Beriman Kepada Allah

Kita menjadi anggota Gereja Katolik melalui baptis dan iman kepada Kristus. Iman merupakan karunia dari Tuhan kepada kita. Iman itu merupakan buah kerja Roh Kudus di dalam hati kita, Roh yang menghidupkan dan mengarahkan semua kemampuan manusiawi kita untuk mengakui dan mengalami campur tangan Tuhan di dunia ini serta mengarahkan kita menuju satu tujuan.

Iman memungkinkan kita untuk melihat apa yang tidak kelihatan. Yesus sendiri berfirman (Yoh. 20:29), "Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya". Dengan demikian, sementara mempercayai apa yang kita lihat dan pahami akan mendatangkan manfaat, percaya pada apa yang tidak terlihat dan hanya dipahami secara samar-samar mendatangkan manfaat yang lebih besar.

"Tidak seorang pun melihat Allah", akan tetapi semua orang percaya kepada Allah. Kompendium Katekismus Gereja Katolik mencatat beberapa karakteristik dari iman yang kita miliki, seperti diuraikan berikut :

1. Iman perlu untuk keselamatan.
Persekutuan sempurna bersama Tuhan dalam kebahagiaan kekal di surga itulah keselamatan yang menjadi tujuan hidup kita. Maka kita membutuhkan iman yang membimbing kita menjalani hidup ini. Pokok iman yang sejati itu adalah Tuhan yang dinyatakan dalam Yesus Kristus, sebagai jalan, kebenaran dan hidup kita (Yoh.14:6). Iman merupakan anugerah penglihatan yang memungkinkan kita melihat cahaya itu serta menghantar kita kepada tujuan akhir yakni, keselamatan abadi. Iman didefinisikan sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibr. 11:1).

2. Iman merupakan anugerah, pemberian cuma-cuma.
Tuhan menghendakiada jawaban atas panggilan-Nya. Tuhan tidak memaksakan manusia untuk melakukan aneka kewajiban, sebaliknya mendorong kita dengan kasih karunia-Nya dan memungkinkan kita mengenal kehendak-Nya dalam diri dan hidup kita serta menghidupinya dalam sepak terjang dan karya kita kepada diri sendiri maupun kepada orang banyak di dunia. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan meghasilkan buah….” (Yoh. 15:16-17).

3. Iman merupakan suatu aktivitas manusiawi.
Kehidupan beriman, memampukan kita untuk melakukan hal yang baik dan benar dalam hidup kita. Iman mengajak kita untuk bersyukur di kala berhasil, memperoleh hidup sehat; sekaligus iman yang sama membuat kita tetap bertahan dalam kesulitan, tidak cepat jatuh dalam godaan. “Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, janganlah lemah semangatmu,
karena ada upah bagi usahamu” (Tawarikh 15:7).

4. Iman merupakan sebuah kepastian.
Iman adalah pekerjaan jiwa yang dengannya kita merasa pasti akan keberadaan dan kebenaran dari sesuatu yang tidak ada di depan kita, atau tidak tampak bagi indera manusia. Paulus menyatakan "sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat" (II Kor. 5:7).

5. Iman bekerja melalui cinta kasih.
Kita menjadi pribadi utuh dan sejati melalui tindakan dan karya cinta kasih. Cinta, dengan demikian menjadi tanda dari iman yang aktif dan hidup. Itulah sebabnya mengapa Gereja menjadi persekutuan dalam ikatan cinta sebagai simbol cinta Tuhan kepada manusia. “Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya adalah kasih” (1Kor. 13:13).

6. Iman memungkinkan pertumbuhan terus-menerus.
Hakekat cinta Tuhan adalah Roh-Nya yang membantu kita bertumbuh dan menghasilkan buah-buah kehidupan yang bisa dinikmati banyak orang. ”Tetapi buah Roh ialah kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Gal. 5:22).

7. Iman merupakan pengkinian kehidupan surgawi.
Kita menghayati kehidupan surgawi melalui kehidupan konkrit duniawi. “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” (Mat. 6:19-20).

8. Iman, perjalanan menerjang kegelapan.
Bagi kita, Kristus adalah Juruselamat, Penebus dan Pembebas kita dari jurang kegelapan menuju terang surgawi. Kristus hadir menunjukkan jalan dan makna hidup yang sejati. Kristus merupakan ‘Garam dan Terang Dunia’ (bdk.Mat. 5:13-16). (Sumber: Katekismus Gereja Katolik, 153-165, 179-180, 183-184).

Penulis : Bruno Rumyaru

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments