Allah Tritunggal adalah Kasih

Pada hari Minggu ini Gereja merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, misteri iman akan kasih Allah dan perwujudannya dalam dunia. Setiap kali berdoa, kita membuat tanda salib “Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus”. Inilah ungkapan iman kita akan Tritunggal Mahakudus atau Trinitas, satu Allah dalam tiga pribadi.

Melalui tulisan ini, kita diajak untuk merenungkan kembali misteri Trinitas. Awalnya, Gereja tidak mengkhususkan hari Minggu pertama setelah Pentakosta untuk merayakan Tritunggal Mahakudus. Iman akan Tritunggal Mahakudus diungkapkan Gereja Perdana dalam Syahadat Para Rasul yang dirumuskan pada abad ke-2 M. Sekitar abad ke-4, Gereja menghadapi ajaran-ajaran sesat (seperti Arius dan Makedonius) yang menolak doktrin Tritunggal Mahakudus, Tritunggal adalah satu hakikat ke-Allah-an dan masing-masing pribadi Ilahi adalah Allah sepenuhnya (KGK 253, 255). Oleh karena itu, para bapa Gereja mengadakan konsili-konsili ekumenis untuk menjaga ajaran iman tersebut. Syahadat Nicea-Konstantinopel atau Syahadat yang panjang merupakan hasil dari Konsili Nikea (tahun 325) dan Konstantinopel (tahun 381).

Selain mengadakan konsili, para uskup merumuskan doa-doa perayaan Ekaristi untuk menghormati Tritunggal Mahakudus. Selama berabad-abad rumusan misa ini digunakan dalam misa mingguan. Barulah pada abad ke-14, Paus Yohanes XXII menetapkan hari Minggu pertama setelah Pentakosta sebagai Pesta Tritunggal Mahakudus. Pada tanggal 24 Juli 1911, Paus Pius XI mengangkat perayaan Tritunggal Mahakudus sebagai hari raya dan diteruskan Gereja sampai
saat ini. Merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus setelah Pentakosta memungkinkan kita untuk merenungkan misteri Ilahi setelah menerima karunia Roh Kudus. Kita tidak pernah dapat sepenuhnya memahami rahasia Allah dengan menggunakan akal budi (KGK 237). Oleh karena itu, kita perlu dibimbing oleh Roh Kudus agar dapat merenungkan relasi antara Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Kehadiran Yesus Kristus di tengah dunia memampukan kita untuk mendalami relasi tiga pribadi Ilahi yang tidak terpisahkan karena melekat satu dalam kodrat Allah (lih. Sunarko, 2017:58). Yesus sendiri berkata bahwa Ia berasal dari Allah, “Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku” (Yoh 8:42). Ia pun mengatakan, “Barang siapa melihat Aku, ia melihat Bapa” (Yoh 14:9). Yesus sendiri menjanjikan Roh Kudus kepada para pengikut-Nya, “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku” (Yoh 15:26).

Kalau kita mengatakan bahwa Allah adalah kasih (bdk. 1 Yoh 4:8), maka mau tidak mau kita memikirkan-Nya sebagai Allah Trinitaris. Misteri Trinitas bukanlah suatu teori tentang Allah, tetapi rangkuman karya keselamatan dari Allah kepada manusia dalam Kristus dan Roh Kudus, “Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus (2 Kor 5:19)...Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita (Rm 5:5)”. Ketiga pribadi Ilahi ini saling menyatu dalam dinamika kasih sejati yang kemudian meluap ke dunia demi keselamatan manusia (lih. Sunarko, 2017:74).

Akhirnya, misteri Trinitas mengingatkan kita tentang relasi kasih yang menyatukan Bapa, Putra, dan Roh Kudus serta berlimpah bagi umat manusia. Relasi Trinitaris tersebut mendorong kita untuk menghayatinya dalam tindakan kasih bagi sesama. Semoga keluarga kita bertumbuh menjadi tanda dan citra persekutuan Bapa dan Putra dalam Roh Kudus (KGK 2205).

Penulis : Fr. Carolus Budhi P

Sumber:
-. Adrianus Sunarko, Allah Tritunggal adalah Kasih (Yogyakarta: Maharsa, 2017);
-. Francis Mershman, "Trinity Sunday" dalam The Catholic Encyclopedia Vol. 15 (1912) dari New Advent: http://www.new advent.org/cathen/15058a.htm;
-. Katekismus Gereja Katolik

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments