Tangguh dalam Iman di Tengah-tengah Penderitaan - Belajar dari spiritualitas Nabi Ayub

Dialog Ayub dengan Allah yang terungkap dalam Kitab Ayub 7:1-4.6-7 merupakan bagian dari spiritualitas Nabi Ayub yang mengungkapkan sikap teguh dan tangguh dalam iman, memahami makna penderitaan, dosa; tipu daya setan terhadap orang saleh, keadilan Tuhan dan kebenaran. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dasar mengenai penderitaan, keberadaan manusia, pertolongan dan pengantaraan Tuhan menjadi inti pokok iman yang terpenuhi dalam perwahyuan diri Yesus.

Yang mengalami penderitaan bukan hanya para penjahat atau pendosa atas hukumannya, tetapi di sini orang saleh beriman seperti Nabi Ayub mengalami juga kedalaman penderitaan dengan kehilangan semua yang dimiliki dan orang-orang yang dikasihinya. Seperti suasana masa pandemi COVID-19, yang mengalami penderitaan terkena virus ini bisa siapa saja termasuk para romo, suster, aktifis, keluarga di lingkungan dan lain sebagainya. Setan menguji ketangguhan iman setiap orang dalam hidupnya.

Tidak mustahil orang saleh dan beriman yang tidak tangguh beriman tergoda untuk protes dan mempertanyakan keadilan, kebenaran dan kuasa Tuhan. Ayub menumbuhkan sikap iman
kepercayaan dengan mempercayakan segala sesuatunya dalam rencana dan kehendak ilahi.

Dalam terang spiritualitas Ayub, umat beriman belajar bahwa hidup kita seperti perjalanan (journey) dari Tuhan sebagai sumber asal usul dan tujuan untuk kembali kepada Tuhan, dengan penuh rasa syukur. "Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!" (Ayub 1:21). Spiritualitas Ayub dalam hal tersebut di atas senada dengan beberapa ungkapan yang ada di masyarakat kita. Dalam masyarakat kita terdapat ungkapan bahwa hidup di dunia ini hanya sementara yaitu “seperti orang berhenti sebentar untuk minum” (bahasa Jawa : mung mampir ngombe) dan segala sesuatu yang ada itu berasal dari Allah dan bergerak menuju Allah sebagai tujuan segala sesuatu yang ada, termasuk keberadaan hidup kita di dunia sebagai orang beriman (dalam bahasa Jawa : sangkan paraning dumadi).

Kita dapat mempraktikkan beberapa hal dari spiritualitas Nabi Ayub di tengah-tengah kehidupan pribadi, keluarga, lingkungan dan paroki. Tidak mustahil kita masing-masing sekarang atau suatu saat harus berhadapan juga dengan penderitaan, cobaan dan keadaan sulit yang menguji keteguhan dan ketangguhan iman kepercayaan kita.

Pertama, sikap berpegang teguh pada iman kepercayaan dengan penuh syukur. Kita memercayakan segala sesuatunya dalam rencana dan kehendak Tuhan. Kita umat beriman berusaha sebaik mungkin melakukan apa yang bisa kita lakukan : mengubah lebih baik dari apa yang bisa dibubah, atau berani menerima peristiwa atau hal-hal yang tidak bisa diubah dengan iman kepercayan penuh syukur kepada Tuhan.

Kedua, sikap lepas bebas terhadap keterikatan barang-barang duniawi. Kita fokus melaksanakan tugas perutusan sebagai umat beriman yang bersama dengan seluruh ciptaan sedang dalam perjalanan (journey) menuju Allah yang menjadi sumber keberadaan dan kebahagiaan setiap ciptaan. Kita bisa melengkapi spiritualitas Nabi Ayub dengan menerapkan spiritualitas Ignatius bahwa “segala sesuatu diciptakan itu untuk memuji dan memuliakan Tuhan atau spiritualitas Fransiskus Asisi yaitu “semangat miskin yang mengandalkanpenuh dan menggantungkan segala sesuatunya pada Tuhan”.

Ketiga, berdialog dan berbicara secara mendalam dengan Tuhan atas aneka perasaan, pengalaman yang dialami sebagaimana Ayub mengungkapkan kedalaman pikiran dan perasaannya yang juga menjadi inspirasi dan spiritualitas dimana kita bisa teguh dan tangguh
dalam beriman ditengah aneka kesulitan, kejadian dan penderitaan. Di sini kita dapat berlatih dan mempraktikkan hidup doa dalam perjumpaan mendalam dengan Tuhan.

Melalui doa-doa dan mempraktikkan spiritualitas Nabi Ayub itulah Tuhan sedang dan terus mendidik dan mendewasakan keimanan kita, sehingga kita memiliki iman kepercayaan yang teguh dan tangguh di tengah penderitaan. Kita tetap bisa mengalami dan merasakan kebahagiaan bersama Tuhan kapanpun entah ketika sakit atau sehat, ketika kita berhasil ataupun ketika mengalami kegagalan maupun penderitaan. Spiritualitas Ayub dapat menjadi inspirasi pegangan kita semua untuk menghayati anugerah iman yang teguh dan tangguh setiap hari khususnya ketika berada di tengah-tengah penderitaan.

Penulis : Andreas Yumarma

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments