Segala Sesuatu Mungkin bagi Allah

Saudari/saudara yang dikasihi oleh Tuhan, dalam renungan Minggu Biasa XXVIII ini, kita mengangkat tema “Segala sesuatu mungkin bagi Allah dari injil Markus. Kita dapat melihat dari teks sebelumnya ada seorang yang berlari-lari menjumpai Yesus dan bertanya tentang apa yang diperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal? Dan Yesus menyuruh untuk menaati segala perintah Allah dan hal itu ternyata telah dilakukannya sejak masa mudanya. Yesus menaruh kasih kepadanya dan menyuruhnya untuk menjual segala miliknya dan memberikannya kepada orang miskin dan kemudian datang mengundangnya agar mengikuti Yesus dalam perjalanannya, tetapi karena hartanya banyak ia pergi dengan sedih. Melihat hal itu Yesus mengatakan alangkah sukarnya orang kaya masuk dalam kerajaan Allah, bahkan lebih mudah seekor unta masuk kedalam lubang jarum daripada orang kaya masuk dalam kerajaan Allah. Mendengar perkataaan Yesus para murid penasaran dan bertanya: “Jika demikian siapa yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan menjawab “bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah”.

Ketika merenungkan tema ini saya mengingat pengalaman seorang ibu yang divonis dokter bahwa dia tidak bisa melahirkan anak karena masalah dibagian rahim, namun dia tidak menyerah dengan terus berdoa dan juga melakukan pengobatan secara tradisional, tetapi karena melihat usahanya seperti sia-sia dan tidak ada harapan, dia meminta kepada suaminya agar memulangkannya kepada keluarganya, karena dalam tradisi orang batak anak adalah yang utama. Tetapi suaminya tidak mendukung keputusannya dan tetap mempertahankan rumah tangga yang telah dibina dan takkan pernah meninggalkannya dan akan selalu mencintainya. Mereka memutuskan pergi kepastoran untuk minta doa dan berkat romo, agar niat dan harapan mereka tercapai. Tidak lama kemudian siistri mulai merasa aneh dengan kesehatannya dan memeriksakan diri kerumah sakit, dan dinyatakan positif hamil, karena tidak percaya dengan hasil yang diterima dan merasa itu tidak mungkin terjadi mereka pergi ke rumah sakit yang berbeda untuk memastikannya dan mendapat hasil yang sama. Satu hal yang dia yakini bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan, bagaimana dengan kita? Apakah kita dengan mudah meninggalkan Yesus saat menghadapi masalah atau kita tetap bertahan dan percaya akan Yesus tentang apa saja, dimana saja dan kapan saja? Dalam kehidupan ini kita sering mengalami hal-hal yang sulit, dan tidak semua yang terjadi seperti yang kita harapkan apalagi dimasa pandemi yang tak kunjung henti ini, masalah yang kita hadapi seperti tiada hentinya, tetapi sebagai orang yang percaya kita seharusnya menjalani hari-hari dengan penuh sukacita, berbagi dalam kasih dan tetap menjadi berkat bagi sesama.

Saudari-saudara yang dikasihi oleh Tuhan ketika kita percaya tidak akan ada yang mustahil, jadi kita tidak perlu kuatir dan takut dengan apa yang kita alami, karena tangan Tuhan senantiasa bekerja untuk kita. Jangan kita seperti orang kaya ini yang tidak mau melepaskan keangkuhan, kesombongan, dan keserakahan. Tetapi mari kita merelakan diri dibentuk oleh Allah menjadi pengikut-Nya yang setia, bijaksana dan berpengharapan teguh serta percaya akan penyelenggaraan Ilahi. Dalam iman yang teguh dan kepercayaan yang total kita akan memperoleh apa yang kita kehendaki seturut kehendak Allah. Amin.

Penulis : Sr. Sisnawati Ginting, SFMA

Gambar : Dokumentasi pribadi Warta Teresa


Post Terkait

Comments