Hidup yang Transformatif dan Inklusif

Saudari/a yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, hari ini kita memasuki Minggu Adven ke-IV dan kita ingin melakukan apa yang Tuhan kehendaki untuk kita perbuat dalam hidup kita. Maka marilah kita mendengar Dia lewat sabda-Nya dalam bacaan Injil menurut Luk 1:26-38. Tentu kita sudah sering mendengar isi dari bacaan tersebut dan bahkan kita sudah menghafalnya ‘’PEMBERITAHUAN TENTANG KELAHIRAN YESUS’’.

Dalam bacaan ini kita tahu Maria menerima kabar dari Malaikat Gabriel, utusan Allah bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Sebab Maria beroleh kasih karunia di hadapan Allah dan Maria telah menjadi bagian dari rencana Allah bahkan jauh sebelum ia dilahirkan ke dunia. Maria percaya apa yang telah disampaikan kepadanya namun iman tersebut bukan iman yang buta. Maria memerlukan bukti yang membawanya sampai pada penyerahan dirinya secara utuh dan total dengan berkata: Sesungguhnya Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu. Tentu kita bertanya bukti apa yang Maria dapatkan sehingga ia mampu berkata demikian? Yaitu seperti yang disampaikan Malaikat Gabriel Luk 1:36 : “Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.”

Saudari/a yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, dari kisah pemberitaan tersebut kita diajak untuk mampu HIDUP YANG TRANSFORMATIF dan INKLUSIF sebagaimana Maria sendiripun telah melaluinya dalam masa hidupnya untuk dapat bersatu dengan Bapa, baik semasa hidup maupun ketika beralih dari dunia ini.

Tentu kita bertanya TRANSFORMATIF bagaimana yang dialami Maria? Ia memiliki daya ubah demi keselamatan dan kesejahteraan umat manusia dengan mengandung dan melahirkan Yesus, tentunya melalui berbagai peristiwa yang dialaminya sejak mulai mengandung, melahirkan di usianya yang masih muda dan mendampingi Yesus pada saat sengsara wafat dan Kebangkitan Putera-nya, Maria tetap menyimpan segala perkara dalam hatinya dan merenungkannya serta kembali dapat berkata : Sesungguhnya Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu. Kita pun haruslah demikian, berubah lebih baik, lebih sigap, tanggap dalam menghadapi tantangan zaman khususnya dalam masa pandemi tanpa mengeluh dengan keadaan sehingga kita mampu memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan.

Dan Inklusif yang bagaimana Maria jalani? Pendekatan diri Maria dengan Allah melalui orang-orang disekitarnya. Kita tahu Maria berjalan tiga hari tiga malam untuk menemui Elisabet saudarinya sebagaimana kabar dari malaikat Gabriel dan mereka saling meneguhkan. Bagaimana peran Maria dalam pesta pernikahan di Kana. Bunda Maria menyelamatkan para murid yang goncang sejak Yesus wafat dan bangkit, Maria mendampingi
mereka sampai turunnya Roh Kudus.

Kita pun harus mampu dan berjuang untuk hidup yang inklusif dengan budaya yang guyub dengan agama-agama lain, pendekatan dengan budaya atau kesenian dan dalam masa pandemi ini kesempatan bagi kita untuk melayani mereka yang kecil lemah sakit, tersingkir miskin serta papa ditengah masyarakat. Dengan demikian kita sebagai Gereja yang hidup Transformatif dan inklusif .

Semoga.

Penulis : Sr. Loren SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments