Corpus Christi

Dalam liturgi Gereja, Pentakosta (hari ke-50), adalah masa peralihan dari Masa Paskah ke masa biasa. Walaupun disebut “minggu biasa”, minimal sampai minggu ini, kita masih merayakan bagian misteri iman yang agung. Pada hari Pentakosta, kita merayakan hari turunnya Roh Kudus atas para rasul dan hari berdirinya Gereja.

Minggu pertama setelah Pentakosta (minggu lalu), kita merayakan hari Raya Tritunggal Mahakudus, dimana kita mengakui bahwa lewat Paskah Kristus kita bertemu dengan Allah yang Agung, satu Hakekat/Kodrat tiga Pribadi. Hari Minggu ini, kita merayakan Hari Raya “Corpus Christi” (Tubuh dan Darah Kristus). Apa makna hari raya tersebut bagi kita? Kapan Corpus Christi menjadi perayaan dalam Gereja?

Hari Raya “Corpus Christi” adalah bagian terpenting lain dalam iman Katolik. Corpus Christi erat dengan Ekaristi yang sejak awal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari umat perdana. Mereka selalu berkumpul mengadakan Ekaristi (Kis 2: 42.46: memecahkan roti). Mereka yang tidak mengakui kehadiran Kristus dalam Ekaristi dinyatakan sesat (Surat Ignatius dari Antiokhia sekitar thn 110 kepada jemaat di Smyrna).

Dalam Luk 22:19 (juga Mat 26:26; Mrk 14:22; I Kor 11:24), ketika Yesus mengambil roti dengan jelas Ia mengatakan:“Inilah Tubuh-Ku”. Yesus tidak mengatakan: “Inilah lambang Tubuh-Ku” atau pun juga “di dalamnya ada Tubuh-Ku”. Tentang piala (yang berisi anggur), Ia berkata, “Inilah darah-Ku, darah perjanjian” (Mat 26:28; Mrk 14:24), atau “Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku” (Luk 22:20).

Dari banyak sumber jelas bahwa sejak awal Ekaristi menjadi sumber dan puncak kehidupan beriman Gereja. Namun memang harus diakui bahwa ada saja pihak yang tidak mudah menerima bahkan menolak kenyataan ini. Kita sebut misalnya pada abad ke-11 seorang bernama Berengarius (999 - 1088, dari Angers-Perancis), menolak kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi. Zwingli (1484 - 15310), seorang penggerak reformasi cenderung menganggap roti dan anggur sebagai “lambang tubuh dan darah Kristus”. Luther (1483 - 1546), seorang reformator yang lain, walaupun tidak melihat roti dan anggur sekedar sebagai lambang semata, namun tidak juga mengimani bahwa terjadi perubahan roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Baginya (dan gereja Lutheran), substansi roti dan anggur tinggal bersama Tubuh dan Darah Kristus (konsubstantiasi).

Sebagai reaksi, muncul upaya dalam gereja untuk menanamkan iman yang benar dari jemaat perdana. Paus Gregorius VII memerintahkan Berengarius menarik kembali ajarannya. Gereja
mulai mengadakan prosesi-prosesi Sakramen Mahakudus. Devosi kepada Sakramen Mahakudus dalam Tabernakel menjadi semakin dikenal. Sebagai penegasan, akhirnya pada tahun 1264, Paus Urbanus IV menetapkan Hari Raya Corpus Christi.

Perayaan ini biasa diadakan pada hari Kamis setelah hari raya Tritunggal Mahakudus (mengingatkan akan Kamis Putih). Kemudian, di beberapa negara atau keuskupan, termasuk di Indonesia, Corpus Christi dirayakan pada hari Minggu setelah hari Raya Tritunggal Mahakudus (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Corpus_Christi).

Inti dari ajaran Katolik biasa dikenal dengan “transubstantiatio” (perubahan substansi) roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Roti dan anggur, walaupun tetap memiliki penampilan lahiriah sebagai roti dan anggur (bentuk, warna, berat, rasa), namun substansi atau hakekatnya sekarang adalah Tubuh dan Darah Kristus. Jadi dibedakan antara hakekat (substansi) dengan aksiden (warna, rasa, bentuk).

“Inilah darah-Ku, darah perjanjian” (Mat 26:28; Mrk 14:24), mengingatkan kita akan pemberian diri Yesus untuk menghidupkan kita. Darah dalam Kitab Imamat adalah “nyawa makhluk” yang menghidupkan (Imamat 17:14). Berbeda dengan kontrak yang mengikat harta benda, “perjanjian” menyangkut perikatan pribadi. Bila Yesus menyebut “Perjanjian Baru” (Luk 22:20), maka yakinlah kita bahwa darah Kristus (dan Tubuh-Nya) dalam Ekaristi adalah makanan yang menghidupkan, mengangkat kita menjadi “ilahi”.

Kita sadar bahwa untuk menjadi sehat, kita harus makan makanan yang sehat pula. Sebaliknya bila tubuh kita disebut “sakit gula, kelebihan kolesterol, asam urat” maka kita patut curiga bahwa pasti ada sesuatu yang salah dengan pola makan kita.

Penulis : Salvinus

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments