Sukacita dari Pertobatan

Saudara-saudariku yang terkasih, semoga rahmat dan kasih Tuhan selalu menyertai kita semua.

Dalam Sabda Tuhan hari ini menggambarkan relasi antara Allah dengan manusia yang berdosa. Meskipun manusia punya kecenderungan hidup dalam dosa, namun belas kasih dan kerahiman Allah selalu ada untuk umat manusia. Belas kasih dan kerahiman Allah dilukiskan seperti gembala yang berinisiatif meninggalkan Sembilan puluh Sembilan ekor domba di padang gurun dan pergi mencari satu domba yang sesat sampai Ia menemukannya.

Allah juga digambarkan seperti perempuan yang kehilangan satu dari sepuluh dirham yang dimilikinya, lalu menyalakan pelita dan menyapu rumah serta mencarinya dengan cermat sampai ia menemukannya. Allah juga diumpamakan seperti Bapa yang menantikan kembalinya anaknya yang hilang karena dosa.

Lebih dari itu ketiga perumpamaan memberi pesan sama tentang sukacita besar yang dialami karena menemukan mereka yang hilang itu. “Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan” (Luk 15:6). “Bersukacitalah bersama-sama aku, sebab dirhamku yang hilang itu telah kutemukan” (Luk 15:9). “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:32).

Melalui Sabda Tuhan hari ini kita diajak untuk semakin menyadari Allah yang sunggu baik, Ia mencari dan menemukan serta menyambut domba, dirham, dan anak yang hilang serta bersukacita karenanya. Lebih dari itu semua: kepada anak yang hilang, kepada manusia yang berdosa, Allah mempercayakan tugas pelayanan dan perutusan luhur untuk menjadi saksi-Nya.

Kepada Allah seperti itu, sikap seperti apa yang sepantasnya kita lakukan? Kita diajak untuk bersikap jujur sebagai orang berdosa serta bersyukur atas kasih karunia kerahiman yang berlimpah dan hormat bagi Allah. Seperti pengalaman Rasul Paulus, “Kristus datang ke dunia untuk menyelamatkan orang berdosa, dan di antara mereka akulah yang paling berdosa, Yesus menunjukkan seluruh kesabaranNya” (1Tim.1:15-16).

Kadang-kadang kita tergoda untuk mengambil sikap seperti orang-orang  Farisi dan ahli-ahli Taurat yang memandang diri lenih benar dan baik dari orang-orang lain yang berdosa. Kadang pula kita bersikap seperti anak sulung dalam Injil yang marah dan tidak rela ketika adiknya yang berdosa kembali dan dipestakan oleh ayah mereka.

Saudari-saudara yang terkasih, tepatnya tanggal 5 September 2022 ini khususnya Paroki kita merayakan nama Pelindung Ibu Teresa sekaligus memperingati genap 25 tahun Ibu Teresa dari Kalkuta meninggalkan dunia ini. Tentunya apa yang disampaikan Yesus dalam perumpamaan hari ini, Ibu Teresa telah mewujudkannya dalam hidup dan karya pelayanannya selama ia hidup di dunia.

Ibu Teresa yang penuh dengan kasih merawat mereka yang sakit, menderita, miskin dan tersingkirkan agar mereka semua diakhir hidup mereka merasakan kasih dan kebahagiaan bersama Allahnya. Ibu Teresa yang mampu mewujudkan Pribadi Yesus yang hadir dalam diri sesamanya, Bunda yang berani untuk mencintai sampai merasakan sakit dan itu semua ia lakukan dengan perbuatan-perbuatan yang sederhana/kecil, namun dengan CINTA yang besar.

Marilah kita semua juga diutus dan dipanggil seperti teladan Ibu Teresa untuk menjadi rahmat dan berkat di dalam hidup kita masing-masing. Berkat Tuhan melimpah dan doa Ibu Teresa selalu menyertai kita. Amin

Penulis : Rm. Antara. Pr

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments