Teman Seperjalanan

Saudari-saudara terkasih, kita berjumpa kembali dalam renungan minggu Warta Teresa. Melalui bacaan-bacaan yang kita renungkan bersama, kita diingatkan bahwa sebagai orang Katolik harus siap dipanggil untuk menjadi nabi. Menjadi nabi berarti menubuatkan firman Tuhan yang membuat dirinya dan orang lain menjadi lebih baik dan selamat. Itulah yang dialami oleh Nabi Amos, “Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba dan Tuhan berfirman kepadaku: pergilah, bernubuatlah terhadap umatKu Israel” (Am 7:15).

Menurut Rasul Paulus yaitu bahwa “di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya” (Ef 1:4). Menjaga dan memelihara agar diri sendiri dan orang lain tetap kudus adalah suatu perjuangan yang tidak mudah. Banyak godaan duniawi, terutama godaan indera yang membuat kita mudah jatuh ke dalam kesalahan dan dosa. Oleh karena itu, setiap orang Katolik punya misi untuk hidup kudus sehingga “menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya”. Agar bisa menjadi kudus, maka hidup kita hendaknya diisi oleh “firman kebenaran yaitu Injil keselamatanmu”. Injil keselamatan adalah kasih Yesus Kristus yang harus selalu kita sadari dan renungkan. Tanpa merenungkan kasih Tuhan “yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga”, kita bisa salah dalam melangkah, memilih dan memutuskan hal yang hakiki dalam hidup ini.

Yesus tidak ingin kita menjalani misi hidup menuju kekudusan ini sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, “Yesus mengutus para murid-Nya berdua-dua” (Mrk 6:7), sebagai Teman Seperjalanan. Mereka diberi-Nya kuasa Roh Kudus agar bisa menguasai nafsu tak teratur dan mengusir roh jahat. Roh Kudus inilah yang selalu menyadarkan kita bahwa kita ini adalah milik Allah untuk memuji kemuliann-Nya (Ef 1:14).

Dengan diutus berdua-dua, kita memiliki Teman Seperjalanan untuk saling mengingatkan, mendukung dan menyemangati dalam tugas perutusan. Yesus memberi pesan, agar kita “jangan membawa apa-apa dalam perjalanan kecuali tongkat” supaya kita lebih mudah merasakan “berkat rohani” dan penyelenggaraan Tuhan. Selain itu juga kita menjadi lebih fokus dalam menjalankan karya pelayanan kita.

Saudari-saudaraku, marilah melalui Sabda Tuhan yang hari ini kita renungkan bersama, kita diajak untuk menyadari tugas perutusan kita menjadi Teman Seperjalan “memberitakan bahwa orang harus bertobat, mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka”. Amin.

Penulis : Rm. Antara, Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments