Derita dan kenajisan selama 12 tahun dipulihkan. Kematian anak tercinta hanya ibarat tidur.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments