Curhat Malam

Selesai doa Rosario keluarga, Tere tiba-tiba angkat bicara.

“Ayah dan Ibu, dalam doa Rosario tadi Tere sempat tertegun pada peristiwa gembira ke-2, Maria mengunjungi Elisabeth saudarinya”.

“Apa yang Tere pikirkan?” tanya ayah ingin tahu.

“Tere sempat ingat masa lalu, awal memasuki masa remaja. Tindakan Bunda Maria tadi, kontras dengan pengalaman Tere yang cenderung melihat kekurangan ketimbang berbagi dengan orang lain. Awal remaja, Tere sempat merasa serba kurang. Tere menemukan diri bukan seperti yang Tere inginkan. Maunya Tere dikagumi banyak orang, bukan hanya pintar dan cantik tetapi punya banyak  talenta. Namun dalam kenyataannya Tere menemukan diri seperti tidak berdaya. Maaf yah Ayah dan Ibu. Tere sempat bermimpi seandainya boleh  memilih ayah dan ibu dan mau dilahirkan atau tinggal di belahan bumi yang jauh. Sempat berpikir indahnya menjadi bagian dari keluarga seorang raja atau keluarga super kaya”.

“Kata temanku yang belajar filsafat, itu namanya pengalaman terlempar di dunia. Seorang manusia lahir di tempat tertentu pada waktu tertentu tanpa ia minta atau ia sadari. Ia hanya bisa menerima kenyataan. Rupanya ada filsuf bernama Heidegger yang pernah membahas mengenai hal itu. Tak seorang pun lahir sesuai proposalnya. Jadi mau tak mau manusia harus menerima kenyataan” Kata Santo memotong keterangan Tere.

“Benar Kak Santo. Tadi dalam doa rosario, Tere ingat guru agama Tere seorang suster. Kata Suster ini, untuk tumbuh sehat kita harus mencintai diri kita. Cinta diri dimulai dengan menerima semua kenyataan, termasuk kenyataan pahit. Pertama menerima kondisi orang tua, keluarga, apa adanya. Kalau ada perlakuan buruk dari mereka selama ini, juga harus kita ampuni, dan perlu kita doakan kepada Tuhan. Kedua, menerima keadaan fisik kita sendiri, suara kita, mata kita, kaki, mulut, semua organ kita, termasuk yang cacat. Cinta diri berangkat dari penerimaan diri. Ketiga, mencoba berdamai dengan pengalaman masa lalu. Kalau ada masa lalu kita yang kelam atau dianggap bodoh atau memalukan, juga harus diberi ampun, jangan menghakimi diri sendiri. Perlu renungan tiap hari untuk menemukan siapakah jati diri kita sesungguhnya dengan segala kelemahan dan kekuatan termasuk pengalaman yang kita sembunyikan. Sering kita cepat marah, karena ada sesuatu yang ingin kita tutupi. Mekanisme menutupi kelemahan, kadang tercermin dalam sikap kasar atau menyerang orang lain”.

“Santo tahu siapa suster itu. Beliau pernah mengatakan bahwa kita dipanggil serta dicintai Tuhan bukan kendati segala kekurangan kita, tetapi justru dalam kekurangan kita”.

“Iya Kak Santo. Tere kini sangat menikmati keluarga kita sebagai anugerah. Tere ingin seperti Bunda Maria yang di satu pihak menyatakan diri hamba yang tak berguna, tetapi di lain pihak menerima diri apa adanya, bersukacita atas hidupnya dan berbagi kegembiraan dengan Elisabeth ”.

“Caranya?” tanya Santo.

“Kak Santo pasti tahulah. Pertama-tama Tere harus merawat diri sendiri, tersenyum pada diri sendiri. Kata Suster guruku, kita tidak bisa mencintai orang lain dengan baik kalau kita tidak mencintai diri sendiri. Jadi harus bisa merawat diri, makan makanan yang sehat, giat mengembangkan kemampuan diri, rajin olah raga seperti Ayah dan Ibu; dan kiranya sekali-sekali perlu memanjakan diri, santai bersama teman, berdoa menyeimbangkan tubuh jasmani-rohani kita. Karena itu ayo dong… kapan kita pergi berlibur nih…” kata Tere sambil menampakkan senyum lebar.

"Siapa takut. Tetapi bukannya masih pada sibuk dengan kerjaan dan kuliah? Ibu senang, Tere dan Santo tumbuh percaya diri kendati kami sebagai orang tua pasti pernah meninggalkan luka batin tertentu dalam diri kalian, entah lewat tutur kata atau perilaku” kata Ibu tidak ketinggalan.

“Ibu, mulai melo – pakai perasaan. Jadi kita mau libur kemana?” balas Tere.

“Itulah kasih seorang Ibu, sungguh diiringi dengan perasaan. Ayah terkesan curhat Tere malam ini. Ayah setuju bahwa sebelum kita mencintai orang lain, kita harus mampu mencintai diri kita dulu. Ayah kadang heran, tetapi lewat pengalaman, ayah menyadari bahwa semakin kita mencintai diri kita, semakin orang lain menerima kita apa adanya. Seterusnya semakin kita bergaul dengan orang lain, semakin kita seperti menemukan tambahan kekuatan cinta pada diri sendiri dan pada Tuhan”

“Mantap Yah. Kalau gitu cinta diri adalah awal kedewasaan ya Yah?” sahut Santo mau mengamini perkataan ayahnya.

“Ya ialah… makanya libur kemana nih” desak Tere tiba-tiba.

“Eheh... Tere benar serius nih. Ayo Tere yang buat plan lengkap. Besok kita diskusikan” kata Ibu sambil menggerakkan tangan meminta Ayah memohon berkat penutup untuk keluarga.

Penulis : Salvinus Mellese - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa 


Post Terkait

Comments