Hari Komunikasi Sosial Sedunia

Setiap tahun Gereja merayakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia pada hari Minggu Paskah VII. Melalui perayaan ini, kita disadarkan untuk mewartakan nilai-nilai Injil melalui kemajuan sarana teknologi dan media komunikasi modern (bdk. Inter Mirifica 1, 18). Dalam tulisan ini, kita diajak untuk memahami semangat dasar Hari Komunikasi Sosial Sedunia.

Kesadaran akan pentingnya media komunikasi bagi kehidupan manusia menjadi salah satu topik pembahasan sesi awal Konsili Vatikan II (1963). Paus Paulus VI bersama para bapa konsili melihat pentingnya Gereja melibatkan diri sepenuhnya dengan dunia modern (bdk. Gaudium et Spes 1). Menurut para bapa konsili, kemajuan teknologi dan media komunikasi yang dicapai manusia modern dapat membantu menyegarkan hati, mengembangkan budi, dan menyiarkan serta memantapkan Kerajaan Allah (Inter Mirifica 2). Pembahasan tersebut membuahkan Dekrit Inter Mirifica tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial pada tanggal 4 Desember 1963.

Sejalan dengan Inter Mirifica 18, Paus Paulus VI memulai Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang pertama pada tanggal 7 Mei 1967. Dalam pesannya, Paus Paulus VI melihat peluang-peluang positif media komunikasi yang memungkinkan untuk memperkaya kemanusiaan dan sarana menyebarkan pesan Injil, tetapi juga kemungkinan dampak negatif dari penyebaran nilai-nilai yang tidak luhur serta berbagai pertentangan bagi manusia (Paus Paulus VI, Message of First World Communication Day, 7 Mei 1967). Gereja mengeluarkan pedoman pastoral tentang komunikasi sosial melalui Instruksi Pastoral Communio et Progressio (23 Mei 1971) dan Aetatis Novae (22 Februari 1992). Lalu, Dewan Kepausan untuk Komunikasi Sosial mengeluarkan dokumen Gereja dan Internet sebagai pedoman etis Gereja dalam zaman internet. Oleh karena itu, Gereja kini memanfaatkan media cetak, film, radio, televisi, maupun internet sebagai sarana mewartakan nilai-nilai Injil dalam kehidupan manusia.

Tahun 2020 adalah Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54 yang mengangkat tema “Hidup Menjadi Cerita” yang diambil dari Kel 10:2, “supaya engkau dapat menceritakan kepada anak
cucumu.” Tema ini diangkat oleh Paus Fransiskus pada Pesta St. Fransiskus dari Sales (24 Januari 2020). Bapa Suci mengangkat pesan tentang pentingnya cerita yang lahir dari kehidupan dan memberikan kebenaran bagi hidup manusia. Mengapa Paus Fransiskus berfokus pada cerita? Menurut Bapa Suci, cerita dapat menjahit kembali yang putus dan terbelah, cerita yang baik supaya manusia tidak tersesat; cerita yang membangun bukan menghancurkan; cerita yang menemukan kembali akar dan kekuatan bagi manusia untuk bergerak maju bersama.

Dengan mengambil inspirasi dari Kitab Keluaran, Paus Fransiskus menyadarkan kita bahwa Allah senantiasa berkomunikasi dan hadir melalui kisah kehidupan manusia yang diteruskan dari generasi ke generasi. Lalu, ketika Yesus membicarakan tentang Allah, Ia sendiri menggunakan perumpamaan yang diambil dari kehidupan sehari-hari. Melalui perumpamaan, para pendengar dan murid-Nya mengalami transformasi hidup.

Akhirnya, Bapa Suci mengajak kita untuk menceritakan kisah kita kepada Allah. Melalui bercerita kepada Allah, kita disadarkan tentang siapakah diri kita di hadapan-Nya dan betapa
besar kasih-Nya bagi manusia. Semoga dalam Hari Komunikasi Sosial Sedunia ini kita semakin mampu bercerita tentang kasih Allah dalam hidup dan mewujudkan kasih-Nya bagi sesama.

Penulis : Fr. Carolus Budhi P

Sumber:
-. Dekrit Inter Mirifica tentang Upaya-upaya Komunikasi Sosial; Paus Fransiskus, Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-54, 24 Januari 2020:
-. http://www.vatican.va/content/francesco/en/messages/communications/documents/-papa- francesco_20200124_messaggiocomunicazioni-sociali.html;
-. Paus Paulus VI, Pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-1, 7 Mei 1967: http://w2.vatican.va/content/paul-vi/en/messages/communications/documents/hf_p-vi_mes_19670507_i-com-day.html;

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments