Percakapan Tentang Bumi, Iman dan Kasih

Langit Surga sore itu tampak tenang. Awan-awan putih mengalir pelan seperti kapas yang disisir rapi. Di sebuah taman yang hijau dan teduh, tiga sosok duduk mengelilingi meja kecil bundar. Di atas meja itu, mengepul tiga cangkir teh hangat. Mereka adalah tiga Paus dari zaman yang berbeda, namun kini duduk dalam satu keabadian yang sama: Paus Yohanes Paulus II, Paus Benediktus XVI, dan Paus Fransiskus.

Paus Fransiskus menghirup tehnya perlahan, lalu tersenyum. “Teh di Surga ini luar biasa,” katanya ringan. “Tidak perlu gula, tapi tetap manis.” Paus Benediktus XVI mengangguk kecil. “Mungkin karena tidak ada dosa keserakahan di sini,” ujarnya sambil tersenyum tipis. Paus Yohanes Paulus II tertawa lembut. “Atau karena akhirnya manusia berhenti menguasai segala sesuatu,” katanya.

Mereka bertiga tertawa. Lalu hening sejenak, sebelum Paus Fransiskus menatap ke kejauhan — ke arah bumi yang tampak kecil dan biru dari Surga. “Kadang aku merenung,” kata Paus Fransiskus, “betapa indahnya dunia ketika pertama kali diciptakan. Kitab Kejadian bilang: sungguh amat baik. Tapi manusia sering lupa bagian itu.” Paus Yohanes Paulus II mengangguk pelan. “Manusia diberi kebebasan,” katanya, “tetapi kebebasan tanpa tanggung jawab selalu berakhir pada penderitaan. Dalam Centesimus Annus, aku sudah menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak terpisah dari krisis moral.” Paus Benediktus XVI tersenyum sambil meletakkan cangkirnya. “Aku pernah mengatakan bahwa alam bukan sekadar bahan mentah. Alam adalah bahasa Allah. Kalau bahasanya dirusak, manusia akan kesulitan mendengar suara-Nya.” Paus Fransiskus terkekeh. “Bahasa Allah yang sering diabaikan, ya. Padahal Tuhan sudah berbicara sejak awal — lewat air, tanah, pohon, dan angin.” Paus Yohanes Paulus II mencondongkan badan sedikit. “Yang membuatku sedih,” katanya lembut, “adalah ketika yang paling menderita selalu mereka yang paling kecil: orang miskin, anak-anak, dan kini… bumi itu sendiri.” “Benar,” sahut Paus Fransiskus. “

Di zamanku, aku sering bilang: bumi sudah seperti orang miskin yang dipukuli dan ditinggalkan di pinggir jalan. Itulah sebabnya aku menulis Laudato Si’. Ini bukan soal lingkungan saja, tapi soal kasih.” Paus Benediktus XVI tersenyum bijak. “Kasih yang kehilangan akarnya dalam iman akan berubah menjadi slogan. Itulah sebabnya ekologi harus selalu berangkat dari iman kepada Allah Pencipta.”

Paus Fransiskus mengangguk cepat. “Setuju. Kalau tidak, orang sibuk menyelamatkan pohon, tapi lupa menyelamatkan hati.” Angin Surga berhembus sejuk. Di kejauhan, terdengar suara burung yang entah dari ciptaan mana. “Aku teringat Bunda Teresa,” kata Paus Yohanes Paulus II tiba-tiba. “Ia tidak pernah bicara soal teori besar, tapi dunia berubah lewat tindakan kecilnya.” Paus Benediktus XVI tersenyum. “Ia memahami teologi kasih dengan sangat sederhana.” Paus Fransiskus tertawa kecil. “Kalau Bunda Teresa ada di sini sekarang, mungkin ia akan berkata: ‘Tidak perlu menyelamatkan seluruh bumi hari ini. Cukup jangan buang sampah sembarangan dengan cinta.’” Ketiganya tertawa lagi. “

Justru di situlah spiritualitas keutuhan ciptaan,” lanjut Paus Fransiskus. “Hal kecil, tapi dilakukan dengan kesadaran bahwa semuanya saling terhubung.” Paus Benediktus XVI kembali bicara, kali ini lebih pelan. “Liturgi mengajarkan kita bahwa Allah memakai unsur ciptaan untuk menyelamatkan manusia. Air, roti, anggur. Bagaimana mungkin kita merayakan Ekaristi, tapi merusak sumbernya?” Paus Yohanes Paulus II mengangguk mantap. “Iman yang sejati selalu melahirkan tanggung jawab. Dari doa menuju tindakan.” “Dari altar,” tambah Paus Fransiskus sambil tersenyum, “ke halaman gereja. Dari gereja ke rumah. Dari rumah ke bumi.” Teh di cangkir mereka hampir habis. Paus Fransiskus berdiri, menatap bumi sekali lagi. “Aku berharap umat di sana mengerti satu hal sederhana,” katanya. “Merawat bumi bukan hobi baru Gereja.

Ini bagian dari iman.” Paus Benediktus XVI mengangguk. “Karena iman tanpa tanggung jawab akan menjadi hampa.” Paus Yohanes Paulus II tersenyum hangat. “Dan kasih tanpa tindakan akan kehilangan maknanya.” Mereka bertiga saling menatap, lalu tersenyum. Di meja kecil itu, tiga cangkir kosong tertinggal. Namun percakapan mereka tentang bumi, iman, dan kasih, tidak berhenti di Surga. Ia bergema hingga ke sebuah paroki di tanah Jawa, di tengah kawasan industri dan perumahan yang sibuk: Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa. Di sana, umat berkumpul setiap Minggu.

Mereka datang dari pabrik, kantor, rumah tangga, dan jalan-jalan yang penuh debu serta kendaraan. Mereka berdoa di dalam gereja yang sama, menerima Ekaristi dari roti dan anggur yang berasal dari bumi yang sama. Seolah Paus Fransiskus kembali berbicara pelan kepada mereka, “Jangan menunggu melakukan hal besar. Mulailah dari lingkunganmu.” Paus Benediktus XVI seakan menambahkan, “Iman yang kalian rayakan akan menjadi nyata bila diwujudkan dalam tanggung jawab.” Dan Paus Yohanes Paulus II seperti meneguhkan, “Kasih akan selalu menemukan jalannya, bila kalian mau melangkah.”

Maka, di Paroki Cikarang Gereja Ibu Teresa, spiritualitas keutuhan ciptaan bukanlah wacana jauh di awangawang. Ia hadir ketika umat menjaga kebersihan lingkungan gereja, mengurangi sampah plastik, menghemat air dan listrik, serta peduli pada sesama yang terdampak kerusakan lingkungan. Di sanalah semangat Bunda Teresa hidup kembali: melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Dari altar ke halaman gereja. Dari halaman gereja ke rumah. Dari rumah ke rumah bersama kita, bumi.

Sumber-sumber :

1. Kitab Suci, Alkitab Katolik, Lembaga Alkitab Indonesia, edisi resmi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

2. Katekismus Gereja Katolik, Libreria Editrice Vaticana, 1992.

3. Paus Yohanes Paulus II, Centesimus Annus (1991), khususnya tentang hubungan krisis moral dan krisis lingkungan

4. Paus Benediktus XVI, Caritas in Veritate (2009), artikel 48–52, tentang perkembangan manusia seutuhnya dan tanggung jawab ekologis

5. Paus Fransiskus, Laudato Si’ (2015), khususnya artikel 1, 10–16, 139, 216 – 221 FB.

Sri Pamungkas

Tim Kontributor Katekese


Post Terkait

Comments