Ya Tuhanku dan Allahku

Selamat Paskah.

Seorang teman Imam berseru: “Ya Tuhanku dan Allahku” sambil mengelus dada melihat realitas hari ini. Secara khusus melihat realitas yang tengah viral saat ini; korupsi tambang timah. Korupsi tambang timah itu merugikan negara 271 triliun. Edannnn tenan. Tersangka suami artis Sandra Dewi, Harvey Moeis dan crazy rich Pantai Indah Kapuk (PIK) Helena Lim dan masih ada 16 orang lain yang diduga terlibat. Sandra Dewi dan Harvey Moeis kabarnya 2016 menikah di Katedral Jakarta lho. Dan diketemukan 97 milyar uang cash di rumah mereka. Konon uang 97 milyar itu bila dijembreng sepanjang Jakarta – Bogor PP (pulang - pergi). Dia sangat prihatin dengan situasi saat ini. Saya tanya mengapa mengatakan demikian. Dia menjawab “supaya Allah terus menyadarkan manusia bahwa tindakannya dapat membinasakan kehidupan”.

Injil yang kita baca pada Minggu ini dari Yohanes 20: 19-31. Tentang kesaksian Tomas. Murid Yesus yang tidak hadir pada penampakan Tuhan hari pertama minggu itu. Entah Tomas kemana saat itu. Mungkin dia sangat sedih, terpukul dan takut (ndhelik di suatu tempat), “Kok Mesias harus menderita dan mati?”. Sama, seperti teman-temannya yang lain, perasaan sedih campuk aduk jadi satu. “…berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena takut pada orang-orang Yahudi…” (Yoh. 20:19). Perasaan-perasaan mereka seakan melunturkan ingatan tentang apa yang pernah dikatakan oleh Yesus ketika bersama dengan mereka. Perasaan menjadi narasumber utama bertindak mereka.

Saudara- saudari, Tomas menurut saya gelisah. Resah karena merasa tidak mendapat penampakan Yesus. Apalagi ketika Murid-murid lain menceritakan bahwa Yesus menampak pada mereka: “Kami telah melihat Tuhan”. Kegelisahan Tomas menjadi emosi berlebih sehingga dia mengatakan: “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tangan ku… sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh. 20:25). Tomas nampak sangat emosional sekali.

Nah, delapan hari kemudian, Tomas ada bersama mereka, dan Yesus kembali hadir. “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engaku tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yoh. 20:27). Tomas menjawab “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:28). Pasti hati Tomas sangat bahagia dan damai karena kehadiran Yesus.

Jelas beda seruan “Ya Tuhanku dan Allahku” antara Tomas dan teman saya. Tomas karna rasa sukacita dan teman saya karna rasa prihatin.

Saya jadi ingat dan dikuatkan oleh homili Romo Kardinal Ignatius Suharyo – dalam Misa Krisma para Imam – membahas Injil Lukas yang banyak menggunakan “Hari Ini”. Bagi Lukas “Hari Ini” mau menyampaikan pesan khusus bahwa hari ini, sekarang dan di sini adalah waktu keselamatan Tuhan. Kita bisa memperdalam lewat pertanyaan mengapa pada hari ini masih banyak terjadi kekerasan. Mengapa masih banyak orang kekurangan gizi. Mengapa ibadah-ibadah semakin meriah tapi hari ini juga terjadi banyak korupsi yang sangat memprihatinkan. Lebih lanjut, Romo Kardinal mengajak – dalam doa-doa kita - untuk mohon rahmat kegelisahan agar kita bisa menemukan kehendak Allah dalam situasi “hari ini”. Rahmat kegelisahan dan prihatin menuntun kita untuk terlibat aktif mencari kehendak Allah; Allah yang selalu memberi keselamatan.

Romo Kardinal mengajak semua umat untuk prihatin terhadap siatuasi saat ini. Prihatin pada persoalan persoalan kemanusiaan yang terjadi saat ini. Dan diharapkan seluruh umat ikut terlibat memikirkan persoalan sosial ini secara mendasar.

“Ya Tuhanku dan Allahku” tidak hanya dalam sukacita tapi juga prihatin terhadap situasi kehidupan yang carut marut. Dan kita diajak bergerak untuk menyelamatkan; agar keselamatan Allah mewujud dalam kehidupan ini.

Penulis : Christoforus Kristiono Puspo, SJ

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments