Surat Cinta kepada Umat Beriman - Alam Semesta Rumah Kita

Selamat pagi dan salam sejahtera.
Bersama dengan ini, izinkan aku berbagi permenungan dan kerinduan iman dari kedalaman hati dan pikiranku. Aku bukan siapa-siapa dibandingkan seluruh alam ciptaan, ribuan planet, bintang-bintang yang ada di langit dan alam semesta. Aku bagaikan debu kecil yang terdampar di tengah alam semesta dan belantara kehidupan umat beriman.

Pernah diam-diam aku bertanya kepada diri, mengapa aku dilahirkan di bumi tempat kita hidup? Kenapa aku tidak dilahirkan di planet Mars, atau di planet Pluto atau di rembulan yang
indah dipandang? Kenapa aku dilahirkan di keluargaku dengan tradisi keimanan kristiani, sementara tetangga-tentanggaku beragama Kristen Protestan, Hindu dan Islam ? Mengapa pula aku di lahirkan di bumi pertiwi Indonesia? Aku terhenyak, Ketika pertanyaanku menabrak tembok misteri, tanpa adanya jawaban yang aku dapatkan. Lagu Ebiet G. Ade berkumandang dalam hatiku, ”tetapi semua diam …, tetapi semua bisu. Tinggal aku sendiri terpaku menatap langit…..”.

Aku berpaling kepada Kitab Suci. Aku temukan dalam Kitab Kejadian, dunia dan seisinya diciptakan Tuhan. Alam semesta, Firdaus adalah rumah kita. Mereka menyediakan tumbuhan buah-buahan sayuran yang kita makan. Menyediakan biji-bijian yang kita olah menjadi makanan; menyediakan udara yang kita hirup setiap saat. Hatiku terhenti menatap semua ini. Sebagai salah satu ciptaan, aku merasa berhutang budi pada alam dan bumi pertiwi. Dari Kitab Suci aku semakin semangat mengikuti KPKS (Kursus Pendidikan Kitab Suci), di situ jawaban demi jawaban mulai tersingkap meskipun belum dan tidak mungkin semuanya akan terjawab. Sementara aku sendiri masih sibuk dengan hal-hal duniawi dimana aku harus bergulat dengan waktu, kerinduan iman, kerja, kuliah, pelayanan dan aktivitas mencari permenungan dalam kehidupan.

Ketukan pintu mengejutkanku. AKU MELIHAT ke kamar ADA buku yang sangat istimewa: DOCAT Indonesia, apa yang harus saya lakukan? Aku merasa terhenyak dan memandangi buku itu di, aku pun berucap: “Ini bagus di baca.”. Kubiarkan hatiku terus berpetualang dalam hening membaca buku DOCAT, tentang ajaran Gereja dalam bahasa populer. Melanjutkan rasa ingin tahuku, perhatianku terhenti pada tulisan besar di awal buku itu, RENCANA BESAR ALLAH.

Kubiarkan hatiku terus bertanya, adakah rencana besar bagi diriku? Adakah rencana besar Tuhan menciptakan alam semesta tempat aku hidup, yang menjadi rumah, atau bahkan ibu yang menyediakan banyak hal untuk kita. Aku temukan lagi kata kunci dalam buku itu “Dunia
diciptakan bagi kemuliaan Allah”. Tiba-tiba pikiranku melayang pada pesan Paus Fransikus melalui buku dan media sosial yang mengajak untuk belajar pada alam. Bahwa keberadaan alam semesta itu untuk yang lain. Aku diajak perlu belajar lebih beriman melalui alam. Matahari bersinar untuk tumbuhan, untuk yang lain. Tumbuhan keberadaannya juga untuk makanan kita dan ciptaan lainnya.

Hujan yang terus menerus jatuh tak pernah mengeluh membuat pohon bertumbuh dan ikan-ikan hidup. Dari pesan Paus Fransiskus aku biarkan hatiku tertuju pada Doa santo Fransiskus dari Asisi, yang berbunyi: Tuhan jadikanlah aku pembawa damai. Bila terjadi kebencian, Jadikanlah aku pembawa cinta kasih. Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampuan. Bila terjadi perselisihan jadikanlah aku pembawa kerukunan…

Izinkah pula aku share sedikit catatan seorang Pujangga Gereja, Santo Bonaventura, yang dalam bukunya “perjalanan pikiran ke Tuhan” (Itenerirarium ad Deum), menuliskan bahwa seluruh ciptaan alam semesta adalah jejak-jejak yang dapat menuntun kita kepada Tuhan. Melalui bunga yang indah, bau wanginya dan pohon, binatang-binatang bisa manjadi jejakjejak untuk sampai kepada Allah, berjumpa dengan Tuhan hidup. Akhir kata, mari kita jadikan alam semesta sebagai rumah kita, kita cintai kita jaga kelestariannya. Menjaga lingkungan merawat alam merupakan bagian dari wujud iman. Dengan demikian alam menjadi rumah yang sehat dan membahagiakan.

Salam sehat selalu.

Penulis : Tasya

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments