Saudara/i yang dikasihi Tuhan kita Yesus Kristus, saat ini kita memasuki PEKAN SUCI yakni HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN.
Minggu Palma, atau secara resmi disebut Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, adalah hari peringatan dalam liturgi Gereja Kristen terutama Gereja Katolik Roma, yang selalu jatuh pada hari Minggu sebelum Paskah.
Dalam perayaan ini dikenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem dan dielu-elukan oleh orang banyak. Masuknya Yesus Kristus ke kota suci Yerusalem adalah hal yang istimewa sebab hal ini terjadi sebelum sebelum Yesus disiksa, mati, dan bangkit dari kematian. Itulah sebabnya Minggu Palma disebut pembuka pekan suci, yang berfokus pada pekan terakhir Yesus di kota Yerusalem. Dalam liturgi Minggu Palma, umat umumnya mendapatkan daun palma dan ruang gereja dipenuhi ornamen palma, meniru orang banyak yang mengelu-elukan Yesus dengan daun palma.
Daun palma adalah simbol kemenangan. Kristus kerap kali menunjukkan hubungan daun palma sebagai simbol kemenangan atas dosa dan kematian. Lebih jelas lagi, hal itu diasosiasikan dengan kejayaan-Nya memasuki Yerusalem. Pada Minggu Palma, gereja tidak hanya mengenang peristiwa masuknya Yesus ke kota Yerusalem melainkan juga mengenang akan kesengsaraan Yesus. Oleh karena itu, Minggu Palma juga disebut sebagai Minggu Sengsara.
Tema kita pada minggu ini adalah SUNGGUH, IA INI ADALAH ANAK ALLAH. Mat. 21:1-11 Yesus dielu-elukan di Yerusalem adalah tindakan serta ekspresi dari sukacita atau kemenangan. Ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?" Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea. Para murid melakukan apa yang diperintahkan Tuhan dan melihat bagaimana orang-orang memperlakukan Yesus, pertanyaanya apakah para murid mengerti apa yang mereka lalukan dan apa yang dimaksud Yesus? Begitu juga dengan tindakan orang-orang terhadap Yesus?
Untuk menggenapkan apa yang dinubuatkan nabi, Yesus sebenarnya menyampaikan pesan kepada orang banyak yang menyambut-Nya. Ia adalah Mesias tetapi Dia bukanlah Mesias yang sesuai dengan harapan bangsa Israel. Yesus tidak akan memimpin bangsa itu untuk melakukan peperangan dan mengusir penjajah dari tanah Israel. Ia datang untuk memberikan keselamatan kepada manusia dan mendamaikan manusia dengan Allah. Yesus adalah utusan Bapa supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Pada bacaan injil Mat.26:14-27:66 (Panjang) situasi pada bacaan injil ini sangat berbeda dengan situasi pada Bacaan Perarakan Mat.21:1-11(gembira). Disini situasinya sedih (Kisah Sengsara) dan masing- masing tokoh dalam bacaan injil memiliki perannya dalam sengsara Yesus. Dari sekian tokoh tahukah kita siapa yang menyerukan “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah” setelah Yesus mengembuskan napas terakhir? Ternyata pengakuan ini keluar dari mulut satu orang, bukan dari banyak orang, yang tidak disebutkan pula namanya. Siapakah dia?
Tiga Injil (Mat. 27:54; Mrk. 15:39; Luk. 23:47) menuliskan bahwa dia adalah kepala pasukan (Romawi) yang mengeksekusi penyaliban Yesus. Sebagai pimpinan, kepala pasukan Romawi (bukan orang Yahudi) ini bertanggung jawab menunggu proses penyaliban Yesus dari pukul 9 (Mrk. 15:25) dan menderita hebat selama 6 jam hingga kematian-Nya pukul 3 (ay. 34).
Bagaimana mungkin kepala pasukan dapat mengungkapkan kedudukan tinggi dan keberadaan Yesus sebagai Anak Allah? Padahal dia tidak pernah mengenal Yesus sebelumnya dan Yesus sendiri tidak popular saat itu sebab Ia tidak suka menonjolkan diri supaya dikenal oleh banyak orang.
Kalau begitu bagaimana kepala pasukan ini mengenal Yesus? Orang yang lewat di sana menghujat Dia sambil menggelengkan kepala mengatakan, “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!” (Mat. 27:39-40, Mrk. 15:29-30).
Imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olok Yesus, “Orang lain Ia selamatkan tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-nya.” (Mat. 27:41-42; Mrk. 15:31-32; Luk. 23:35).
Bagaimanapun juga kepala pasukan ini tidak terjebak dalam perasaan, dia pasti bertugas secara profesional dan rasional. Setelah mendengarkan komentar dari banyak orang, dia malah percaya dan yakin bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Nah, jadi bagaimana dengan kita? Apakah kita mampu mengatakan SUNGGUH IA INI ADALAH ANAK ALLAH seperti yang dikatakan oleh kepala pasukan dan prajurit dimana Yesus hadir dalam diri saudara saudari kita yang kecil, lemah, miskin, tertindas dan difabel serta berjuang untuk semakin mengasihi, semakin peduli dan semakin bersaksi demi cinta pada Tanah Air dengan melaksanakan nilai-nilai Ajaran Sosial Gereja yakni Kesejahteraan Bersama dalam setiap sendi kehidupan sebagaimana perjalanan Arah Dasar Pastoral (Ardas) Keuskupan Agung Jakarta 2022-2026. Semoga.
Penulis : Sr. Loren, SFMA
Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa