Bekerja dalam Roh sebagai Komitmen Pergulatan Iman

Dewasa ini bekerja ataupun mencari pekerjaan adalah gampang-gampang susah. Farell Prayoga seorang anak yang masih duduk di kelas Sekolah Dasar, setelah diundang menyanyi di Istana negara, pekerjaannya berubah dari pengamen jalanan di pasar menjadi artis selebriti tingkat atas,bernyanyi dengan para senior dan hampir tiap minggu berada dan tayang di stasiun TV bahkan sampai ke daerah-daerah di undang untuk menyanyi . Farell Prayoga sudah menjelma menjadi sesorang anak yang sangat luar biasa, diundang menyanyi diberbagai tempat atau dikontrak stasiun TV dan menimbulkan serta melahirkan banyak content Youtuber di sekitarnya rumah di kampungnya yang hasil kerjanya dapat menjadikan sumber pemasukan untuk menghidupi keluarga-keluarga mereka.

Pada saat yang sama, ada sopir angkot tradisional dari Bekasi Bulak kapal rute ke Cikarang yang sebelum masa pandemi pekerjaannya menghasilkan jasa upah lumayan untuk mencukupi hidup keluarganya kemudian berubah sebaliknya, dimana penumpang sepi dan sedikit yang mengakibatkan kurang pemasukan setiap harinya untuk mencukupi kebutuhan keluarga mereka. Sopir bus umum jalur/trayek 121 dari terminal Cikarang ke Jakarta yang sebelum pandemi penumpangnya berlimpah kini hanya jalan di pagi dan sore atau malah sama sekali tidak jalan karena perubahan mode transportasi. Banyak penumpang beralih ke transportasi masal dan cepat tentunya seperti kereta, MRT/KRL atau Gojek maupun Grab memakai aplikasi online. Keamanan, kenyamanan serta kecepatan telah merubah budaya pengguna transportasi. Ketidakberdayaan akibat perubahan ini maka tidak mustahil para sopir angkot tradisional mengalami kesulitan, kefrustasian contohnya mobil angkot dari Bulak kapal rute ke Cikarang dan mereka akhirnya melakukan praktik kurang baik seperti menarik ongkos penumpang lebih banyak atau istilah kasarnya “memalak penumpang”, meskipun akhirnya hal tersebut merugikan diri sendiri karena semakin menjauhkan sopir  angkot tradisional tersebut dari kerja dan penumpang serta pelanggan. Ketika hanya satu penumpang dan tujuannya masih cukup jauh, karena sepinya penumpang hitung-hitung rugi biaya bensin lalu penumpang diturunkan di tengah jalan dan terpaksa menunggu cari kendaraan lain untuk sampai tujuan. Gambaran seperti di atas memperlihatkan bagaimana sebenarnya kerja dalam Roh itu merupakan pergulatan iman berhadapan dengan tantangan kehidupan masyarakat nyata masa kini.

M. Volt (2001), dalam bukunya Work in the Spirit: Towards Theology of Work, memberikan gagasan inspiratif bagaimana kita dapat bekerja dalam Roh. Bekerja dalam Roh akan menghasilkan semangat pelayanan yang luar biasa melampaui sekat-sekat dalam masyarakat. Dalam jurnal Pastoral Care Conseling, penulis St. Hall (2004) lebih jauh membagikan pengalaman kerja dalam Roh yang dipraktikkan dalam pelayanan di penjara sehingga merasakan kekuatan ilahi, pengampunan dan kemampuan kontrol diri dari masing-masing orang yang memiliki perjalanan pekerjaan yang berbeda-beda. Kerja dalam Roh membantu melaksanakan komitmen, keterlibatan dan kerja manusia ditempatkan sebagai pusat perhatian kehidupan. PH. Ballard dan J. Pritchard (2020) dalam tulisannya memakai istilah practical theology in action atau dalam bahasa Indonesia “teologi praktis dalam tindakan”.

Menempatkan kegiatan kerja dalam Roh melatih diri kita untuk mengosongkan diri dan membiarkan Roh Kudus menuntun dan memberikan kekuatan dalam melaksanakan pekerjaan setiap hari. Semangat, pengharapan dan iman tetap perlu dijaga melalui elingatau kesadaran. Kepekaan terhadap kehadiran Roh Kudus yang sedang bekerja dalam pikiran dan hati membuat sukacita meskipun harus membanting tulang dalam kerja. Tuhan tidak melupakan setiap orang yang merindukan dan memohon kehadiran Roh-Nya dalam pekerjaan untuk memuliakan kehidupan.

Penulis : Anastasia Bintari Kusumastuti - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments