Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang tetapi yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang

Pandemik global Covid-19 dengan segala variannya memang belum lenyap. Media publik melaporkan perkembangan itu, mulai dari data yang terjangkit, data meninggal atau yang berhasil disembuhkan. Ada anak pulang dari kegiatan di sekolah setelah di rumah lupa ganti baju, cuci tangan, ternyata sudah membawa virus pada tubuhnya dan akhirnya segenap keluarga terjangkit. Yang pasti, pandemi itu telah membangun kesadaran baru dan kebiasaan hidup baru (new normal life) yang harus tetap menjadi pegangan dan tidak boleh dianggap sepeleh. Kata Yesus, “Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang tetapi yang keluar dari mulut , itulah yang menajiskan orang” (Mat.15:11). Ada beberapa pokok refleksi yang bisa diangkat dari tema kita hari ini.

Kehidupan yang Beradat
Hidup beradat, hidup berbudaya menjadi konsekuensi hidup bersama. Adat-istiadat menjadi budaya hidup bersama. Hidup beradat, hidup berbudaya meliputi nilai-nilai yang dijunjung tinggi semua pihak, norma-norma yang mengikat segenap pemeluknya, kebiasaan-kebiasaan lama yang diwariskan turun-temurun. Maka hidup beradat, hidup berbudaya tidak hanya menyangkut kepentingan individual atau beberapa orang saja (eksklusif) tetapi menyangkut hidup bersama yang lebih luas (inklusif). Kesadaran hidup beradat, hidup berbudaya, menunjukkan bahwa setiap orang memahami norma dan nilai-nilai yang mengikat dalam interaksi sosial yang kreatif dan produktif. Dengan demikian, hidup beradat, hidup berbudaya menjadi kesepakatan bersama segenap masyarakatnya, seperti sopan  santun, cara berbicara dengan orang yang lebih tua, sikap berterima kasih, suka bersyukur, dan lain sebagainya. 

“Lakukanlah hal-hal kecil dengan cinta yang besar”, kata Santa Teresa dari Kalkuta. Inilah “budaya hidup” (life culture, life custom) menjadi lawan dari “budaya mati” (dead culture-custom).  Kita jumpai, kita alami tidak sedikit kebiasaan-kebiasaan buruk (dead culture) yang kita lakukan secara perorangan atau komplotan yang bisa merusak diri sendiri ataupun mengganggu relasi kita dengan orang lain. Ketidak-sopanan, kurang menghargai orang lain, suka membuang sampah sembarangan, suka menunda-nunda waktu, anggap enteng, dan lain sebagainya merupakan hal-hal kecil yang bisa memicu perbuatan besar seperti budaya korupsi, kekerasan terhadap orang lain, main hakim sendiri, merupakan contoh-contoh “budaya mati” yang merongrong diri sendiri maupun merusak hibungan kita dengan orang lain.

Kehidupan yang Bermakna dan Berkesinambungan (sustainable) 
Hidup beradat maupun hidup berbudaya akan menghasilkan kehidupan yang bermakna dan berkesinambungan. Seseorang akan menemukan pijak diri dan hidupnya untuk pertumbuhan diri secara fisik maupun non fisik serta memiliki praktik hidup relasional yang konstruktif dan kontributif kepada orang lain. Sebut saja, kebiasaan baik (life culture) untuk hidup teratur, makan yang sehat maka akan bermakna bagi pertumbuhan fisiknya dan sekaligus membantu yang bersangkutan untuk berbuat lebih kepada orang lain.

Sebaliknya kebiasaan buruk (bad culture) akan merugikan diri sendiri dan menjadi beban bagi orang lain. Bukankah kalau kita sakit (karena ulah sendiri) akan merugikan diri sendiri dan menjadi beban bagi orang lain?

Kebiasaan baik untuk merawat tubuh, seperti fitness, mau tampil baik tentu saja tidak berlebihan dan dinilai egois. Sebaliknya, adalah sesuatu yang negatif bahkan menjadi dosa ketika kita melakukan sesuatu dengan takaran diri sendiri dan mempengaruhi orang lain untuk melakukan hal yang sama, padahal bertentangan dengan kehendak Tuhan (bdk. Dosa Adam dan Hawa, Kej. 3:1-24). Singkatnya, kehidupan beradat dan berbudaya menghasilkan pohon kehidupan yang berkesinambungan, beranak biak, menghasilkan dahan dan ranting serta memberikan buah-buah yang menyegarkan orang banyak. Kata Yesus,  Barang siapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, .... Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup” (Yoh.7:37-39).

Kehidupan ekologis, vertikal dan horizontal Kehidupan beradat dan berbudaya serta berkesinambungan tidak akan membawa kita pada sikap merusak kehidupan ini, termasuk kehidupan dengan alam semesta. Kehidupan yang bermartabat menempatkan kita pada sikap integratif, tidak terpisahkan dengan lyan (others – yang lain) baikvertikal maupun horizontal. Maka kehidupan integratif akan menempatkan manusia pada posisi yang benar, yakni manusia ekologis. Yang dimaksudkan adalah suatu cara berada yang etis (baca: beradat dan berbudaya) sekaligus bermoral (baca: mengikuti nurani dan iman) sehingga mendekatkan kita dengan lyan. Pihak lain diterima sebagai realitas yang tidak bisa tidak harus ada demi kelangsungan hidup baik pribadi maupun bersama. Dimensi vertikal dengan Tuhan, menunjukkan bahwa manusia tidak pernah egois dan arogan seakan hanya karena kuat kuasanya sendiri; sebaliknya dimensi ini menghantarkan kita pada sikap patuh dan takwa dan selalu mengakui kekuasaan Tuhan mengatasi kehebatan manusiawi sendiri. Kita hebat dan bisa sukses karena ada Tuhan Yang Maha Hebat bekerja dalam diri kita, memampukan kita untuk berbuat lebih dan optimal sebagai pemenuhan diri sendiri maupun dalam hidup bersama.

Dimensi horizontal pada gilirannya menjadi implementasi dari apa yang kita yakni dan hayati (dimensi vertikal). Dengan kata lain, intimitas yang rohani akan menjadi Super Power atau Power Point dalam diri kita, menjadi keyakinan kita dan mempengaruhi pikiran serta mendorong kita untuk melakukan sesuatu secara benar dan baik pula.

Mari kita selamatkan hidup dan bumi, rumah kita bersama (Paus Fransiskus, Laudato Si)!

Penulis : Bruno Rumyaru - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments