Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), hari ketika Allah menyatakan diri-Nya bukan hanya kepada Israel, tetapi kepada seluruh bangsa. Terang keselamatan yang lahir di Betlehem tidak disembunyikan, melainkan dinyatakan bagi dunia. Inilah terang yang dinubuatkan oleh Nabi Yesaya: “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” (Yes 60:1).
1. Terang Tuhan yang Dicari
Injil Matius mengisahkan kedatangan orang-orang majus dari Timur. Mereka bukan orang Yahudi, bukan ahli Taurat, bukan pula bagian dari umat pilihan Israel. Namun mereka mencari kebenaran, dan dalam pencarian itulah mereka melihat sebuah bintang. Bintang itu menjadi tanda bahwa Allah lebih dahulu mencari manusia. Terang Tuhan sudah terbit, bahkan sebelum manusia menyadarinya. Orang majus berani meninggalkan kenyamanan, zona aman, dan kepastian hidup mereka demi mengikuti terang itu.
Renungan bagi kita hari ini:
► Apakah kita masih mau mencari Tuhan dengan sungguh?
► Atau kita merasa sudah cukup “tahu” tentang Tuhan, tetapi tidak lagi mau berjalan mengikuti terang-Nya?
2. Terang yang Ditolak dan Terang yang Disambut
Berbeda dengan orang majus, Raja Herodes dan para ahli Taurat mengetahui Kitab Suci, mengetahui nubuat, bahkan tahu bahwa Mesias akan lahir di Betlehem. Namun mereka tidak bergerak, tidak berangkat, tidak mencari. Herodes justru merasa terancam oleh terang itu. Terang Kristus membuka kegelapan hati: ketakutan, ambisi, dan keinginan berkuasa. Di sinilah kita diajak bercermin. Terang Tuhan memang menghibur, tetapi juga menantang. Terang Tuhan: • Membongkar keegoisan • Mengusik kenyamanan • Memanggil kita untuk berubah Tidak semua orang siap menerima terang, sebab terang menuntut pertobatan.
3. Terang yang Membawa Sukacita Sejati
Ketika orang majus kembali melihat bintang itu, Injil mencatat: “Mereka sangat bersukacita.” (Mat 2:10). Sukacita sejati lahir ketika manusia menemukan Kristus, bukan ketika menemukan harta dunia. Orang majus bersukacita bukan karena emas, kemenyan, dan mur yang mereka bawa, tetapi karena mereka berjumpa dengan Sang Terang itu sendiri. Saudara-saudari terkasih, dunia hari ini penuh dengan cahaya buatan: • Cahaya prestasi • Cahaya kekuasaan • Cahaya popularitas Namun sering kali cahaya-cahaya itu tidak mampu mengusir kegelapan batin. Hanya terang Kristus yang mampu memberi damai sejati.
4. Terang yang Mengubah Arah Hidup
Setelah menyembah Yesus, orang majus pulang ke negerinya melalui jalan lain. Ini bukan sekadar rute berbeda, melainkan simbol hidup yang diperbarui. Siapa pun yang sungguh berjumpa dengan Kristus tidak akan kembali dengan cara hidup yang sama. Terang Tuhan mengubah:
• Cara berpikir
• Cara mengambil keputusan
• Cara memperlakukan sesama Pertanyaannya bagi kita:
► Jalan hidup mana yang perlu diubah setelah kita berjumpa dengan Tuhan?
5. Terang Tuhan Terbit Atasmu
Tema kita hari ini berkata: “Terang Tuhan Terbit Atasmu.” Bukan hanya atas orang majus, bukan hanya atas para kudus, tetapi atas kita semua. Sebagai orang beriman, kita dipanggil bukan hanya menikmati terang, tetapi juga menjadi pembawa terang:
• Terang di dalam keluarga
• Terang di tempat kerja
• Terang di tengah masyarakat yang terluka dan terpecah
Yesus sendiri berkata: “Kamu adalah terang dunia.” Terang itu bukan milik kita, melainkan pantulan dari Kristus yang hidup dalam diri kita. Saudara-saudari terkasih, Hari Raya Penampakan Tuhan mengingatkan kita bahwa:
• Allah hadir bagi semua bangsa
• Terang-Nya tersedia bagi siapa saja yang mau mencari
• Dan terang itu memanggil kita untuk berubah dan bersaksi
Semoga dalam tahun dan perjalanan hidup kita ke depan, kita berani mengikuti terang Tuhan, meskipun jalan itu panjang dan tidak selalu mudah. Dan semoga melalui hidup kita, orang lain pun dapat berkata: “Kami melihat terang Tuhan.” Amin.
Romo Antara, Pr