Allah yang Berbela Rasa dan Murah Hati

Perikop injil Mat 20:1-16 menceritakan Kerajaan Surga dengan perumpamaan pekerja kebun anggur yang sangat menarik. Disitu tokoh tuan rumah yang memiliki kebun anggur keluar mencari orang-orang untuk bekerja di kebun anggurnya. Orang-orang yang dipanggil bekerja pada waktu yang berbeda-beda; ada yang mulai jam 06.00, jam 09.00, jam 12.00, jam 15.00 dan jam 17.00. Mereka menerima upahnya sama dari yang bekerja terakhir sampai yang terdahulu. Satu dinar adalah upah harian normal pekerja (Bdk. Raymon E. Brown, Joseph A. Fitzmeyer, Roland E. Muprhy, 1993: hlm.663).

Pertanyaan menggelitik tentang keadilan, iri hati dan kemurahan hati Allah dimunculkan dari reaksi para pekerja terdahulu. Hal seperti itu bisa juga muncul dalam benak kita juga. Umat beriman diajak untuk ikut merenungkan dan mengalami Allah yang berbela rasa, Allah yang murah hati. Kerajaan sorga tidaklah suasana minimalis sebatas keadilan atau pemenuhan hak-hak yang harus diterima. Bela rasa dan kemurahan hati Allah lebih dari itu selalu melimpah jauh melampaui keadilan.

Kata “keluar (mencari)” sebanyak 5 kali (ayat 3-7) disebut dalam perikop Injil Matius tersebut. Dengan ungkapan sebanyak itu, sepertinya ada hal yang sangat penting yang mau disampaikan. Penginjil mau menyampaikan pesan bahwa di dalam kerajaan sorga, Allah senantiasa keluar mencari mereka yang sedang menderita, berkesusahan atau mengalami cobaan pahitnya kehidupan. Dengan kata lain, ada dinamika belarasa dalam kerajaan sorga.

Ada belarasa abadi yang selalu keluar mencari dan memanggil orang-orang yang kesulitan dan memerlukan. Kiranya dapat menjadi catatan bagi kita umat beriman apabila saat ini juga sedang berkesusahan atau menderita karena terdampak pandemi COVID-19, agar tidak berputus asa karena belarasa Allah selalu mengalir keluar. Tertuju pada yang memerlukan di sudut-sudut jalan kehidupan umat beriman.

Kita perlu berjaga penuh syukur ketika Allah yang berbelarasa keluar memperhatikan, menyapa dan memanggil pada jam dan waktu yang berbeda-beda, untuk terlibat dalam karya-karya di kebun anggur-Nya.

Dengan upah yang sama pada pekerja terakhir dan terdahulu, semua pekerja telah memperoleh upah sesuai dengan kesepakatan yang menjadi haknya. Kemurahan hati Allah ditegaskan dengan ungkapan “Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi orang yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir” (ayat 16). Allah yang murah hati melampaui hak-hak yang diterima. Allah dengan kuasa belas kasih-Nya dapat bermurah hati
kepada siapa saja dan kapan saja.

Sebagai umat beriman seharusnya kita tidak mudah iri hati atas kelimpahan kemurahan hati Allah pada orang-orang yang kadang kita pandang sebelah mata atau karena penampilan fisik luarnya sering banyak dianggap rendah. Di tengah anak-anak muda yang bermain-main sepeda motor trek-trekan sore hari di daerah Deltamas dekat ITSB dan sekitarnya, yang sering dipandang negatif, dapat terjadi atas kemurahan- Nya Tuhan hadir bersama mereka dan menyapa kita umat beriman untuk mengalami kemurahan hati Allah.

Bagi yang mengalami, kemurahan hati Allah merupakan karya ajaib yang tak terlupakan dan menjadi sumber kegembiraan, kekuatan dan semangat dalam berkarya ataupun dalam menjalani kehidupan dengan penuh iman.

Penulis : Andreas Yumarma

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments