Bulan Teresa dan Saksi Sejati “5 Roti dan 2 Ikan”

Bulan Teresa
Ada beberapa bulan istimewa yang patut diingat sebagai Bulan Teresa karena mencatat peristiwa penting Pelindung Gereja Ibu Teresa ( Santa Teresa dari Kalkuta). Bulan Agustus menjadi Bulan Kelahiran, tepatnya tanggal 26 Agustus 1910. Bunda Teresa wafat di usia 87 tahun, tepatnya tanggal 5 September 1997. Paus Yohanes Paulus II memberi gelar “Beata” (yang berbahagia) kepada Bunda Teresa pada tanggal 19 Oktober 2003. Beata Teresa dikanonisasi atau diangkat menjadi Orang Kudus dalam Gereja Katolik sebagai Santa Teresa dari Kalkuta pada tanggal 4 September 2016 oleh Paus Fransiskus atas dasar dua mujizat yang terjadi melalui Bunda Teresa, salah satunya adalah mujizat penyembuhan dari kanker seperti yang dialami oleh Monica Besra, seorang perempuan desa di India bagian timur, yang mengklaim sembuh dari kanker setelah berdoa kepada Bunda Teresa (sumber : Mujizat Bunda Teresa, Tempo.Co). Gereja menghormati Sang Orang Kudus ini dan tetap berdoa semoga melalui pengantaraan Santa Teresa, mujizat kesembuhan orang sakit tetap berlangsung dan semangat cinta kasih semakin mengalir melalui banyak orang.

Saksi Sejati “5 Roti dan 2 Ikan”
Kisah Injil Mateus 14:13-21, tentang penggandaan 5 roti dan 2 ikan tidak hanya menjadi sebuah kisah menarik dan tetapi sungguh-sungguh sebuah kisah hidup. Bunda Teresa adalah saksi sejati kabar gembira Yesus itu. Pesan dan warta Injil itu begitu menguasai seluruh diri dan hidup Bunda Teresa untuk mengabdikan seluruh diri dan hidup untuk kemanusiaan banyak orang, teristimewa yang lapar dan haus, miskin dan sekarat. Bunda Teresa membawa semangat cinta kasih kepada orang kecil tanpa diskriminasi.

Suatu malam seorang pria datang ke rumah kami dan memberi tahu saya, “Ada sebuah keluarga dengan delapan anak. Mereka belum makan beberapa hari." Saya membawa beberapa makanan dan pergi. Ketika saya akhirnya datang ke keluarga itu, saya melihat wajah anak-anak kecil itu rusak karena kelaparan. Tidak ada penderitaan atau kesedihan di wajah mereka, hanya rasa sakit yang mendalam karena lapar. Saya memberikan beras kepada ibu tersebut. Dia membagi beras menjadi dua, dan pergi, membawa setengah dari beras. Ketika dia datang kembali, saya bertanya kepadanya, "Kemana kamu pergi?" Dia memberi saya jawaban sederhana ini, “Untuk tetangga saya - mereka lapar juga."

Saya tidak terkejut dia memberi, karena orang miskin benar-benar sangat murah hati. Tetapi saya terkejut bahwa dia tahu mereka lapar. Biasanya, ketika kita menderita, kita begitu fokus pada diri kita sendiri sehingga kita tidak punya waktu untuk itu orang lain. "

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments