Gelar-gelar Baru Bunda Maria dalam Litani St. Perawan Maria

Pada hari Sabtu, 20 Juni yang lalu bertepatan dengan Pesta Hati Maria yang Tak Bernoda, Kongregasi untuk Ibadat Ilahi dan Tata Tertib Sakramen mengumumkan penambahan tiga gelar Bunda Maria dalam Litani St. Perawan Maria yang ditetapkan oleh Paus Fransiskus. Bapa Suci menambahkan gelar Mater Misericordiae atau “Bunda yang Berbelas Kasih”, Mater Spei atau “Bunda Pengharapan”, dan Solacium Migrantium atau “Penghibur Kaum Migran”. Melalui tulisan ini, kita diajak untuk memahami doa Litani St. Perawan Maria dan maksud penambahan gelar Bunda Maria oleh Paus Fransiskus.

Kata “litani” berasal dari kata litania (Bhs. Latin) atau letania (Bhs. Yunani) yang berarti doa atau permohonan. Litani merupakan bentuk doa yang memiliki pola irama yang seragam antara pujian (pujian kepada Allah Tri Tunggal maupun gelar santo-santa) dan permohonan (“kasihanilah kami” dan “doakanlah kami”). Bentuk doa ini dipengaruhi tradisi Perjanjian Lama (bdk. Mzm 136, Dan 3:52-90) dan berkembang dalam Gereja sejak abad ke-4. Selain memohon rahmat kepada Allah, pada Abad Pertengahan Gereja mewujudkan imannya akan perantaraan para kudus melalui Litani Para Kudus.

Disadarkan akan peran Bunda Maria dalam karya keselamatan Allah, umat beriman pun mengembangkan Litani St. Perawan Maria atau yang juga disebut Litani Loreto. Loreto merupakan tempat ziarah Maria di Italia dan dari sanalah Litani St. Perawan Maria berkembang di tengah umat dan peziarah Eropa sejak tahun 1531. Sejarah mencatat bahwa cetakan pertama litani ini dipublikasikan oleh St. Petrus Kanisius di Dilligen, Jerman padatahun 1558. Paus Sixtus V memberikan persetujuan resmi Litani St. Perawan Maria untuk digunakan secara publik pada tahun 1587.

Litani St. Perawan Maria terdiri dari 4 kategori gelar-gelar yang menunjukkan peran istimewa Bunda kita di hadapan Allah dan manusia. Pada 20 gelar pertama, kita menyebut Maria sebagai yang kudus (santa), Bunda, dan Perawan. Melalui kategori ini, kita mengungkapkan iman Gereja tentang Bunda Maria sebagai Bunda Allah sekaligus Bunda kita yang menjadi contoh mengikuti Kristus dalam kesucian, kemurnian, dan kemurahan hati. Lalu, gelar “Cermin Kekudusan” sampai “Bintang Timur” merupakan gelar Bunda Maria yang berasal dari kesaksian para nabi dalam Perjanjian Lama. Empat gelar berikutnya adalah perwujudan bantuan Bunda Maria bagi umat manusia. Dalam 12 gelar terakhir kita menekankan peran Bunda Maria sebagai Ratu.

Menurut arahan Bapa Suci, gelar “Bunda yang Berbelas Kasih” dimasukkan setelah “Bunda Gereja”, “Bunda Pengharapan” setelah “Bunda Rahmat Ilahi”, dan “Penghibur Kaum Migran” setelah “Perlindungan orang berdosa”. Penambahan gelar dalam Litani St. Perawan Maria oleh Paus Fransiskus bukanlah suatu hal yang baru dalam tradisi Gereja. Sebagai contoh, St. Yohanes Paulus II menambahkan gelar “Bunda Gereja” pada tahun 1980 dan “Ratu Keluarga” pada tahun 1995.

Gelar-gelar yang ditetapkan Paus Fransiskus merupakan tanggapan iman Gereja atas realita kehidupan saat ini. Pada saat ini banyak orang di seluruh dunia, yang mengalami penderitaan
karena pandemi Covid-19 maupun konflik serta kemiskinan, memohon pertolongan kepada Bunda Maria. Melalui Litani St. Perawan Maria, semoga kita mengingat saudara-saudari yang menderita serta memohon bantuan Bunda Maria agar kita pun sampai pada perjumpaan dengan Kristus.

Penulis : Fr. Carolus Budhi P

Sumber:
-. C.H. Bagley, “Litany of Loreto,” dalam New Catholic Encyclopedia Vol. 8, 2nd Edition (Detroit: Thomson Gale, 2003), 602-603;
-. Vatican News, “Pope adds three new invocations to the Litany of the Blessed Virgin Mary,” dalam vaticannews.va: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2020-06/pope-francis-loreto-litany-newinvocations.html.

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments