Spiritualitas Kesabaran dalam Kehidupan Kristiani

Setiap orang pada umumnya pernah mengalami bagaimana kesabaran diuji dalam peristiwa-peristiwa di sudutsudut kehidupan. Ketika seseorang atau kita harus menunggui saudara yang sakit, baik di Rumah Sakit atau di rumah, kita harus sabar dan tabah serta doa menguatkan daya kesabaran. Ketika anak-anak, suami atau isteri kita melakukan hal yang berlawanan dengan ekspektasi atau harapan, kita juga harus bersabar sambil mengelus dada.

Kepada umat di Tesalonika, Santo Paulus juga mengajak untuk berdamai dan bersabar terhadap semua orang (bdk. 1 Tes 5:13-14). Ketua lingkungan yang menjadi ujung tombak di tengahtengah umat kiranya setiap kali juga diuji kesabarannya menghadapi beraneka macam umat dengan berbagai sikap dan perilaku yang unik dan kadang sulit dimengerti. Di situ kesabaran, iman dan semangat pelayanan diuji. Berpaling kepada Yesus memberikan rahmat kekuatan kesabaran tersendiri. Tuhan Yesus di puncak penderitaan-Nya di kayu salib menjadi inspirasi dan keteladanan kesabaran, karena dengan penuh kesabaran Yesus masih mendoakan orang-orang yang menyalibkan “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:24).

Spiritualitas kesabaran mengalir dari kebajikan Injil yakni Iman, Pengharapan dan Kasih. Iman memampukan kita melakukan transformasi diri untuk tidak berfokus pada diri sendiri tetapi kepada Tuhan dan penyelenggaraan ilahi. Egoistik, berorientasi pada kepentingan diri seringkali membuat seseorang mudah lelah kemudian menyalahkan keadaan dan mudah emosi kurang memiliki kesabaran. Iman kepercayaan kepada Tuhan memampukan seseorang menanggung beban kehidupan dengan penuh syukur dan kepasrahan. Pengharapan memberikan ketabahan sehingga kesabaran semakin diperteguh. Kasih menjadi kekuatan motivasi untuk penguasaan diri dalam pelayanan yang sangat penting dalam spiritualitas kesabaran.

Spiritualitas kesabaran mengandaikan upaya untuk mengerti keadaan, orang lain dan motivasi perbuatan seseorang. Kesabaran sering kali menunjukan keteguhan pendirian dan sekaligus kelembutan dalam menerapkan keteguhan hati dan pendirian tersebut.

Dalam bahasa latin ada ungkapan: fortiter in re, suaviter in modo, yang berarti kuat teguh dalam prinsip atau pendirian, lembut dalam cara. Cara lembut dalam implementasi kuatnya pendirian membimbing pada kemampuan kebajikan penguasaan diri.

Melalui penguasaan diri ini, umat beriman bisa makin mendengarkan kehendak Tuhan dan makin berkehendak kuat mengarahkan kehidupan semakin berpadanan dengan kehendak Tuhan. Dengan demikian spiritualitas kesabaran akan memancarkan kedalaman iman, pengharapan dan kasih serta menumbuhkan kebiasaan untuk mampu memiliki penguasaan diri. Semoga spiritualitas kesabaran semakin meneguhkan semangat pelayanan dalam Tuhan, meskipun kita umat beriman harus menghadapi aneka hambatan dan tantangan yang tidak mudah dalam kehidupan. Di situlah umat beriman ditempa dalam spiritualitas kesabaran. Dimuliakan Tuhan dalam aneka peristiwa dan dinamika kehidupan umat beriman.

St. Teresa dari Kalkuta dengan kata-kata bijaknya mengatakan demikian: Sebarkan cinta ke mana pun kamu pergi. Jangan biarkan seorang pun datang kepadamu tanpa pergi dengan lebih bahagia.

Penulis : Anastasia Bintari Kusumastuti - Tim Kontributor Kolom Katakese

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments