Cahaya Bunda Maria dalam Kegelapan Malam dari Jiwa Kehidupan Modern, Abad Digital, Peradaban Millenium

Kita saat ini telah masuk kepada era industri 4.0 “cyber physical system” di mana terjadinya kolaborasi antara teknologi siber dengan teknologi otomatisasi, era serba digital dalam segala hal, mulai dari urusan dapur, pendidikan, pelayanan, pewartaan, transformasi yang serba online, komunikasi dan informasi dan sebagainya.

Mohon maaf penulis tanpa bermaksud menghakimi, orang di zaman ini lebih mudah dan lebih senang memberi perhatian pada layar telepon genggam atau perantinya (gadget) laptop dan lain-lain, ketimbang orang yang ada di hadapannya. Kegelisahan ini merupakan cuplikan salah satu kisah perjumpaan pribadi dengan banyak orang muda yang tak hanya terjadi sekali.

Gereja melihat era digital bukan hanya dari segi peluang dalam hal cara baru berkomunikasi, melainkan juga tantangan bagi perilaku dan cara pandang yang mempengaruhi hidup beriman. Disadari bahwa corak era digital membawa implikasi akan segi kedalaman, komitmen, keterlibatan, dan kesetiaan orang dalam menanggapi sesuatu, baik informasi ataupun pesan. Bahkan tidak hanya itu, melainkan juga tantangan akan aspek kemanusiaan dan keheningan budi. Oleh sebab itu betapa indahnya kalau tantangan tersebut bisa diolah menjadi peluang, misalnya Pewartaan Injil, Evangelisasi Baru, Latihan Rohani, berelasi sebagai keluarga Allah dan sebagainya.

Komunikasi dalam era digital yang cenderung terjadi tanpa perjumpaan fisik langsung kadang membuat ketulusan dan perhatian manusiawi sungguh terabaikan. Keberlimpahan dan kecepatan akses yang luar biasa kadang membuat perhatian terhadap aspek kemendalaman juga berkurang (Komkat KWI, 2015:41-42).

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH
Hari ini kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah Kita semua mengimani dan semoga juga memahami akan maknanya. Paus Fransiskus pada tanggal 1 Januari 2017 dalam Homil Misa Santa Perawan Maria Bunda Allah di Basilika St. Petrus , berkata : “Merayakan Maria sebagai Bunda Allah dan ibu kita di awal tahun baru berarti mengingat kepastian yang akan menemani hari-hari kita: kita adalah umat yang memiliki seorang ibu; kita bukanlah anak-anak yatim”. Selain itu, juga dikatakan bahwa merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah itu “Mengingatkan kita bahwa kita bukan barang dagangan yang bisa dipertukarkan, kita adalah anak-anak, kita adalah keluarga, kita adalah umat Allah”. Perayaan ini pada awalnya setiap tanggal 11 Oktober, tetapi dalam pembaruan liturgi tahun 1970 perayaan ini dipindahkan pada tanggal 1 Januari , tepat pada oktaf Natal saat Yesus disunatkan dan diberi nama (bdk Luk 2:21). Uraian tentang Maria sebagai Bunda Allah (Theotokos) silahkan pelajari dari Ensiklik Lux Veritatis. Sebagai seorang Bunda Allah, Bunda Maria juga menjadi bunda kaum beriman, beliau adalah Formator Iman, dengan keteladanannya antara lain:

 01. Ya Tuhan aku siap melaksanakan titah-Mu
Maria Menerima Kabar dari Malaekat Gabriel (setiap 25 Maret) dirayakan Gereja Katolik “Pesta Maria Annunciation” bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus dan akan melahirkan anak lelaki yang harus dinamai “Yesus” Di dalam keterkejutannya Maria menjawab : “Ecce Ancilla Domini, Fiat Mihi Secumdum Verbum Tuum”. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu itu(Luk 1:28–30) . Iman Maria mengakar sangat dalam dan percaya akan penyertaan Allah maka ia tanpa ragu menyatakan fiatnya, meskipun ia harus menhadapi resiko hukuman rajam karena hamil sebelum bersuami. Itulah Maria yang tetap tenang meskipun menerima kabar yang mestinya mengejutkan.

Bagaimana dengan kita umat PCGIT? Apakah kita juga mengimani rencana dan penyertaan Allah dalam hidup kita sehari-hari meskipun kita harus meninggalkan confort zone/zona nyaman dan menghadapi resiko besar demi terlaksananya kehendak Allah? Apakah kita juga tetap tenang seperti sikap Bunda Maria dalam menerima sebuah informasi, yaitu dengan diam terlebih dahulu dan belajar memahami keadaan dan informasi yang sebenarnya. Atau kita cepat terhasut oleh pemberitaan yang bersifat hoax. Seperti pesan Paus Fransiskus pada hari Komunikasi Sosial Sedunia ke 55 pada tanggal 16 Mei 2021. Paus mengajak  para jurnalis dan pengguna sosial media untuk kembali kejalan yang benar. Artinya kita diajak untuk tidak reaktip menyebarkan berita yang kita tidak tahu kepastiannya melainkan reflektip dengan “datang dan lihatlah” Kita harus melakukan check and recheck serta memverifikasi secara lebih mendalam apakah berita yang kita akan sebar sesuai dengan kenyataan di lapangan atau tidak.

 02. Rendah hati dan berbagi dengan sukacita
Bunda Maria mengunjungi Elizabeth saudaranya, ia ingin berbagi kabar suka cita dengan saudaranya itu meskipun berjarak cukup jauh. Elizabeth tau persis siapa Maria saat itu, maka ia berkata: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku.” Mari kita lihat sikap Maria menanggapi kata-kata Elizabeth : “Jiwaku memuliakan Tuhan , dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya.

Para gembala yang datang ke Kandang, menengok kanak-kanak Yesus di Palungan, mereka bersuka cita memuji dan memuliakan Allah karena Bunda menyambut para Gembala sebagai mana mestinya menerima tamu yang dihormati dan segala sesuatu yang mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang dikatakan kepada mereka (bdk. Luk 2:20).

Mari kita mencontoh kerendahan hati dan rasa cinta meskipun harus berkurban seperti Bunda Maria, dan kita jadikan pedoman dalam hidup menggereja di PCGIT. Berperilaku rendah hati, hormat kepada siapapun tanpa pandang bulu. Ingat spiritualitas Ibu Teresa: “Engkau adalah Yesus bagiku”.

 03. Ketabahan Hati
Mari kita kembali mencermati perjalanan hidup Bunda Maria yang hampir selalu terhimpit oleh suasan sulit. Bunda Maria hamil sebelum menikah dengan bapa Yoseph. Maria berjalan bermil-mil jauhnya untuk mengunjung Elizabeth. Perjalanan yang jauh dan berbahaya dari Nasaret ke Betlehem dalam keadaan hamil. Melahirkan di kandang bukan di rumah bersalin. Mengungsi ke Mesir untuk menyelamatkan Kanakkanak Yesus dari keganasan Herodes. Mendengar Nubuat Simeon. Kehilangan Yesus di bait Allah. Berjalan bersama, menemani dan menyemangati Yesus yang memikul salib ke puncak Golgota. Menyaksikan Yesus di salib dan wafat di kayu salib. Lambung Yesus ditikam dan menerima jenasah Yesus di pangkuannya, serta Yesus dimakamkan. Dalam keadaan seperti itu Bunda Maria tetap tabah, karena ia tahu Allah selalu menyertainya dalam setiap tapak perjalanan sulit yang ditempuhnya terlebih ketika perjala nan ke puncak Golgota.

Bagaimana kita menyikapi perjalanan hidup kita yang terkadang pahit dan sulit, perih dan pedih? Sebagai orang tua sering subuk dengan urusannya sendiri sehingga kurang adanya perhatian dan komunikasi dengan anakanak, sehingga membuat anak mencari kesenangannya sendiri, misalnya bermain media digital seperti smartphone, game di komputer, dan media sosial. Anak-anak berusaha mencari pemenuhan kebutuhan mereka untuk diperhatikan dan dikasihi dengan cara mereka sendiri. Soal Tuhan, mungkin kurang menarik bagi anak-anak. Soal iman, apalagi! Mungkin anak-anak menjadikan itu sebagai prioritas kedua. Atau, bisa jadi, iman tidak menjadi prioritas mereka sama sekali. Dalam kondisi seperti ini, orang tua seakan tidak berdaya.

Media digital seharusnya dapat dimanfaatkan keluarga terutama orang tua dalam melaksanakan misi gereja. Di era digital ini, keluarga harus mampu mengolah kemajuan digital untuk mengembangkan iman anak.

Apakah kita juga tetap tabah menghadapi kesulitan atau tantangan hidup seperti itu dan tantangan menggereja di PCGIT? Ataukah kita juga malah mencari pelarian dengan masuk ke dunia maya? Mari kita belajar dan mohon doa Bunda Maria agar kitapun tetap tabah dan percaya akan penyertaan Tuhan seperti Bunda Maria.

 04. Peduli dan Percaya
Kisah Pernikahan di Kana saat Yesus membuat mukjizat-Nya pertama (Yoh 2:1-11). Ketika itu Bunda Maria menghadiri pasta nikah di Kana. Bunda Maria melihat anggur sudah tidak mencukupi lagi, padahal pesta belum selesai. Kalau sampau hal ini terjadi, ini sungguh sangat memalukan bagi yang empunya pesta. Bunda Maria yang sangat peduli dan mengerti segera bertindak, meskipun yang empunya pesta tidak memintanya. Bunda Maria, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yoh 2 : 3-5). Inilah komunikasi iman super tinggi yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang mempunyai ikatan batin sangat hebat yaitu Bunda Maria dan Yesus Sang Putra. Bunda Maria berkata : “ Mereka kehabisan anggur”. di jawab Yesus: “ Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat Ku belum tiba. Secara umum dialog komunikasi ini tidak nyambung. Diperparah dengan tindakan Bunda Maria yang berkata kepada pelayan-pelayan : “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu.” Hebatnya Yesus bertindak dengan  menanggapi secara positip informasi ibunya, dengan mengubah air menjadi anggur terbaik. Bunda Maria sebagai Katalisator .

Kita sebagai umat PCGIT dan umat KAJ dipanggil untuk menghidupi panggilan dan perutusan kita bersama untuk semakin mengasihi, semakin peduli, dan semakin bersaksi di tengah kehidupan kita sehari-hari. Apakah kita juga mempunyai hubungan kasih seperti kasih Bunda Maria dengan kasih Yesus? Apakah kita juga mau peduli seperti Bunda Maria yang mau berbuat kasih tanpa diminta? Misalnya kita gunakan media digital untuk informasi lapangan kerja, menciptakan lapangan kerja bagi saudarasaudara kita yang saat ini tidak atau belum mempunyai pekerjaan, membuat pelatihan kerja dan sebagainya. Saat ini tidak sedikit umat PCGIT yang mengalami keterpurukan dan kesulitan di dalam hidup. Disaat tak ada lagi orang yang membantu, satu-satunya tumpuan dan batu karang yang bisa kita pegang hanyalah Tuhan Yesus Kristus Sang Juruselamat. Sebagaimana teladan bunda Maria, kita berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan. Meskipun doa kita belum tentu langsung dijawab oleh-Nya, kita wajib tetap percaya dan menunggu. Seperti yang dilakukan bunda Maria, walaupun Yesus berkata “ini belum waktunya”, namun Bunda Maria tetap percaya bahwa Yesus akan melakukannya. Kita mungkin akan bertanya-tanya mengapa doa kita belum terjawab, atau kita berpikir mungkinkah Tuhan tak lagi sayang kepada kita. Dalam kondisi seperti ini, sebaiknya kita meneladani sikap bunda Maria, yakni tetap percaya dan setia kepada rencana Tuhan walaupun terkadang rencananya sulit dimengerti dan sulit kita terima dalam kacamata kita sebagai manusia.

05. Mencintai Yesus dan Penolong Abadi
Tidak bisa disangkal sangkal kasih Bunda Maria kepada Yesus dibuktikan sejak mengandung sampai paripurna tugas Yesus di dunia ini. Bunda Maria dengan sepenuh hati melaksanakan tugas keibuannya dengan sepenuh hati tanpa cela. Kitapun putera/i Bunda Maria. (bdk Yoh 19:26-27 “Ibu, inilah anakmu”-“itulah ibumu”) maka kitapun juga dicinta dan ditolong Bunda Maria. Dengan demikian tidak mengherankan kalau perkembangan “Gua Maria” semakin merebak dan selalu ramai dikunjungi umat (tidak hanya umat katolik lo). Mari kita budayakan semangat “Per Mariam ad Jesum”.

Terima kasih & Gbu. 

 

Penulis : Aloysius Haryanto - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa

 

Referensi : Dari berbagai sumber termasuk Bible Learning


Post Terkait

Comments