Workshop Pendamping BIA/BIR KAJ

Sebagai bagian dari Gereja Universal, dalam hal ini Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) berkomitmen semakin menghargai martabat manusia dengan mencegah dan mengupayakan penanganan dan pemulihan korban kekerasan seksual khususnya anak dan dewasa rentan.

Komitmen yang diwujudkan dalam bentuk protokol ini merupakan tanggung jawab atas penghormatan martabat manusia demi menghadirkan Kerajaan Allah, sejalan dengan ARDAS KAJ 2022- 2026. KAJ menjunjung tinggi nilai-nilai ASG demi kesejahteraan bersama (bonum commune), mengupayakan perlindungan terhadap umat beriman dan masyarakat; menjunjung martabat Gereja dan kepercayaan masyarakat; serta menjalankan fungsi Gereja sebagai lembaga keagamaan yang semakin dipercaya.

Oleh sebab itu, KAJ dalam hal ini menyelenggarakan workshop PPADR (Protokol Perlindungan Anak dan Dewasa Rentan) selama 2 hari di LDD Gereja Katedral Jakarta. Kegiatan ini mengundang perwakilan pembina BIA dan BIR seluruh Paroki yang ada di KAJ. Adapun kegiatan ini memiliki tujuan agar pendamping BIA/BIR mampu mengedukasi anak tentang cara menjaga dirinya dan mengenali perlakuan tidak wajar dan mampu menolak, bagaimana pendamping BIA/BIR mampu mengidentifikasi karakteristik anak sebagai korban kekerasan seksual dan diharapkan pembina mampu membuat materi edukasi seksualitas untuk anak.

Setiap sesi dari kegiatan ini dikemas begitu menarik dan berkesan. Ada Kak Eva dan Kak Rosa sebagai MC dari Komisi Kateketik KAJ. Diawali dengan perkenalan dan doa pembuka dari Oma Maria. Satu hal yang seru saat diawal acara dimana Kakak MC membuat satu permainan berjudul BINGO. Dimana kami diminta membentuk kelompok dan didampingi kakak fasilitator dari team 15. Melalui permainan ini, kami diajak untuk semakin mengenal dan memahami kemampuan dari masing-masing orang yang ada dalam kelompok.

Di hari pertama, sesi satu ada materi tentang defenisi protokol dan gambaran gereja yang aman untuk anak serta memastikan gereja Katolik ramah anak dan dewasa rentan. Materi ini dibawakan oleh Kak Mario. Dijelaskan apa itu latarbelakang PPADR dan fenomena kekerasan seksual dalam gereja. Disini kami diminta untuk membentuk kelompok kembali dan menyusun kata mengenai PPADR.

Lanjut sesi kedua ada Kak Emmy yang menjelaskan materi mengenai hak-hak anak dan perlindungannya. Hak anak dan dewasa pada dasarnya adalah sama karena anak dan orang dewasa sama-sama manusia. Ada juga penjelasan mengenai perlindungan anak dengan melakukan upaya untuk mencegah dan merespon dari kekerasan, eksploitasi, perlakuan salah dan penelantaran terhadap anak. Di sesi berikutnya, ada Kak Susi yang membawa materi mengenai peduli dan lindungi sekitar kita. Dijelaskan bahwa anak sekarang tidak hanya menjadi korban, namun bisa juga sebagai pelaku. Jika ada korban kekerasan, apa yang harus dilakukan. Apakah gereja kita sudah ramah anak dan dewasa rentan. Kitalah yang menentukan jawabannya.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB  dan kami mendaraskan doa Malaikat Tuhan. Kemudian makan siang selama 30 menit. Tepat pukul 12.30 WIB, acara dilanjut dengan pembagian kelompok yang dibentuk agar seluruh pembina BIA/BIR yang hadir dapat membuat materi edukasi seksualitas yang sesuai dengan usia anak PAUD, SD 1-3, SD 4-6 dan SMP. Bagaimana kelompok diajak untuk bisa membuat cara (tools) bagaimana menyampaikan pesan edukasi dalam bentuk visualisasi gambar dan suara yang menarik untuk anak. Setelah kumpul kelompok dilanjutkan lagi dengan sesi materi mengenai “teaching boundaries” yang menjelaskan batasan-batasan dan nilai-nilai boundaries saat berelasi dengan orang lain. Selesai sesi materi, kelompok yang tadi sudah terbentuk diminta untuk mera- mu materi-materi yang sudah dijelaskan selama pertemuan satu dan per- temuan dua menjadi modul yang di- gunakan untuk materi kegiatan BIA/ BIR. Seluruh rangkaian acara dan materi di hari pertama sudah dijelaskan dengan baik. Acara ditutup dengan doa dan dilanjutkan keesokan hari yaitu hari kedua.

Di hari kedua ini, seluruh peserta masih bersemangat menerima arahan dan materi dari Kakak-kakak panitia dan perwakilan Tim 15. Disini memasuki sesi ketiga, materi dibawakan oleh Kak Jessica mengenai kekerasan dan pelecehan seksual dalam gereja. Menjelaskan kekerasan fisik yang menyebabkan cedera fisik, bagaimana tips belajar mencintai diri sendiri dan bagaimana mengelola emosi yang timbul, menjelaskan bagaimana contoh pelecehan seksual (memaksa), dan bagaimana munculnya grooming sebagai upaya membangun kepercayaan terhadap korban pelecehan. Lalu melakukan eksploitasi dan manipulasi. Lanjut ke sesi empat ada Dr Shanti yang juga berprofesi sebagai psikolog menjelaskan topik mengenai karakteristik anak korban kekerasan seksual dimana dijelaskan bagaimana membangun komunikasi yang nyaman, mampu mencegah pelanggaran dan selalu waspada, saling mengenal dan tidak boleh membandingkan. Mampu menjelaskan kepada anak mengenai batasan-batasan dalam berelasi. Di sesi keempat ini, Kak Shanti mengajak sharing mengenai perasaan dan dinamika selama pelayanan BIA/BIR dalam gereja.

Waktu menunjukkan pukul 12.00 WIB dan didaraskan doa Malaikat Tuhan. Kemudian dilanjut dengan makan siang. Tepat pukul 12.45 sesi selanjutn ya adalah role play dimana peserta yang telah membentuk kelompok diminta untuk langsung mempraktikkan materi yang telah didiskusikan ke dalam dalam sebuah kegiatan BIA/BIR. Satu per satu kelompok maju dan menjelaskan materi sesuai dengan usia anak. Ada yang berperan sebagai anak dan ada juga yang berperan sebagai pendamping BIR. Semua kelompok menyampaikan materi dengan sangat menarik dan kreatif. Bagaimana agar anak dapat dengan mudah menerima materi edukasi seksualitas ini. Setelah semua kelompok maju, ada review dan peserta kelompok diminta untuk memperbaharui kembali materi yang sudah disampaikan menjadi sebuah modul edukasi.

Tak terasa waktu sudah semakin sore dan kami akhiri pertemuan ini dengan foto bersama dan doa penutup. Semua begitu ceria dan akrab dalam pertemuan ini. Dan diharapkan semua pembina diajak untuk ikut mensosialisasikan kegiatan PPADR di gereja masing-masing dengan membuat modul pelatihan edukasi.

Liputan dan Foto : Theresia Tarigan – BIA PCGIT



Post Terkait

Comments