Identitas Pentakostal Gereja

Pentakosta menjadi hari lahir Gereja di dunia. Injil Yohanes di Hari Raya ini menulis, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” , “… Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus”. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada" (Yoh.20: 21-23). Sekurang-kurangnya ada tiga ‘identitas pentakostal dari Gereja’ seputar pesan Kitab Suci maupun warisan Gereja sepanjang masa dari Liturgi di Hari Raya ini.

Identitas Ada Bersama yang inklusif
Karakteristik para murid pasca kematian dan kebangkitan Yesus adalah ‘kumpul bersama’. Yesus yang bangkit, meneguhkan kebersamaan para murid, dan menggantikan ketakutan mereka dengan sukacita dan damai sejahtera, kata-Nya, "Damai sejahtera bagi kamu!" (Yoh.20:19b). Sebelum kenaikan Yesus, Kitab Suci mencatat, “Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah” (Kis.1:3b). Para murid mengalami kebersamaan yang diwarnai damai sejahtera dan semakin mengenal, memahami serta meyakini panggilan mereka sebagai murid Kristus untuk mewartakan Kerajaan Allah kepada dunia. Paguyuban para murid menjadi komunitas yang terbuka kepada semua orang. Mereka membentuk ‘jemaat gereja perdana’ dengan cara hidup yang khas, berkumpul bersama, memecahkan roti dan mendengarkan firman, serta saling berbagi apa yang menjadi harta milik (bdk, Kis.2:41-47).

Identitas Komunitas Missioner
Komunitas para murid semakin dipenuhi keyakinan bahwa kehidupan mereka adalah hidup dalam Kristus yang sudah bangkit jaya dan mengutus mereka. “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh.20:21). Liturgi Kenaikan Tuhan, melalui Injil Matius (28:19-20) menyampaikan, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku akan besertamu selalu sampai akhir zaman”.

Persekutuan para murid, menjadi persekutuan yang terbuka, mewartakan Kerajaan Allah, tidak hanya dengan kata-kata tetapi menjadi contoh dan teladan bagi orang banyak. Para murid dipenuhi Roh Kudus dan bisa menembus segala batas bahasa dan budaya sehingga orang banyak bisa mengenal Sabda Tuhan dan karunia-karunia Roh Kudus (Bdk. Kis.2:1-13; Rom. 12:6; 1 Kor.12:4). Para murid tidak berbicara atas nama diri sendiri, tetapi membawa kewibawaan Kristus sendiri. Rasul Paulus di kemudian hari bersaksi, “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku….” (Gal.2:20).

Identitas Kuasa mengampuni
“Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada” (Yoh.20:22). Komunitas para murid, adalah komunitas belas kasih, mau mengampuni dan memaafkan satu sama lain untuk mewujudkan kehendak Tuhan. Kata Yesus kepada Petrus, “…Engkau adalah Petrus …. Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga” (Mat.16:18). Kuasa mengampuni oleh Pemimpin Gereja, maupun hidup saling mengampuni di antara sesama. Ketika menjawab pertanyaan Petrus tentang berapa kali harus saling mengampuni, Yesus berkata, “Bukan! Aku berkata kepadamu, bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”, alias tanpa batas!

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments