Gereja yang Hidup

Kita semua menyadari bahwa Gereja pertama-tama adalah “orang”, bukan gedung, tepatnya “perkumpulan orang”. Bangunan tempat berkumpul justru mendapat nama “gereja” karena adanya “orang-orang yang aktif berkumpul” di dalamnya. Tanpa orang yang aktif berkumpul, tidak ada gereja. Gereja yang pada intinya mengandung makna “berkumpul” itu berasal dari Bahasa Yunani (dipakai misalnya untuk “rapat dewan rakyat”), diserap bahasa Latin (ecclesia) dan masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui bahasa Portugis “Igreja”.

Tentu lain perkumpulan, lain pula ciri khasnya. Ada yang menekankan persamaan latar belakang (seperti suku atau kesamaan pendidikan); ada yang berorientasi jenis kegiatan (seperti olahraga, hobby), dan berbagai macam yang lain. Perihal gereja, ciri khasnya bukan hobby atau kesamaan latarbelakang, tetapi lebih pada “roh” perkumpulan yaitu “iman akan Yesus Kristus”. Karena itu, gereja yang hidup tidak pertama-tama diukur dari “kegiatannya” melainkan seberapa besar perkumpulan itu “dijiwai” oleh sumbernya.

Karena sumber hidup pertama dan utama gereja adalah Yesus Kristus, maka tanpa keikutsertaan dalam “liturgia” (ibadat resmi gereja), insan beriman tersebut bagaikan ranting yang tidak tinggal pada pokok anggur sehingga harus dibuang. Gereja hanya tetap menjadi gereja kalau ia terlibat dalam liturgia. Ada berbagai rupa partispasi anggota gereja dalam liturgia: berdoa, tanda salib, menyanyi, berdiri-membungkukkan badan, komuni, atau menjadi lektor, pemazmur, organis, mesdinar, paduan suara, penghias dan berrbagai hal lain. Semua dilakukan untuk menimba kekuatan dari sumbernya yaitu Yesus Kristus sendiri.

Gereja yang aktif beribadah tidak serta merta menjadi gereja yang hidup. Paulus marah ketika anggota gereja (jemaat) berkumpul beribadah tetapi membentuk kelompok-kelompok,
makan makanan mereka masing-masing, ada yang mabuk namun ada yang lapar (I Kor 11: 18-22). Paulus mengingatkan pentingnya semangat “koinonia” (persekutuan). Bagi Paulus, menjadi orang yang beriman kepada Yesus tidak mengenal adanya pembagian “golongan Paulus atau golongan Apolos atau Petrus” I Kor 1:12). Sebaliknya memiliki “Satu sumber hidup” berarti “mereka yang berkumpul adalah satu”. Dalam Kristus semua orang merdeka, tidak ada budak. Menyambut Tubuh dan Darah Kristus dalam komuni tidak hanya mengandung arti menerima Yesus tetapi juga sekaligus berarti menerima anggota yang lain sebagai saudara. Yesus mengajarkan kita untuk berdoa “Bapa Kami” dan “Bukan Bapa Ku/Mu”.

Selanjutnya Gereja akan semakin menjadi “Gereja yang hidup” kalau anggota gereja terlibat dalam “kerygma” (pewartaan) warta sukacita. Paulus sendiri sampai pada kesadaran “Celakalah aku kalau aku tidak memberitakan Injil” (I Kor.9:16). Paulus tidak ingin “menyimpan keselamatan” pada diri dia sendiri. Ia ingin supaya lebih banyak orang menemukan warta keselamatan, Beberapa karya kerygma seperti persiapan calon baptis, komuni pertama, krisma atau juga katekese yang lain seperti Kitab Suci.

Sisi lain dari “Gereja yang hidup” adalah “diakonia” yakni aneka kegiatan amal kasih Kristiani khususnya kepada mereka yang miskin, terlantar dan tersingkir sebagai perwujudan iman kepada Yesus. Ibu Teresa, pelindung paroki sungguh menghayati hal ini. Baginya, orang-orang menderita di jalan-jalan dan kampung kumuh adalah “Yesus” dalam wujud sesama.

Terakhir, “martiria” (kesaksian) akan Yesus yang bangkit. Kesaksian pertama-tama lewat cara hidup setiap insan kristiani, apapun profesinya: bekerja sesuai tuntutan profesi, jujur dan penuh dedikasi kepada sesama. Senyum dan sapa serta keteguhan dalam membela yang benar menjadi pertanda Kristus hadir dalam sanubari. Selalu penuh harapan di saat “sukses” dan “keberuntungan” tak kunjung mendekat. Setiap insan beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sadar bahwa diri tak lepas dari kekurangan dan kelemahan, namun dalam kelemahan itu “Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal.2:20).

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments